
Berita mengenai anak indigo telah menggemparkan dunia. Seperti air laut yang kapan saja ombaknya menggulung apapun yang ada di sekitar. Tidak ada yang bisa menerka teka-teki pasang surut air laut atau mengetahui keadaan dasar lautan. Tidak ada yang bisa menghentikan ombak air laut atau mengetahui keadaan nyata di dasar lautan. Tidak ada yang bisa menghentikan lara hatinya yang ngilu menyirak kelopak pilu. Rani jatuh pingsan, dia sangat tertekan menghadapi kekacauan di hidupnya. Sudah berjam-jam Rani tertidur.
"Bangunlah Rani."
Cika mengusap dahi Rani yang terus mengeluarkan gumpalan keringat dengan handuk tipis.
"Bara.."
Rani berjalan di sebuah tempat yang sangat gelap dan mencekam dengan lentera miliknya. Dari kejauhan Rani mendengar hiruk riuk pasar bunian. Rani mencari sumber suara dan kembali lagi di pasar bunian. Di tengah hutan yang pernah dia singgahi.
"Tolong nikmati satu mangkuk makanan lezat."
Tawaran yang sama saat Rani pertama kali berjumpa dengannya. Makhluk berambut pirang berkuku tajam masih berjualan tusukan sate bangkai tikus di pasar hantu.
"Tidak terimakasih, Aku sedang mencari temanku."
Rani terus berjalan melewati keramaian. Di bawah pohon tampak seorang anak kecil terduduk menangis bergelinang air mata. Rani tidak menghiraukan tangisannya, baginya penghuni bunian hanya sedang mengganggu. Sepuluh langkah melewatinya, Rani terus berjalan dan langkahnya terhenti menoleh sang anak kecil.
Air mata yang mengalir di pipi anak, genangan berwarna bening seperti air mata manusia.
Rani berjongkok mendekati sang anak.
"Adik kecil, apakah kau sedang tersesat?"
Anak kecil itu mengangguk dan memeluk Rani. Bajunya sangat kotor dan nampak luka di dengkulnya.
"Tangkap dia!"
Bentak makhluk-makhluk berfostur tubuh tinggi membawa kayu runcing menuju Rani dan sang anak kecil.
"Anak itu pilihan kami, dia telah berenang di tempat penghuni makhluk halus bangsa bunian", kata salah satu makhluk yang berfostur tubuh raksasa.
"Jangan kau ganggu cucuku."
"Baiklah, kami serahkan dia kepada mu."
Sang kakek mengangkat tangan kanannya. "Pergilah."
Adegan yang sangat aneh terekam bersemayam di pikiran Rani. Ingin rasanya bola mata Rani berputar mengikuti sumbu poros bumi. Sang kakek tersenyum menggandeng Rani dan anak kecil itu berjalan di tengah hamparan langit tidak bermaya.
"Ini adalah petualangan ku yang hampir membuatku gila."
Perjalanan mereka tiba di tengah pepohonan-pepohonan yang tersusun rapi. Ada sungai hijau menyegarkan pandangan menebar wangi mata air di sekitar.
"Anak kecil, kemarin kau bermain disini bersama teman-teman mu kan? lihatlah di tepi sungai sana, ibumu menangis mencari mu "
Jari telunjuk sang kakek bagai akar tebal yang melengkung mengarah ke seorang wanita yang sedang menangis memanggil namanya.
"Joko!"
Seperti ada pagar pembatas yang menghalangi. Ibu itu tidak bisa melihat.;Rani, sang kakek dan adik kecil yang berdiri beberapa jarak darinya.
"Aneh sekali, ibu itu dan beberapa orang di sekitar yang sedang mencari anak ini tidak bisa melihat kami sekarang berdiri"
"Kakek, kakak. Terimakasih ya Joko pamit pulang."
Joko mencium punggung tangan sosok kakek dan tangan Rani.
"Masuk lah ke dalam sungai agar ibumu bisa melihat mu lagi", tutur sang kakek.
...----------------...
"Rani, kakek tidak bisa mengantarkan mu, akan tetapi benda ini akan menjagamu sepanjang perjalanan."
Sang kakek meletakkan tujuh butir merica hitam ke telapak tangan Rani. Daun kering membawa bayangan sang kakek menghilang dari pandangan Rani.