Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Teror Bulan Merah


Cahaya harapan dari ufuk timur bersinar cerah melewati batas cakrawala. Perjalanan hidup anak pilihan bermata biru di lalui tanpa keluh kesah kepada seluruh penjuru dunia. Hujan badai tadi malam di sudut matanya kemarin ikut di dengar oleh makhluk ghaib. Dia menyimpan rapi semua sendiri tanpa tau di balik setiap lambaian senyum hanya menutup penderitaan semata. Teror demi teror menjadi momok yang mengerikan di hidup Rani.


Udara pagi hari masih terhirup lepas dan memberikan energi positif. Di hari itu walau para makhluk-makhluk tidak kasat mata berebut untuk mendapatkannya tapi dia tetap terjaga oleh keberuntungan. Rani melakukan perjalanan bersama rombongan mahasiswa ojek wisata ke pantai cermin. Selain untuk berwisata menikmati pemandangan alam, mereka juga memanfaatkan Waktu untuk penelitian tugas ilmiah. Kesibukan demi kesibukan mahasiswa yang menguras tenaga, salah satunya adalah kegiatan pelestarian habitat dan ekosistem alam. Rani mengikuti kegiatan Reboisasi atau penanaman kembali hutan yang gundul. Rani menepis gumpalan keringat di dahinya. Tiba-tiba seorang lelaki menjumpai Rani dan menyodorkan sekotak bingkisan kepadanya.


"Hai Rani aku lupa menyampaikan titipan ini."


Sebuah kotak dengan bungkusan kado berwarna merah.


"Terimakasih dari siapa ya?"


"Tidak tau."


Lelaki itu berlari meninggalkan Rani seperti lari seorang kancil yang sangat cepat. Orang yang ragu-ragu tidak akan berpikir jernih. Rani sangat ragu untuk membuka isinya. Dia berjalan menjauhi rombongan Teman-temannya sambil memandangi isi bungkusan tersebut. Rani duduk di bawah pohon dan membuka isinya dan ternyata seekor ayam mati yang sudah berbelatung mengangetkan Rani.


"Arghh"


Rani berlari menuju ke perbukitan dan berhenti. Nafasnya tersengal dan terengah-engah sejenak berhenti memandangi sekitar. Rani memutar badannya dan mengingat-ingat jalan untuk kembali menuju ke rombongan Teman-temannya.


"Haduh, aku tersesat!" batin Rani.


Angin kencang berhembus seolah berbisik berbicara di daun telinga. Rani memejamkan mata dan mencoba bermeditasi agar dapat mencari jawaban jalan keluar untuk kembali.


Banyak makhluk-makhluk halus berdiri menatapnya, Rani membuka mata dan kembali fokus bermeditasi. Rani mencoba menghilangkan rasa takut dan penglihatan yang mengerikan di hadapannya seolah ingin mendekati Rani.


"Aku harus bisa! Tamsi dan bara sedang tidak bersamaku!"


Awan hitam menutup langit yang cerah, kilatan menggores menambah aura negatif di tempat itu, Rani semakin sulit fokus dengan hawa yang tidak baik di sekelilingnya.


"Rani.."


Entah dari mana asal suara yang memanggilnya. Rani membuka matanya dan terlihat Binta hadir menatap tajam.


Binta menaikkan sudut bibirnya dan berjalan mendekati Rani.


"Jangan mendekat!"


Rani berlari menghindari kejaran Binta.


"Arrgh" makhluk berambut putih pendamping Binta berhasil menangkapnya.


"Aargghh, lepas!"


Tangan Rani semakin kuat di cengkram oleh makhluk itu.


"Ahahah, aku tidak perlu menunggu bulan merah kembali! ahahah"


"Hiikss dengarlah Bara! datanglah aku memanggilmu?" jerit Rani.


Tangan kanan Binta memegang leher Rani.


"Arrggh" pekik Rani.


Binta kembali bereaksi, tangan kirinya memegang kening Rani lalu menuju ke arah ubun-ubun seperti sedang menarik sesuatu. Tubuh Rani menggigil kedinginan.


"Bara cepat datanglah aku memanggilmu!" batin Rani.


Angin kencang menggulung. Tangan Rani di tarik oleh seseorang yang memakai jubah hitam membawa Rani pergi meninggalkan Binta. Tidak ada sepatah kata pun yang terucap. Bara mengembalikan Rani menuju rombongan Teman-temannya.


"Bara tunggu, kenapa kau pergi begitu saja?"