Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Lembar berkas bulan merah


Hal-hal yang tidak bisa terpisahkan walau berat dan mengganggu. Aku bisa melihat keberadaan mu, aku dapat mendengar suaramu yang mengerikan. Bahkan di dalam tidur ku juga aku bisa berjalan-jalan ke dunia mu. Akulah anak indigo yang malang.


...----------------...


Perihal pembatalan sekolahnya ke kota bunga indah telah meringis membentuk kebisuan panjang. Setelah selesai makan malam bersama keluarga besar, mereka memesan dua kamar untuk menginap. Malam itu ayah tidur dengan Alfa sementara di kamar lain Rani tidur bersama ibu. Letak ruang kamar mereka yang berhadapan adalah pilihan yang tepat agar ayah dapat memantau.


"Miaww"


"Tamsi bobok sama kak Alfa sini, kucing yang lucu!" seru Alfa.


Dia mengangkat Tamsi menggendong menuju ke dalam kamar dan meletakkannya di sudut kamar beralas kain tebal.


...----------------...


Permisi, kami akan istirahat disini! tolong jangan di ganggu, gumam Rani.


Mata Rani membelalak melihat kehadiran makhluk yang dari tadi melihat mereka. Di malam yang larut, ibu sudah tertidur di samping Rani. Mata Rani belum bisa terpejam juga, dia membayangkan kalau tinggal di asrama pasti semua serba sendiri. Bagaimana wujud makhluk-makhluk di negeri teratai putih pasti sama menyeramkan bukan? pikirnya.


Langkah awalnya hari esok adalah simpang jalan rumah seorang nenek yang pernah menyelamatkannya dari sinar bulan merah.


Baiklah semoga besok semoga aku menemukan jawabannya, batin Rani.


Di negara asing itu masih terdengar suara keramaian pada malam hari. Rani masih tidak bisa memejamkan matanya mendengar suara-suara keramaian orang-orang yang lalu lalang berjalan kaki. Di tambah suasana musik yang keras tanpa mengenal waktu sampai dini hari, nyaris kelopak mata panda Rani timbul bersama terik sinar mentari.


📂TO : Mia


FROM : Rani


Kegiatan hingar bingar di negeri asing membuat hantu-hantu atau makhluk ghaib sepertinya enggan muncul. Atau malah dugaan ku yang salah? Lebih tepatnya makhluk-makhluk itu ikut serta bersama kegiatan-kegiatan kesibukan mereka. Dan akhirnya, rencana kuliah ke negeri bunga indah gagal. Sepertinya di dalam waktu dekat gue akan balik ke negeri hijau.


...----------------...


Pada saat itu siang bolong, Rani menyaksikan kendaraan bunian yang hampir menabrak seorang pria yang sedang berjalan di pinggir jalan.


Brughh.


Hampir saja! batin Rani.


Rani menarik lengan pria tersebut dan secepatnya melepaskan tarikannya.


"Maaf, maaf"


Dia ingin melontarkan jenis kejadian yang hampir di alaminya, namun apakah pria itu percaya?


Pria itu menatap Rani heran, pertanyaan yang ingin dia tanyakan kepada Rani telah terputus dengan sahutan lambaian seorang lelaki dari seberang jalan. Mereka saling melambaikan tangan. Pria di ujung jalan itu mendekati Rani dan kemungkinan yang di tarik Rani adalah temannya.


Seorang pria lelaki paruh baya yang berkulit hitam tersenyum merekah menghampiri mereka. Bola mata Rani yang besar memperhatikan penampilan mereka berdua.


"Tidak ada hantu yang mengikutinya, namun kenapa tadi pria yang satu ini hampir tertabrak kendaraan bunian?" pikir Rani.


Kendaraan makhluk bunian telah hadir di dunia nyata, tepatnya di negeri tirai bambu yang memenuhi lalu lintas jalan. Hanya berdurasi sekitar lima detik. Satu kendaraan beroda dua berbentuk sepeda motor yang menjulang tinggi.


Rani berlalu meninggalkan kedua pria tersebut. Akan tetapi pria yang satunya lagi menghadang jalan Rani.


"Maaf sebelumnya, apakah kau bisa melihat dunia lain?"