Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Alur kematian Geri


"Baiklah penyihir, jelaskan padaku maksudmu akan hal dari kedua pilihan tersebut", kata Rani menggerut alis.


"Ya baiklah, Hal pertama akan kematiannya akan ku cabut jantungnya sebagai jimatmu menghadapi sebangsa ku atau sebaliknya kau biarkan dia mati di depan mu sendiri dengan rasa penyesalan mu yang terdalam" , Tutur si penyihir.


"Wahai penyihir, kedua hal itu tidak ada yang terbaik untukku dan tidak baik pula untuk kehidupan dua dimensi ku, ini sama saja seperti buah semalaka. Aku akan melewati semua takdir dan nasib ini bagai air yang mengalir atau waktu yang berputar sebagai mana biasanya" kata Rani menunduk kepalanya dan menghela nafas panjang.


"Aku tau sisi hitam di sebelah kiri, kamu adalah manusia pemarah dan sangat egois juga suka menindas para makhluk yang mengganggu mu. Sebaliknya sisi putih yang masih sangat jauh untuk kau gapai, karena hari mu di penuhi dengan rasa takut dan gusar."


Rani hanya terdiam mendengar ucapan sang penyihir, lalu dia mengingat-ingat lagi segala kekurangan yang ada dalam dirinya. Dialah seseorang yang suka menyendiri, suka berbincang dengan makhluk tak kasat mata juga kadang menangis akan segala cobaan yang menimpanya.


"Terceloteh akan hal zaman kerajaan dari silsilah keturunan keluarga yang mengalir di aliran darahmu dan segala jenis prasangka buruk di jalan pikiran mu akan hidup yang tak tenang, ingat lagi masa kecilmu. Ingatlah peringatan ku sekali lagi akan kejahatan bulan merah itu melebihi gangguan dari yang biasanya kau alami", kata si penyihir.


Suara angin berhembus kencang dan kabut, debu pasir bercampur menjadi satu.


...----------------...


"Dek. Bangun, Rani!"


kak Alfa berusaha membangun Rani yang masih tertidur di pinggir sungai.


Setelah Rani membuka mata, dia melihat semua orang sudah berkumpul. Ada kak Alfa, kakek, Mia, Aska dan Geri. Baju Rani sangat kotor dan berlumpur, Tamsi di sampingnya juga ikut memandangi sang majikan. Tapi ada hal aneh yang terjadi, sisa bara bakaran api unggun masih ada di dekat Rani. Mereka melanjutkan perjalanan pulang dan membantu Rani berjalan. Sepanjang perjalanan kak Alfa menggerutu dan mengeluarkan sumpah serapah bagi siapapun yang berani menyakiti adik kesayangannya.


"Kakak, Rani tadi malam sama penyihir! ada Tamsi yang jagain Rani", Rani berusaha menenangkan kak Alfa.


Dia terheran dan penasaran akan meluncurkan lebih banyak lagi semua pertanyaannya untuk kak Alfa. Setelah bertemu kakek dan lainnya dari kejauhan mereka melihat kapal yang sedang berlabuh.


Saat mereka berlari mengejar kapal itu. tiba-tiba terdengar suara ketawa yang di dengar oleh Geri.


"Aska, aku lihat baju putih!" jeritan Geri yang berjalan di belakangnya.


"Mana? ah sudahlah siang bolong begini mana ada hantu", kata Aska.


"Geri, elo niat kemari mau apa sebenarnya kok isi ransel kamu semakin penuh?" ujar Mia mencurigai Geri.


"Hanya bebatuan langkah dan bekal saja!" sahut Geri.


Lalu mereka semua berlari mengejar perahu itu namun tiba-tiba.


Brugh.


"Argh, tolong!" jerit Geri.


Geri tersandung dalam jurang dan menumpahkan segala isi ranselnya ke bawah.


"Argh, ampun! pasti ku kembali kan lagi!" jerit Geri sambil terjungkal ke dalam lubang jurang itu untuk yang kedua kalinya.


"Geri!" semua menjerit histeris memanggil namanya.


"Tamsi tolong selamatkan Geri!"