Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Keliru


Rumput basah dari sisa embun pagi menebar kesejukan. Okura memutar buku api di atas meja pintu masuk wilayah bunian. Penyihir itu semakin murka kepada Bara.


"Ternyata dia membalas penghiatanan ku!"


Okura mencari celah jejak tanda kehadiran Rani di balik pepohonan. Sebuah tanda yang tidak di ketahui oleh Bara maupun Tamsi.


"Jadi, apakah kau tidak menyesali perbuatan mu?" Utra meneguk minuman darah segar yang tersusun di atas meja. Dia melempar gelas ke sisi kanannya.


"Kalau saja kau tidak mengobati Bara maka anak itu sudah menjadi milik kita. Aku sudah membayangkan arwahnya akan gentayangan dan menjadi anggota di bunian.


"Tidak semudah yang mau bayangan! walau sebelumnya aku berhasil mencampakkan Bara, di buku ini tertulis_"


"Lanjutkan!" seru Utra.


"Buram sekali aku tidak bisa melihatnya, apa sebenarnya yang sedang terjadi?"


Takdir kehidupan anak indigo yang sedang mereka perebutkan itu tidak sepenuhnya dapat mereka ketahui. Banyak sekali rahasia alam yang bahkan para penyihir bunian tidak mampu membacanya. Jauh sebelum Bara melihat Rani, tersimpan cerita yang sebentar akan kehadiran makhluk dari laut selatan penjaga anggota keluarga pilihan secara turun-temurun. Bara memutar bola api dan menemui penyihir di rumah kucing ghaib. Dia ingin mengambil topinya kembali yang di berikan kepada bubu.


"Kau datang dengan semangat yang berbeda" wanita sihir itu mengaduk air darah di dalam kendi antik. Pandangan Bara mencari-cari letak topi sihirnya.


"Dimana bubu?" tanya bara meninggikan suara.


"Aku sudah tau tujuan mu bukankah tanpa topi itu kau tetap memiliki sihir di dalam tubuh mu?"


wanita itu melipat tangan di depan dada mengendus mendekati Bara.


"Hei! jangan kau hina dia! jika kau menghina sahabatku sama saja kau menghina ku!"


Jeritan Bara menggelegar seperti petir yang siap melibat perbuatan jahat. Dia mengerti sekali keadaan Sahabatnya Rani yang sedang menimbang-nimbang jalan keseimbangan dua dimensi. Bara paham sekali penderitaan yang di rasakan Rani. Niat dahulu yang ingin mengambil kekuatan gadis bermata biru itu kini luntur ibarat sapuan kabut hitam di langit biru. Sudah berjam-jam lamanya wanita penyihir dan Bara merundingkan diskusi tidak berujung. Sampai akhirnya dia belum sempat bertemu Rani.


...----------------...


Kehidupan indigo tidak bisa di pisahkan antara dunia nyata maupun dunia ghaib. Rani sebagai manusia biasa tetap memulai hari-hari sibuk di kampus. Rani adalah salah satu mahasiswa teladan yang berprestasi, dia juga suka mengikuti kegiatan ekstrakurikuler dan mengikuti perlombaan seni lukis antar mahasiswa.


"Kau sedang melamun kan apa?" tanya Mia yang duduk di belakang kursi Rani.


"Apakah kau melihat bulan yang berwarna merah tadi malam?"


"Bu.."


"Halo perhatian anak-anak hari ini saya akan adakan ujian ulangan harian. Barisan sebelah kiri harap keluar dan barisan kanan masuk memulai ujian"


Mia pergi meninggalkan Cika dan berbisik, "Good luck."


...----------------...


Cerita sewaktu Rani berada di Jepang masih menjadi rumor di kalangan penduduk bunian. Terlintas di pandangan mata Rani sosok makhluk yang mirip dengan nenek yang menolong mereka ke negeri bunga indah. Sepotong ice cream bertengger di tangan Rani. Mia dan Cika duduk di bawah pohon rindang di dekat Biro.


"Mia, kau belum menjawab pertanyaan ku tadi"