
Begitu sarapan selesai, Rani berjalan ke pinggir tebing. Dia memandang lautan, merasakan hembusan angin semilir di rambutnya. Rani, melemparkan batu-batu kecil ke arah laut. Deru desir ombak menghantam seolah mengikis perlahan batu karang di lautan.
"Rani .."
Terdengar suara panggilan namanya dari arah laut selatan.
"Ran, Rani"
Panggilan jelas terdengar dari kejauhan, namun Rani tidak tau dari mana asal sumber suara itu.
'Kalau kau berniat jahat untuk mengganggu maka aku tidak takut" , bisik Rani.
Kesaksian terlihat jelas di hadapannya , para makhluk bunian yang berada di bukit dekat laut sedang keluar berhamburan bagai anai-anai yang bertebaran.
"Apakah mereka akan menyakiti ku setelah kejadian kemarin?" batin Rani.
Pikiran kacau balau Rani sedang berperang menepis rasa khawatir. Dari kejauhan terdengar langkah raksasa mengangetkan lamunan Rani .
Makhluk yang pernah di lihatnya di wilayah bunian kini terlihat jelas di dunia nyata. Rani mencari-cari celah bersembunyi dengan pandangan yang siaga.
"Apakah mereka mencari ku?" gumam Rani.
Suara langkah kaki yang perlahan menghilang.
BEBERAPA JAM BERLALU.
"Miaw.."
"Sahabatku, aku bahagia melihat wujud mu seperti semula."
Tamsi mendekati Rani, bekas luka di badannya masih belum sembuh total dan terlihat ngilu di mata Rani. D melangkah menuju si kucing tampan dengan pandangan sedikit remang-remang. Berkali-kali dia masih menekan bagian kepala yang terasa pusing.
"Tamsi, apakah engkau perlu obat di dunia nyata? aku berencana untuk membawamu ke dokter hewan."
Tamsi hanya merespon perkataannya dengan mengelilingi Rani bagia bumi yang mengitari matahari.
"Sahabatku jangan berlebihan menghawatirkan aku, ayo kita pulang."
Rani dan Tamsi menuruni bukit dan mencari tanda-X pilok putih sepanjang jalan yang di tandai Rani saat menaiki bukit. Rintik hujan perlahan membasahi bumi. Bau tanah membasahi alam semesta yang baru tersiram oleh air hujan. Berbeda dengan alam bunian yang banjir di waktu lalu.
"Dek Rani.."
Panggilan kak Alfa dari arah jalan pintas.
Rani membalas senyuman dan meraih payung pelangi dari tangan kak Alfa.
"Maafin Rani kak."
Cubitan kecil kak Alfa mendarat di pipi chubby Rani.
Rani meringis kesakitan dengan wajah cemberut kepada kakaknya.
"Eheheheh" Suara merdu ketawa kak Alfa.
"Kenapa ada Tamsi disini, kucing ini terlihat seperti habis berkelahi ."
"Tidak kak, Tamsi kemarin menyelamatkan ku dari ayam gila kemarin."
"Ahahah, baiklah adikku yang lucu jangan berikan alasan yang tidak tepat pada Kaka."
Kak Alfa membuntuti langkah adiknya dari arah belakang. sepanjang jalan mereka bercengkrama dan bersenda gurau menuju villa.
...----------------...
"Hei! kau tidak akan aku lepaskan."
Gelas Rani pecah terjatuh dari tangannya. Dia sangat kaget dan hendak lari mencari pertolongan. Sesosok makhluk jahat yang selalu menghantui hidup Rani. Angin kencang menumbangkan pohon di dekat villa dan mengenai kabel listrik sehingga menjadi padam.
"ihihihh, kikikik."
Suara makhluk halus bercampur bau busuk bagai lengkingan jeritan tepat di dekat telinga Rani.
"Aku tidak takut!"
Rani meraba dinding dan perlahan berjalan mencari cahaya.
"Kak alfa, ibu.."
Tangan Rani tersentuh oleh benda dingin bagai es di kutub Utara. Rani melepaskannya dan kembali Mencari sesuatu penerangan.
"Tamsi.."
Tangan yang dingin itu masih memegang tangan kanan Rani.
"Siapa yang memegang tanganku dari tadi?"