Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Bangkitnya gadis bermata biru


...Mata batin gadis bermata biru...


Ini adalah penggalan murka Rani yang membara akan penampakan-penampakan yang sangat menggangu jiwanya.Terutama wujud makhluk yang sangat ganas di dua dunia yang berdampingan.


Cahaya bulan tersembunyi berjuta makhluk jahat yang mengincar setiap jiwa yang di tuju.


Dia seperti iblis atau sejenisnya. Apakah ini bunian? Tidak mungkin makhluk bunian bersikap sejahat itu. Terlebih lagi jika kepada Rani karena gadis itu adalah sahabat Bara, penyihir penjaga penduduk bunian. Ya walaupun Utra dan Okura meletakkan sebongkah dendam berselimut gunung Himalaya, akan tetapi jauh di sana mereka masih menunggu kehadiran Bara sang penyihir hebat untuk membantu mereka mengatur keseimbangan penduduk bunian. Kemungkinan Binta adalah kaki tangan bulan merah, atau siapa sebenarnya dia? Misteri tanda tanya ini masih tersembunyi dan tersimpan rapat di dalam teka-teki lorong waktu ghaib. Jujur yang paling jahat di urutan kedua adalah penampakan makhluk yang menyeringai dan Selalu ingin membunuh Rani.


Jahat sekali, makhluk jahat dan gila. Lihat saja wajah anehnya yang menyeringai menertawakan sikap para jiwa yang sudah bisa dia kuasai dengan bisikan kejahatan. Sampai saat ini pada episode lalu, Bara belum bisa menghancurkannya. Bara lebih memilih menghindar dan menyelamatkan Rani. Teringat di episode hutan terlarang saat para penduduk bunian yang terkena bisikan makhluk iblis ini untuk melenyapkan Bara akibat kematian para serigala jadi-jadian. Lebih tepatnya kematian kepala suku serigala jadi-jadian. Amukan Bara tidak terkendali membuat penyihir itu memakan serigala yang pernah menggigit kaki Rani kecil. Bahkan serigala itu tetap mengincar Rani sampai Rani dewasa. Itulah sebabnya Bara membunuhnya. Sungguh ironis dan menegangkan mengingatnya.


Urutan nomor tiga adalah makhluk anak kecil.


Sebenarnya dia tidak sejahat itu. Hanya saja setiap hari dia selalu usil menampakkan wujudnya di hadapan Rani. Makhluk bunian anak kecil ini bersama teman-temannya mengenal Rani pertama kali saat Rani berusia empat tahun. Mereka mengajak Rani kecil berlari dan bermain di bawah jurang dekat pohon bendo letak lokasi rumah lama Rani sebelum Rani pindah di rumah bekas peninggalan rumah Belanda. Rani kecil yang polos belum mengenal perbedaan antara manusia dan makhluk ghaib berbeda dengan Rani yang sudah dewasa membuat makhluk itu marah karena sikap dingin Rani yang tidak mau bermain lagi ke mereka. Entah mengapa sampai sekarang dia suka lebih jahil dan anehnya membuntuti Rani sampai di rumah yang kini Rani dan keluarganya tinggali. Dia suka mengambil permen di dalam tas Rani dan sering menjatuhkan tumpukan boneka-boneka Rani pada jam-jam tertentu. Jika sudah jam dua belas malam suara tawanya terdengar di dapur seolah dia dan teman-temannya bermain dengan piring-piring dan peralatan dapur ibu. Oke disini Antara baik atau jahat.. tapi dia sangat menggangu privasi Rani. Dia juga pernah berjasa dua kali walau harus meminta imbalan permen atau bermain Kepada Rani. Untung saja ketika main petak umpet saat menebus jasanya memberitahu keberadaan Tamsi saat di buang oleh Binta di sungai bunian tidak membuat Rani tersesat ke lorong ghaib.


Topik gagal paham akibat kebingungan Rani menghadapi berbagai makhluk- makhluk ghaib papan bawah yang sangat menyeramkan versi Rani. Semua penampakan ini sangat membingungkan. Banyak sekali misteri yang belum terpecah atau terbelah untuk mengetahui jawaban semua isinya.


...Apakabar Dunia? Hari ini aku kembali membuka kedua mata dengan bisikan beban melewati musibah yang tiada henti. Apakah seharusnya aku menyerah saja? Apakah dunia atau para penghuninya yang begitu kejam?...


Hari kesekian dari hari yang lelah, Rani tersadar setelah sepuluh hari dari koma. Nafasnya sudah kembali normal. Ibu yang sudah tidak sabar merawat jalan anak bungsunya cepat-cepat memberitahu ayah agar mengurus segala administrasi pembayaran rawat inap.


Keluarga Rani membawa Rani dan kak Alfa pulang dengan perasaan bahagia. Do'a ibu telah di Kabulkan oleh Allah yang Maha Kuasa. Kedua anaknya masih bisa berjalan dan kembali menggerakkan tubuhnya dengan sempurna. Ada tangis haru sepanjang perjalanan pulang. Rani masih tertidur di pangkuan ibu sedang Alfa bersender di pundak ibu.


"Ayah, hati-hati setirnya ya"


"Siap bos"


Ayah melirik dari balik kaca mobil. Mereka tiba pada pukul 04:00 WIB. Rani beristirahat di kamar ibu sedang Alfa berada di ruang keluarga. Ayah dan ibu sudah menyiapkan perawat pribadi yang bertugas dari pagi sampai sore hari.


"Nanti malam Rani sama ibu ya, ayah sama Alfa di ruang keluarga"


Ibu menutup pintu kamar.


Perawat akan datang besok, sebelum jarum infus di gantung Rani mencari-cari keberadaan Sahabatnya.


"Tamsi"


Ketukan dari jendela kamar menarik sudut perhatian. Ternyata itu adalah si kucing hitam yang tampan. Dia melompat ke kaki Rani dan menepuk-nepuk pelan.


"Ehehhh, aneh sekali sekarang tidak sesakit yang seperti aku rasakan"


"Sahabatku, kemungkinan beberapa hari lagi kau akan sembuh"


"Benarkah?" Rani menggelengkan kepalanya dan menunjuk ke arah kakinya. "Seharusnya ini di operasi bukan? jalanku saja masih pincang"


Tamsi kembali menepuk nepuk kaki Rani. "Sahabatku jangan membuat aku menangis lagi"


"Ckckck, aku membayangkan apakah Sahabatku menangis mengeluarkan darah hitam seperti penduduk bunian"


"Air mata bening dan tidak berwarna hitam"


Namun si kucing tampan menatap Rani dengan wajah memelas.


"Ya aku sedang merajuk dan bermuara genangan pilu akibat Bulan merah yang mencelakakan ku"


"Tidak untuk menghabisi Sahabatku walaupun tubuhku sebagai gantinya, aku pastikan itu"