Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Pertanda Misteri


Rantai misteri hanya beberapa saja yang bisa terpecahkan, namun ikatannya masih kuat menyambung dari dunia ghaib dan dunia nyata. Dia membawa hari yang terlalu buruk dan semakin menenggelamkan pada duka yang berkepanjangan. Hari buruk datang tidak menusuk bagai pedang yang menyayat hati Rani. Dia sudah mendapatkan gambaran pahit mengenai sahabatnya.


Setelah kepulangan dari negeri bunga indah, mereka merapikan rumah dan saling bergotong royong membersihkan perabot. Rani mendapat bagian menyapu halaman. Di cuaca yang mendung Rani menyapu halaman belakang di temani oleh tamsi. Tamsi terus menerus mengekor dan membuntutinya. Tidak satu langkah Rani yang di tinggalkan si kucing hitam.


Setelah menyapu Rani bersantai di ayunan Belakang rumah. Kali ini Tamsi duduk di pangkuan Rani. Rani memperhatikan badan Tamsi yang sangat lemah. Dia tertidur di pangkuan Rani walau ayunan terus berayun dengan suara-suara gesekan.


"Tamsi, apakah kau sedang sakit?"


Kemarin sebelum pulang dari tempat istimewa dan penuh misteri tersebut, Rani yang mengalami demam tinggi. Anehnya keadaan Rani tiba-tiba membaik di ganti dengan Tamsi yang tampak sakit. Sepertinya Tamsi telah mentransfer energi kepada Rani. Semua itu tidak salah lagi karena ulah bulan merah.


Seorang nenek di belakang rumah memperhatikan mereka berdua dan tersenyum menyeringai.Tuan Thomas juga ikut memperhatikan dengan tatapan tajam. Dia adalah pemilik sah rumah Belanda puluhan tahun lalu yang sekarang di bangun kembali dan tempati keluarga Rani. Setelah pertemuannya lalu pada tuan Thomas, sedikit teka-teki terjawab olehnya. Jika di perhatikan dari arah belakang tubuhnya, tuan Thomas sepertinya adalah pemimpin para barisan penduduk bunian. Sudah lama kejadian tersebut terjadi, Rani yang terkejut masuk menuju pintu dapur sangat terburu-buru sampai kepalanya terbentur.


Sekarang Rani mengamati penduduk bunian di belakang rumah rani di bagian barat daya juga masih ramai terdengar suara-suara aneh di telinga Rani. Kemungkinan pasar masih buka dan tidak tau kapan tutupnya. Bagaimana dengan cerita Fortal hitam? masih saja tertutup dan menghilang. Rani sangat merindukan kehadiran Bara, dia terus saja memandangi jalan menuju wilayah bunian.


Rani menuju ruang keluarga dan meletakkan tamsi di dalam kotak berlapis ambal. Dia teringat surat pembatalan pemindahan kuliahnya yang harus di serahkan ke kampus.


Siang itu sebelum kantor biro tutup, Rani pergi di antar oleh kak Alfa.


"Kakak tunggu Rani di parkiran ya"


"Siap bos"


"Lepas! atau aku teriak!"


"Kau mau buat kekacauan? jika teriak itu hanya akan membuat para pegawai mengintrogasi kita berdua. Walau kau tidak salah namun pasti kita akan menjadi perbincangan hangat di kampus!" Ancam Binta.


Dia menghilang bersama makhluk berambut putih yang selalu memuntahkan darah dari mulutnya.


"Berarti Binta bukan mahasiswa sini! Apakah dia makhluk jelmaan manusia? Akan tetapi kenapa teman-teman bisa melihatnya?"


Kepala Rani terasa sakit, bekas remasan tangan Binta membekas merah di lengannya. Dia harus segera pulang dan mengadukannya pada Tamsi. Rani juga berniat untuk segera mencari Bara.


"Wajah Rani kenapa jadi cemberut?"


"Tidak apa-apa kak"


Sepanjang perjalanan kepala Rani berputar-putar dan masih saja bertanya tentang Binta.


"Dia jelmaan iblis atau makhluk bunian?"