Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Dunia


Ambil hikmah dari setiap kejadian dan jadikanlah sebagai pelajaran hidup.


Hidup di dunia ini bagi anak indigo hanya 30% kebahagiaan dan selebihnya adalah penderitaan


Cahaya bulan merah masih bersemi di mimpi Rani. Malam itu keringat deras bercucuran di bawah alam sadarnya. Sesekali Rani menggelengkan kepala berusaha membuka mata.


"Miaw.."


Tamsi memanggil Rani dari luar kaca jendela.


"Rani, aku pasti akan mendapatkan mu."


Suara mengerikan itu sontak menghentakkan tubuh Rani.


Hshh..hss. Nafas tidak teratur menyesakkan dada. Dia terbangun dan mendapati Tamsi berusaha membuka jendela kamarnya. Rani membuka jendela dan Keluar mendekati Tamsi.


"Aku tidak apa-apa sahabat ku, aku baik-baik saja."


Rani kembali menutup jendela dan meninggalkan Tamsi. Dia berusaha menutupi keadaannya di malam itu. Rani kembali merebahkan tubuhnya dan kembali memejamkan mata.


...----------------...


Pagi yang sibuk dengan segala persiapan kepergian mereka ke negeri tirai bambu.


"Aku harus memberikan bambu kuning ini lagi untuk Cika, walau bagaimanapun dia tetap sepupu ku," batin Rani.


Dia memasukkan benda itu kedalam ransel yang sebelumnya dia bungkus dengan lipatan koran. Perbuatan Cika memang benar-benar sudah keterlaluan. Rani mencoba berbesar hati menerima kembali sepupunya. Di situasi kini, Rani hanya mendikte dirinya sendiri dan berbesar hati.


FLASHBACK


"Rani,bambu kuning ini hangus terbakar setelah aku lempar ke makhluk yang selalu mengganggu ku."


"Syukurlah Kalau begitu, kau baik-baik saja."


Cika duduk di teras dengan Rani sambil menghitung aktivitas lalu lalang para pengendara.


"Aku sangat berterimakasih kepada mu."


Makhluk yang terus saja mengganggu Cika selama di kota bunga indah tidak lain adalah Binta. Dia telah menyusun rencana yang matang untuk memperdaya Cika agar menimbulkan sifat itu terhadap Rani. Itu adalah awal perkara pancingan yang hebat sampai bisa memisahkan Tamsi menuju hutan terlarang.


...----------------...


Notif pesan dari Mia terlihat jelas di layar handphone Rani.


"Hei Rani sahabat anehku! jangan suka membuat ku khawatir lagi! ahahah..satu kosong ya gue kalah!"


Rani tertawa kecil membaca isi pesan dari Mia. Usahanya untuk membuat Mia secepat kilat menjemputnya dari jembatan layang telah sukses.


Tawa kecil Rani hanya berlangsung kira-kira 5 menit saja. Rasa trauma melihat kematian para sahabatnya Geri dan Aska masih membayangi Rani. Album merah lembar demi lembar di buka. Banyak sekali kenangan manis Rani dengan mereka.


"Huffhh.. kalau saja hari itu kami tidak menemukan penduduk bunian!, atau kalau saja Geri tidak mencuri benda dari wilayah bunian!."


Banyak sekali pikiran yang berandai-andai memutarkan memori lama. Rani juga memikirkan Aska yang sebelum meninggal telah menjumpai dirinya.


...----------------...


"Kak Rani main-main yuk."


Praggh.


Lemparan batu kerikil kecil ke jendela kaca Rani.


"Hei! jangan jahat dong!"


Makhluk kecil itu muncul di hadapannya. Dia menangis mengeluarkan air mata berlinangan yang berwarna hitam. Tangannya menarik lengan Rani dan menariknya menuju belakang halaman rumah.


"Aku sangat sibuk, ada apa?"


"Paman Thomas memarahi ku tadi, aku hanya berniat memberitahu bahwa kakak mu tadi. Maka segera aku halangi membalas suara ketukannya dari dinding!"


"Kak Alfa?"


Makhluk kecil itu mengangguk dan menghilang dari pandangan Rani. Dia menuruni tangga dan mencari keberadaan kakaknya.


Tok, tok, tok. "Kak Alfa!"


Pintu kamarnya terkunci, lama sekali Rani menggedor pintu kakaknya namun tidak ada jawaban dari dalam.