Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Tangis Rani


Rani merenung dan masih terisak tangis meratapi kepergian sahabatnya satu persatu.


"Apakah ini semua salahku?"


"Hiks, hiks" (Suara tangis Rani).


Tidak pernah dia merasakan kesedihan seumur hidupnya, tidak pernah juga suara tangisan memecah kegaduhan malam dan membuat para Makhluk di sekitar itu ikut memperhatikan Rani. Tidak ada yang mendekati dan mengganggunya, Para makhluk halus dan makhluk bunian juga hanya ikut berkunjung menoleh ke arahnya saja. Makhluk-makhluk bunian juga mendengar dan menghampiri Rani. Mereka bergerombol dan melihat Rani duduk di tengah malam yang sunyi. Rani duduk di atas atap rumah sambil terisak-isak mengusap genangan di pelupuk mata. Cuaca yang biasa tenang kini bergejolak seperti suasana hatinya dan sepasang manik netra biru muda. Angin berhembus kencang dan di susul oleh rintik hujan yang turun.


"Miaw, miaw" (Tamsi mendekati Rani).


Tamsi duduk di dekat Rani, dia tidak takut dengan air seperti kebanyakan kucing lainnya.


Rani tidak menghiraukan kehadiran Tamsi dan terus membungkuk melawan rasa dukanya itu.


Hujan deras mengguyur kota membasahi Rani dan Tamsi. Rani tidak menghiraukannya, rasa dingin di malam itu tidak sebanding dengan kini segenap perasaan. Tampak dari kejauhan ada yang berjalan sambil memegang payung menuju arah rumah Rani. Laki-laki itu membawa tongkat di tangannya. Dia terus berjalan sampai mendekati depan pintu halaman.


Srek, Brugh. (Suara payung yang di terbang di atas atap rumah)


Lalu laki-laki itu menghilang dengan sekejap mata. Rani memegang payung itu, dia tidak mengerti kenapa para makhluk bunian yang belum di lihatnya begitu baik di malam itu.


Siapa dia? gumam Rani.


Rani meletakkan payung itu dan memandang sekitarnya rumah.


"Aku sangat lelah!" katanya.


Dia merebahkan badan dan tergeletak di atas atap rumah. Tidak ada yang tau keadaan di malam mencengkam. Tamsi menggeser payung yang masih terbentang itu di dekat Rani.


"Tamsi biarkan aku disini sendiri!" kata Rani.


Namun Tamsi tetap berdiri di samping majikannya itu sampai Rani tertidur.


Bruk, Jeder ( suara bantingan pintu rumah).


Rani yang terkejut dan terbangun dari tidurnya, dia menoleh ke arah sekeliling dan dia teringat seharusnya berada di atas atap rumah.


"Kenapa aku disini?"


Namun dia tidak melihat ibu di kamar itu, Rani berjalan dan berhenti di dapur. Dia meraih kertas yang tertempel di pintu kulkas.


NOTE:


Rani ibu pergi belanja sebentar sama kak Alfa ya, kalau sudah bangun jangan lupa minum teh yang ada di ruang makan.


-IBU-


Rani tersenyum dan meletakkannya di atas meja makan. Dia menyeruput secangkir teh itu dan mendengar suara ketukan pintu belakang rumah.


(Bunyi suara ketukan pintu)


Rani mengintip dari lubang sela-sela namun tidak melihat siapapun.


Pasti tetangga yang suka iseng! gumam Rani.


(Bunyi suara pintu terbuka sendiri)


"kakak ayo sudah di tunggu disana, kami sedang ada acara kak!" kata seorang makhluk yang menghampiri Rani.


"Kau sangat mirip seorang nenek yang pernah ku temui bertubuh manusia dan setengah bertubuh hewan ! apa yang ingin kau lakukan pada ku?" cetus Rani.


"Aku tidak ingin berniat jahat, aku hanya disuruh agar kamu hadir di acara kami", makhluk itupun menghilang.


"Apa maksudnya?" gumam Rani.


Rani berjalan ke halaman belakang rumah dan memandangi lubang hitam itu.


_Apakah maksud mereka aku harus masuk kesini?" gumam Rani lagi.


"Rani kemarilah sini sebelah sini!" kata nenek tua itu.


Rani menoleh di samping halaman dan ternyata sana sangat ramai


"Untuk apa mereka mengundang ku?"