Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Darah lembayung


"Kak Alfa buka pintunya!"


Keheningan di dalam kamar Alfa, dia sedang duduk di sudut kamar dengan menekuk kedua kakinya. Suara panggilan Rani jelas dia dengar namun sangat sulit meraih pintu yang di halangi makhluk hitam bertopi panjang.


Tok, tok, tok. "Kak Alfa!"


Rani berlari ke dapur mencari alat perkakas rumah.


Praggh, praggh.


Pukulan demi pukulan mendarat di susul suara dobrakan pintu. Lompatan Tamsi sukses membuka pintu kamar Alfa.


"Memang tenaga wanita tidak itu lemah.. atau aku harus latihan tenaga dalam? ckckck". Pikir Rani.


Kakaknya seperti orang yang sangat ketakutan, Alfa belum sadar bahwa Rani sudah berdiri di depannya. Rani mengguncangkan tubuh Alfa dan menjewer telinga kakaknya. Alfa membisu menatap kosong Rani.


"Kakak!"


Rani berlari mengambil segelas air putih hangat dan mendudukkan Alfa. Dia ingin menangis melihat keadaan kakaknya yang seperti orang linglung. Ayah dan ibunya belum pulang, bagaimana dia hidup tanpa kakaknya? pikiran Rani berputar mencari cara menyadarkan kak Alfa.


"Tamsi, jaga kak Alfa sampai aku kembali"


Rani berlari menuju halaman belakang rumah. Dia sedang mengamati kamar Alfa dari luar. Jejak makhluk tuan Thomas yang menggangu kakaknya tadi nampak basah berlendir berwarna hitam.


"Sebenarnya apa mau mu?" batin Rani.


"Hheeeh, gadis kecil jangan berurusan dengan makhluk itu."


...----------------...


"Buka pintunya Utra, aku mau bertemu dengan Rani."


Utra gelagat acuh membaca buku api tanpa menghiraukan Bara. Sepertinya Bara belum mengetahui niat Okura yang telah bekerjasama dengan Utra untuk mencelakakan Rani jika menginjakkan kaki kembali ke penduduk bunian.


"Aku pernah mencekik mu di hutan terlarang, bukankah itu hal yang menarik?"


"Tidak untuk menyerang musuh saat dia sekarat, kau sangat lemah." Bara mengibas angin dengan jubah hitamnya.


"Apakah kau lupa dengan derajat mu? kau dan Rani tidak mungkin bisa bersama!."


Makhluk paling sempurna di muka bumi ini adalah manusia. Banyak para makhluk ghaib yang menginginkan kesempurnaan dari manusia. Mereka menginginkan jiwa-jiwa murni Manusia untuk di kuasai. Hanya segelintir makhluk ghaib yang mempunyai belas kasih tanpa ingin mengganggu alam manusia. Tidak untuk Bara, dia telah menerima banyak hal pelajaran berharga dari Rani. Keinginan ribuan tahun lalu untuk mengambil jiwa anak indigo telah sirna seiring berjalannya waktu yang di lalui setelah kelahiran Rani.


Bara sang penyihir terhebat wilayah bunian telah mengalami fase kehancuran jika terus menerus ingin mengubah takdir. Persahabatan manusia dan makhluk ghaib tidak mungkin untuk bersatu, bersama dan menjalani hari adalah kemustahilan yang di luar batas penalaran. Pintu fortal hitam di halaman rumah Rani telah tertutup setelah tragedi di hutan terlarang. Rani tidak bisa menembus lagi pintu itu, hanya makhluk ghaib yang bisa keluar masuk di saat senja tiba.


"Kau mau memporak porandakan wilayah bunian ini lagi? apa kematian para serigala yang telah kau bunuh itu belum cukup?"


Okura datang dari balik pohon menatap Bara.


Senyum menyeringai berlapis gigi-gigi taring seolah ingin mencabik mencari mangsa.


"Jangan halangi kemauanku! apa kau bilang tadi? Rani akan selalu ku jaga walau dari kejauhan sekalipun! Mengenai para serigala jadi-jadian itu? sisanya tinggal lima ekor, mereka masih bisa berkembang biak lagi! enyahlah.."


Bara meninggalkan Utra dan Okura mencari jejak Rani di alam nyata.