
Rasa jengkel di hati kepada Mia semakin menjadi-jadi saat mengetahui bahwa dia memberitahu Nara bahwa ada tembusan dunia lain di Belakang rumah Rani. Dengan langkah kesal, Rani berjalan bersama Mia dan Nara menuju arah wilayah bunian. Sore itu batin Rani terguncang hebat & jantungnya berdetak kencang. Pemandangan di sore hari menjadi suatu pemandangan yang aneh dan ajaib.
"Mengapa Nara bisa masuk dengan mudah ke alam lain? Apakah dia juga mempunyai mata batin seperti lainnya? atau.."
Ibarat sedia payung sebelum hujan, Rani kali ini tidak mau tertipu lagi oleh Nara. Dia tidak ikut masuk ke wilayah bunian. Langkah kaki Rani berjalan mundur dan berbalik menjauh.
"Sekali lagi, gue nggak ngerti dengan jalan pikiran kamu Mi."
"Janganlah seperti itu, hanya saja karena Nara hanya ingin tau saja."
"Ada apa denganmu? apakah kau sedang kerasukan?" Rani melangkah lebih dekat ke arah Mia.
"Tidak, tidak akan! jangan berlebihan seperti itu."
Sudah satu jam Mia dan Rani menunggu Nara. Mereka duduk di ayunan dekat pohon bersama Tamsi yang terus saja memperhatikan Mia.
Setelah Nara kembali dari sana, Rani tidak ingin tau dan bertanya apapun. Dia hanya memilih diam dan tidak ingin Nara berlama-lama di hadapannya.
"Terimakasih Rani, kami pulang ya."
...----------------...
Di dalam gelapnya malam aku seharusnya tidak perlu takut sendirian, karena bahkan bayanganmu sendiri akan meninggalkan mu saat cahaya rembulan tertutup oleh awan.
Lentera Rani tersembunyi di dalam pasir waktu dan kembali muncul saat Rani menembus dunia lain. Malam yang gelap ini, lentera itu tidak seterang biasanya.
"Rani, bantu kami memasak daun ini."
Penduduk bunian, para makhluk bunian sepertinya sedang melakukan acara besar.
"Lalu apa yang sedang aku lakukan disini?", batin Rani.
"Aku tidak lihai memasak sesuai keinginan mu."
"Jangan bantah atau acara ini tidak akan berjalan secepatnya."
Tidak ada tunggu perapian atau kompor, Rani melihat sebuah meja yang terbuat dari semen menyalakan api yang berkobar dan menyala.
"Aneh sekali, daun ini tidak mirip sama sekali dengan dedaunan di dunia nyata! Jadi,daun ini aku masak dengan apa?"
"Sudah hampir terlambat, sebaiknya kau pulang saja."
Sosok makhluk wanita tua menunjuk pintu besar kepada Rani.
...----------------...
Sepanjang jalan Rani menuju pulang, dia melihat mayat-mayat bergeletakan di jalan lintas raya.
"Kenapa banyak sekali mayat disini?"
Rani membuka mata dan menatap di sekeliling kamar. "Rani bangun! ada tamu."
Terdengar suara kak Alfa dari balik pintu.
Jarum jam menunjukkan pukul 08:00 WIB. Tidur Rani sangat nyenyak dari sore tadi. Di ruang tamu, Rani melihat seorang pria yang pernah dia temui bersama keluarganya di kota bunga indah.
"Rani, ayo duduk di dekat ibu."
Tamsi mengikuti langkah Rani dan duduk di bawah kakinya. Kucing hitam itu menatap tamu misterius seperti patung. Kedatangan mereka sampai kesini membuat keanehan yang timbul di dalam benak Rani. Dia adalah pria yang hampir di tabrak oleh kendaraan ghaib.
"Tentara militer yang aneh, air muka yang selalu tersenyum walau aku tidak membalas senyumannya. Ckckckk, kenapa dia sampai kesini?"