
Untuk yang kesekian kali bahwa Rani di selamatkan Tamsi. Dia tersadar terbangun di antara bebatuan sungai. Percikan air yang terdengar, Rani melihat sesosok makhluk yang dia selamat kan tadi. Pandangan tertuju pada Rani dan tamsi.
"Terimakasih Kamu anak indigo. Sebangsaku akan selalu mengingat kebaikanmu.
Dan ingatlah akan ada masanya Ratu Putri hijau akan menjemput mu dan aku bisa bertemu dengan mu lagi, terimalah sebutir mutiara ini sebagai tanda terimakasih ku", kata putri duyung sambil menyodorkannya ke Rani.
Tampak terlihat jelas bentuk tangannya yang bersisik berbentuk mirip jari jemari manusia dan badannya sedikit berlendir.
"Terimakasih, namun aku ikhlas menolongku tanpa harus mendapatkan imbalan apapun wahai putri duyung", sahut Rani.
Rani membalas tatapan putri duyung dengan sedikit gemetar.Terlalu lama dia masuk di dalam air dan beruntung nya dia masih bisa menghirup udara segar lagi. Badan Rani basah kuyup di dekat danau itu dan juga badan Tamsi yang duduk basah di dekat Rani. Walau terlihat seperti kucing magic dan mempunyai kekuatan khusus namun tetap saja dia kucing yang utuh seperti kucing lainnya karena tubuh kucing mempunyai sembilan nyawa. Putri duyung masuk kembali ke dalam air, lalu Rani memasukkan kepalanya ke dalam air pula sambil menamatkan lagi bentuk putri duyung siluman. Dia melangkah mencari kak Alfa dan lainnya. Suasana di hutan hari itu tidak mendukung untuk bisa melewati kabut tebal.
"Apa yang harus aku lakukan? Bagaimana aku bisa menyusuri hutan ini? bahkan lentera petualangan ku saja tertinggal di tenda! gumamnya kembali."
Dia melihat dari kejauhan ada seseorang yang berdiri, sekujur tubuhnya merinding. Pori-pori membesar melawan rasa antara merinding ketakutan dan merinding kedinginan.
"Oh ibuku, Ibu. Rani kangen rumah. Namun, siapa yang berdiri? Perlahan semakin mendekat dan sangat dekat."
Dengan langkah berjalan Rani mundur ke belakang sambil menggendong kucing.
"Pergilah kau!" jerit Rani.
Wanita itu semakin mendekati dia sampai Rani hampir terjatuh.
"Aku adalah pengantin penghuni sungai ini", kata sang wanita.
"ijinkanlah aku menumpang lewat wahai penghuni sungai"
"Ratu hutan sudah memberi ijin duluan atas kehadiran kau. Bawalah lampu yang di berikan temanku itu dan pergilah", kata sosok makhluk sambil kembali ke sungai.
"Lentera akan menghilang sendiri saat kau tiba" jawab sang makhluk.
Sosok wanita Langsung menghilang dan Rani secepatnya meraih benda itu lalu berjalan mencari gerombolan.
"Kakak semuanya!"
Suaranya mulai serak dan langkahnya semakin perlahan-lahan. Dia tidak takut karena ada Tamsi. Namun dia begitu gusar akan dirinya jika menemukan makhluk lain.
"Tanah pun bergetar, suara apa itu? Seperti suara langkah kaki raksasa."
Tamsi hanya diam dan Rani menoleh ke atas.
"Itu adalah raksasa Tamsi, ayo kita mencari persembunyian!" kata Rani.
Rani berlari sekencang mungkin dan mencari semak-semak yang di penuhi rerumputan dan ilalang yang sangat lebat.
"Aku harus bersembunyi agar tidak di lihatnya dan jangan sampai memijak tanah oleh kaki besarnya. Kenapa penduduk bunian berwujud raksasa ada disini?" semua pertanyaan demi pertanyaan tersirat berkecamuk di batin.
Beberapa menit kemudian raksasa itu menghilang bersama pepohonan yang tumbang akibat pijakannya. Saat Rani masih bersembunyi di antar semak itu, dia mendengar suara kaki-kaki kuda yang berlari kencang.
"Tamsi lihat, Ada orang yang mengendarai kudanya! ayo kita menumpang!"
Sambil menunjuk ke arah itu saat jarak mereka hampir dekat Rani tidak melihat sepasang mata sang supir itu sedikit pun, hanya badannya saja yang mengendarai kuda. Tetapi ada seorang penumpang yang melihat mengejar mereka. Namun Rani malah ikut berlari ke arah kuda-kuda itu sampai dia hampir tertinggal.
"Dia tiba di sebuah tempat yang sepertinya ada kehidupan disana. Apakah aku sudah ada di kota atau tempat gaib lagi?"