Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Tanda jalan perpisahan


"Akhirnya kau kembali ke wujud aslimu wahai kucing tampan."


Bara mendekati Tamsi dan tersenyum memandang.


Rani terperangah kacau akan kehadiran si kucing hitam dengan wujud aslinya, biasanya Rani hanya melihat dengan wujud samar-samar dengan ciri khas jubah dan pedang di samping tangan kanan.


"Tamsi, apa kau bisa mendengar ku?" tanya Rani.


Tamsi mendekati Rani dan menundukkan kepalanya, "Aku tetap kucingmu sedia kala dan aku akan menjaga mu sampai aku mati"


Bara mengelus rambut Tamsi sambil tersenyum. Dia menarik Tamsi ke arah jendela, dia tidak seperti makhluk sebelumnya yang kebanyakan takut akan sinar matahari.


"Alangkah beruntung kau Rani, dia tidak seperti makhluk lain yang ingin memanfaatkan mu saja, ahahah" tawa bara sambil terus memegangi Tamsi.


"Baiklah bara lepaskanlah Tamsi, dia terlihat sangat risih. Hari ini adalah hari pertama kalinya kami bertatap muka, ayo kita tiga berjalan-jalan ke pantai, karena kucingku sudah utuh berubah wujud jadi tolong kalian berdua beri aku privasi. Jangan sembarangan masuk ke kamar ku!" tegas Rani dengan ayunan jari telunjuk.


"Aku senang, bisa bersahabat denganmu Rani, tapi aku ingin menyatukan kekuatanku padamu"


Bara begitu bersikeras ingin mendapatkan kekuatan Rani. Seolah dia melupakan lupa dengan perkataan Rani akan tolakan yang pernah terlontarkan dari Rani.


"Aku sedang tidak ingin membahasnya, Bara lihatlah perbukitan di antara gunung dekat pantai. Kenapa ada makhluk bunian yang tinggal disana?" tanya Rani.


Rani melihat makhluk bunian keluar masuk dari tempat itu dan mengadakan pasar ramai yang pernah dia lihat masuki.


Lambaian Makhluk itu ke arah Rani dan Rani juga membalas lambaiannya sambil tersenyum.


"Bagaimana pendapatmu tentang mereka bara?" kata Rani.


Tamsi hanya diam mendengar dialog mereka. Dia hanya mengikuti Rani dari belakang sambil berjaga dengan tatapan tajam.


"Aku melihat dari bola kristal, ada banyak makhluk lain kehidupan di dunia ini. Mereka bergerombol menempati ruang , pepohonan dan tempat-tempat yang menurut mereka nyaman. Setelah renkarnasi ku dari manusia menjadi wujud bunian ,aku belajarnya banyak dari kehidupan ini Rani dan__" Bara tiba-tiba memutuskan pembicaraan.


Seolah dia ingin lebih banyak lagi mengatakan sesuatu kepada Rani. Mata bara berkaca-kaca dan meneteskan air. Itu adalah air mata pertama bara yang di lihat Rani. Air yang menetes di pipinya berwana hitam. Rani mengusapkan sapu tangannya ke pipi Bara.


"Aku rasa benda ini harus menjadi milikmu bara!" ucap Rani.


Bara tersenyum menerima pemberian Rani dan menjawab, " Sesuai ramalan itu, sapu tangan ini adalah tanda perpisahan kita ! setelah kau menemukan jasadku maka aku akan berpulang dengan tenang. Darimu aku belajar bahwa kekuatan itu tidaklah abadi kecuali hati yang tulus. Inilah pilihan ku, aku memilih pergi dengan tenang setelah kau menemukan kerangka tulang ku atau aku tetap menjadi penyihir hebat dari bangsa makhluk bunian." Rani memeluk Bara dengan erat, dia tau bahwa jauh di dalam dasar tubuh bara masih ada hati nurani sebagai manusia.


"Aku secepatnya akan menemukan jasad mu. Tamsi yang akan menjagaku setelah kepulangan mu", kata Rani sambil tersenyum.


Seketika Rani menoleh ke arah lepas pantai, kembali dia mendengar suara krincing yang sama saat dia melihat penghuni pantai itu. Rani berjalan mendekati pantai dan bunyi krincing semakin jelas terdengar di telinga.


Petualangan apa lagi yang akan di mulai?