
Tamsi melihat wajah pucat Rani yang sudah tertidur pulas dengan jarum infus yang menggantung di tangan. Kucing hitam yang begitu setia sampai kematian yang kapan saja menjemputnya.
Apakah kita akan selalu bersama sahabat ku? gumam si kucing tampan menuju wilayah bunian.
"Sejak kapan kau melupakan asal mu? sebentar lagi kau akan meninggalkan gadis kecil itu."
Utra meneguk segelas darah dengan melipat kedua kakinya. Dia selalu mengingatkan sinyal pertanda buku api yang selalu di tepis oleh tamsi. Hari ini Bara tidak ada di wilayah Penduduk bunian. Lama sekali Tamsi berputar-putar di sekitar di pasar bunian dan mencari penyihir pemarah itu.
...----------------...
Makan siang hari ini adalah sup panas dan bubur ayam untuk Rani. Ibu yang ingin menyuap sesendok sup di hentikan oleh Rani. "Maaf ibu, Rani tidak ingin merepotkan selalu ibu ijinkan Rani makan sendiri Bu"
"Mmhhh, mau di sayang ibu kenapa tidak mau?"
Senyum ibu bersama pelukan melambai kebahagiaan di hati Rani. Dia kini sadar, kelahirannya di dunia adalah untuk bertemu malaikat yang baik hati dan selalu mendoakannya. Tanpa ibu dan dukungan dari keluarga besarnya, Rani tidak mungkin bisa hidup melewati semua ini sendiri. Walau jauh di lubuk hati Rani terdalam masih terbebani rasa beban berat menjalani dua dunia sepanjang nafas.
...----------------...
Sudah satu Minggu Rani cuti kuliah. Akhir pekan ini dia menghabiskan waktu melepaskan keletihannya dan jeratan jarum jantung yang membuat dirinya merasa seorang yang paling sekarat sedunia. Rani berkeliling rumah dan tidak melihat Tamsi dari sudut manapun. Terakhir kali tingkah Tamsi yang aneh adalah menepuk-nepuk kaki Rani sebanyak tiga kali. Ada yang aneh dari tepukan si kucing hitam membuat tubuh Rani lebih baikan dan kakinya juga semakin bisa di gerakkan.
Dia berjalan menuju wilayah bunian di halaman belakang rumah. Sebelumnya Rani masih merasa bingung karena halaman belakang di bagian barat belum juga berubah apapun.
Jebakan yang di buat oleh Okura membuat penglihatan Rani buram mencapai wilayah bunian. Apa yang sebenarnya terjadi?
Kemiripan wilayah bunian seakan menjalani rute yang sama empat kali lipat lebih jauh dari biasanya untuk membuat Rani lebih jauh menuju dunia nyata.
Ini adalah ketiga kalinya Rani berjalan maju di wilayah yang sama.
"Aku sangat hafal dan yakin sekali jika ini adalah rute jalannya"
Dari jauh Rani melihat keramaian pasar bunian yang menusuk aroma amis ke arah hidungnya. "Sate tikus segar untuk mu", sesosok makhluk wanita tua menawarkan kepada Rani.
Bahasa tubuh Rani yang menyilang-kan tangan di depan dada memberi isyarat penolakannya. Balasan ekspresi makhluk itu seperti pandangan setajam silet dan raut tidak senang. Rani mempercepat langkah kakinya menjauhi makhluk menyeramkan tersebut.
Sebenarnya Rani sangat ragu untuk kembali lagi ke penduduk bunian, namun perasaan firasat akan Tamsi membuat Rani tidak nyaman. Suasana langit yang berubah berwarna merah mengingatkan sinar bulan merah. Rani menuju jalan pulang agak tidak bertemu lagi dengan Binta ataupun bulan merah.
"Aku harus cepat menyingkir!"
Pintu keluar menjadi sangat membingungkan Rani. Sesosok makhluk yang berpakaian mirip dengan Bara memunculkan diri ke hadapannya.
"Bara, kenapa kau diam saja?" tanya Rani melihat wajah Bara yang tidak terlihat karena di tutupi oleh jubah besar.