
Hari ini batok kepala Rani terasa sakit ,seakan denyutannya terasa seperti batu yang menekan dan mengganjal di sela- sela rambut. Setelah terbangun dari mimpinya yang begitu nyata, sebelum bertanya ke pada ayah dan ibu, Rani menoleh ke sekitar ruangan mencari-cari dimana kucing misterius kesayangan.
"Tamsi, dimanakah engkau wahai sahabatku?"
Tidak ada jawaban dari kucing hitamnya. Rani berjalan menuruni villa dan mencari-cari juga dimana keluarga.
"Ayah, ibu dan kak Alfa!"
Rani mencari di dalam villa akan tetapi tidak ada yang menyahut panggilannya.
.
Apakah aku masih kembali bermimpi? atau kini aku sedang berjalan-jalan ke dimensi yang berbeda? batin Rani berkecamuk cemas.
Di sekeliling tidak ada tanda-tanda kehidupan. Semuanya hening, sunyi senyap bahkan sehelai dedaunan juga tidak melambaikan tangan.
Aku harus kembali ke kamar dan mencari lampuku! aku tidak tau suasana di dimensi waktu yang sedang aku lalui sekarang ! bisa saja tiba-tiba suasananya menjadi gelap gulita ! batin Rani.
Tap.. tap.. tap ( Langkah kaki Rani berlari-lari kecil menuju kamar villa).
"Dimana lampu ku?"
Rani kacau mengobrak-abrik isi koper.
"Hei Rani , dari mana saja kau! apakah kau sedang mencari kucing jadi-jadian",
suara lirih makhluk yang membawa boneka Teddy bear di tangannya.
"Apakah kau masih ingat aku? ihihihhhh ".
Di sudut ruang, makhluk yang sedang berkomunikasi padanya kini terlihat sedang bersembunyi di balik sinar matahari.
"Siapakah kau? jangan mempermainkan aku!" bentak Rani.
"Sudahlah kenapa engkau tidak pernah berubah? ibarat sulut api yang membakar dedaunan kering , apakah sudah benci dengan Makhluk seperti kami?"
"Pergilah aku tidak takut denganmu, jangan berusaha mengganggu ku dengan perubahan wujud itu!"
Rani yakin Makhluk yang di hadapan adalah salah satu penghuni bangsa bunian. Walau rupa yang sedikit berbeda karena sekarang sedikit banyak Rani bisa membedakan antara berbagai macam Makhluk ataupun bunian.
Rani tidak berkata apapun kepada makhluk tersebut saat berpapasan dengan mereka, hanya saling memandang satu sama lain . Tanpa ingin menambah beban di hatinya, sifat itu perlahan menghilang seiring berjalannya usia dan waktu. Rani yang biasanya suka membanting benda-benda apa saja ke arah makhluk yang di temui, atau ketakutan dan berlari terbirit-birit menghindari mereka. Kini dia sudah perlahan mengendalikan jiwa dan raganya.
Bagaimana mungkin aku tidak jenuh dan lelah menghadapi dua dunia ini. Sedang lampu menyorot wilayah menyusuri tepi pantai yang berada di depan villa.
Tapi inilah takdir hidup ku dan orang-orang yang menyayangi ku adalah menyemangati rasa tawar pahit yang setiap hari aku jalani.
...-Rani-...
Hanya berbekal doa dan iman di hati ,sampai saat ini tubuh mungil Rani belum pernah bisa di tembus atau di rasuki oleh Makhluk-makhluk tidak kasat mata. Dia menoleh ke arah perbukitan dekat pantai Parangtritis, pemandangan yang mempesona bak suasana keindahan langit mendadak menghitam membentuk bayangan-bayangan sorak ramai anak-anak bermain. Rani hanya tertuju pada anak yang bermain ayunan dengan melangkah maju menghampiri mereka.
"Permisi, apakah kalian melihat Bara?",l
tanya Rani dengan memberanikan diri berkomunikasi dengan mereka.
"Apa penyihir kejam itu? Kamu bisa melihat kami?"
"Kak, apakah kau wanita yang di ceritakan di tempat kami?"
"Apa hubungannya kau dengan Makhluk bunian?"
semua kata-kata tanya para makhluk bersambung dengan yang lainnya kepada Rani.
"Aku sedang terburu-buru, aku tidak bermaksud berniat jahat kepada kalian semua adik-adik"
Para makhluk itu menoleh satu sama lain, seakan saling berbisik atau berdiskusi.
Sesaat kemudian satu makhluk menghampiri Rani.
"Wahai kau Makhluk manusia, tidak banyak dari bangsa mu yang sudah merusak keindahan tempat ini dan kebanyakan dari orang yang sudah bertemu tanpa sengaja dengan kami akan berdampak buruk bagi mereka,nada yang menjadi hilang ingatan atau akan meninggalkan jasadnya di tempat ini."
Mendengar pengakuan dari mereka, apa yang harus aku lakukan? gumam Rani.