
Seharusnya sisa air hujan kemarin bisa membersihkan serpihan kejahatan di muka bumi, akan ada genangan air yang masih basah membasahi hati yang sedang meratapi nasibnya. Anak indigo ibarat seperti bunga teratai yang akan mati menjadi bibit untuk menumbuh kembali harapan di hidupnya. Api di hatinya sebenarnya begitu besar, namun di siram oleh aliran darahnya untuk menstabilkan kakinya untuk berpijak. Tidak ada yang tau apakah penderitaannya berakhir bahagia atau semakin duka.
Pria dari seberang jalan yang bertanya kepada Rani sepertinya seorang tentara Militer dari Negara tanah hijau yang subur. Dia bertanya sekali lagi kepada Rani apakah Rani bisa melihat makhluk lain. Dia melihat aksi penyelamatan Rani kepada temannya dari seberang jalan Sebelum dia menyeberang.
Dia tidak berpikir Rani itu adalah gadis gila atau semacamnya. Mengapa?
"Kenalin saya Genta"
Dia menyodorkan tangannya kepada Rani. Mmhhh, jangan salah paham dulu. Ini adalah cerita horor petualangan gadis indigo. Bukan yang sedang kalian pikirkan!
Rani tidak mengulurkan tangannya yang mungil. Dia menyimpannya di balik punggungnya. Genta tau bagaimana ciri-ciri anak indigo. Bahkan setiap hari dia hafal bagaimana sifat dan karakternya. Ya, terlebih lagi adik laki-lakinya yang masih balita telah fasih berbicara dengan makhluk halus.
"Maukah kau mengetahui dari mana sumber Kalimatku? oh tunggu sebentar, kenalin saya Dirga"
"Rani!" Panggilan kak Alfa menarik tangan adiknya.
Jadwal padat mereka hari ini tidak ada Waktu untuk menambah percakapan dengan orang asing. Terlebih lagi, kak Alfa sangat menjaga adik kesayangannya. Ayah dan ibu sudah selesai makan dan menunggu mereka di mobil.
Rani yang masih belum sadar atas semua perbuatan Cika pada waktu lalu. Pintu maaf di hatinya terlalu terbuka lebar, jika dia memberi tahu kejadian itu kepada orang tuanya maka Cika tidak menjadi seberani ini. Ya, setelah menjemput Cika kini dia kembali tersenyum melirik Tamsi yang sedang duduk di bawah kaki Rani. Kucing tampan bunian itu terlalu lucu jika harus di culik dua oleh persekongkolan Cika dan bulan merah.
Empat puluh kilometer, ayah melajukan mobilnya keluar dari wilayah hutan Gaharu. Setelah pertemuan mereka dengan makhluk aneh yang membuat ibu bersedih, ayah memberi peringatan kepada ibu agar tetap memejamkan mata jika sudah masuk ke wilayah hutan tersebut. Ya, semua itu agar ibu tidak kembali di ganggu sosok makhluk gaib.
"Huh, entah mengapa aku harus tetap bersikap manis di depan Rani, lihatlah sekarang aku sedang di tengah-tengah keluarga yang utuh bersama hewan peliharaan yang tidak bisa aku dapatkan! apakah dia sanggup menjalani hari seperti aku?" gerutu Cika dengan melipat kedua tangannya di depan dada.
Wajahnya terpaksa tidak menekuk hebat namun terkesan jadi terlihat aneh.
Ibu menyodorkan sebotol air untuk Cika, sepertinya cika sangat ingin kehadiran Tante Ela, ibunya.
Di dalam mobil, Cika sama sekali tidak memperdulikan Rani. Dia hanya membuka dan menutup topik pembicaraan dengan ayah,ibu Aisyah,kak Alfa lalu sesekali dia menarik Tamsi dan meletakkan di pangkuan.Perjalanan menuju rumah nenek yang mempunyai usaha minimarket pada tahun lalu. Mobil keluarga besar Rani berhenti di tepi lintas. Hanya ada bangunan kosong disana.
"Apakah ayah yakin ini tempatnya saat tahun lalu saat menjemput Rani dan Cika?" tanya Ibu berjalan menuju lahan kosong dan mengamati sekitar.