
Cahaya lentera yang di pegang oleh Rani, menjadi teman setia. Makhluk kecil itu sesekali menghilang lalu timbul jika melewati zona angker. Makhluk kecil itu menarik kuat ujung rok Rani dari belakang. Dia memang makhluk bunian, akan tetapi tetap saja mempunyai rasa takut jika melintasi jalan berpenghuni menghadapi makhluk-makhluk misterius.
"Kakak, kita jangan kesana."
Sosok makhluk kecil merintih memelas kepada Rani.
"Kau pulanglah, tugasmu cukup membuka pintu belakang rumah saja."
Di depan sana sudah terlihat sungai Bunian di dekat hutan terlarang. Rani sudah membulatkan tekad mencari Sahabatnya.
"Tidak, aku nanti bisa di marah Bara lagi jika dia tau aku meninggalkan mu begitu saja."
Sungai bunian berpenunggu makhluk aneh yang tubuhnya melingkar di dahan pepohonan.
"Kakak, aku sampai disini saja ya aku tidak ikut kesana karena aku tidak berani."
Rani terus melangkah kaki dan di hadang oleh makhluk aneh. Matanya berwarna merah menyala, giri taring yang besar dan badan yang berbentuk ular berkepala manusia.
"Permisi.. aku mau mencari Sahabatku di sungai"
Makhluk itu mendekati Rani. "Stzzz.." suara-suara aneh muncul darinya.
Batu permata berwarna hijau sangat cantik telah di letakkan di telapak tangan Rani.
"Aku tidak bisa berkomunikasi dengannya, namun aku berusaha memberitahu maksud dan tujuan ku lewat kata-kata ku saja, untuk apa batu permata ini?"
Setelah Rani menerima batu permata itu, dia menggenggam di tangan kanannya sedang tangan kiri memegang lentera.
"Huffhh" Rani menghela nafas. Dia mengingat kejadian Geri tempo dulu. Mengambil benda dari alam ghaib dan berujung penderita sampai akhir. Rani memutar pikiran dan mencari teka-teki di balik batu permata.
"Setelah aku menerima batu pemberian makhluk itu aku bisa memasuki gerbang menuju sungai, berarti.."
"Adik bangun! Apa yang sudah terjadi?"
Seorang anak laki-laki menyapu wajahnya dan sesekali menggeliat. Perlahan dia melihat kehadiran Rani di depannya. Roman wajah yang mencetuskan kebingungan gelagapan.
Dia menjauh dari Rani dan membangunkan kedua teman-temannya yang masih tertidur. Kerut-merut linglung dan gelisah mimik mereka dengan keadaan sekitar.
"Adik-adik jangan takut, kakak manusia sama seperti kalian, mengapa kalian disini?"
Salah satu dari anak laki-laki itu mendekati Rani.
"Kami berenang di sungai kak, suara gemericik yang membuat kami ingin tertidur.. kenapa langitnya berubah?"
"Kalian berarti sudah lama tertidur, pulang dan bawalah batu permata ini menuju gerbang pintu keluar."
Rani menenangkan mereka, rasa iba Rani mengalahkan keadaannya yang sedang terancam sendirian di tempat itu. Tanpa batu itu, Rani tidak akan bisa keluar melewati makhluk mengerikan.
"Batu ini untuk apa kak?"
Ketiga anak-anak kecil itu mendekati Rani. Sesekali seorang dari mereka menggigil kedinginan karena sudah terlalu lama bermain di sungai.
"Dengar.." Rani menjelaskan kepada ketiga anak tersebut.
Anak-anak kecil itu tersenyum dan melambaikan tangan ke arah Rani, tanpa mengetahui siapa nama mereka. Rani memberikan batu sebagai jalan keluar menuju sungai.
Kini dia seorang diri mencari kucing nya terperangkap di dalam kotak berbungkus kain hitam. Mantra bulan darah telah membelenggu membuat Tamsi tidak bisa membebaskan diri dari perangkap.
"Tamsi, Tamsi dimana kau sahabatku" jerit Rani sembari menyisir sisi sungai.