
Rani memasuki area angker yang terlihat suasananya agak berbeda dengan yang sebelumnya dia lihat.
"Aku tak mengerti mengapa disini cuaca seakan berubah-ubah?" tanya Rani ke Tamsi namun si kucing hitam hanya membalas dengan tatapan tajam.
Dan aku juga tak mengerti tempat apakah ini? kenapa ada mobil dan kendaraan lain seperti di dunia nyata? gumamnya.
"Tamsi lihatlah banyak sekali yang mirip denganmu!" kata Rani.
Rani kembali menunjuk ke arah kucing-kucing dengan telunjuk nya untuk yang kedua kalinya. Memang terlihat sangat mirip sampai salah satu diantara mereka menghampiri kami. Tamsi turun dari pundak Rani dan menghampiri yang mirip seekor kucing. Mereka seperti sedang berdiskusi panjang. Dia hanya bisa berdiri dan memperhatikan mereka tanpa tau bahasa keduanya. Selanjutnya mereka terus berjalan melalui hewan tersebut dan berlalu. Akan tetapi warna langit di tempat yang sangat membingungkan pandangan Rani.
Dia menyusuri sudut jalan sampai dia lupa bahwa bajunya yang basah kuyup tadi telah mengering. Di pinggir jalan dia menemui kucing lagi, namun dengan warna dan rupa yang berbeda. Tamsi menemui kucing kembali seekor kucing yang sedang berdiri di atas pagar rumah. Kucing itupun membalas sambutan Tamsi yang menujunya. Bunyi suara pintu rumah itu terbuka sangat lebar.
Salah satu kucing berlari ke depan pintu sambil melihat Tamsi. Kucing tersebut berlari masuk bersamaan, Rani ikut menyusul dan rumah kecil yang terlihat dari luar itu ternyata dalamnya sangat luas. Seperti di dunia sihir dia tercengang menyaksikan keanehan di sekitar.
"Ada tamu di rumahku", senyum wanita yang tiba-tiba muncul sembari berdiri memegang bola kristal.
"Kenapa sampai saat ini kau belum menggunakan kekuatan mu gadis kecil?" ucap sang penyihir wanita cantik menyorot mata tajam seolah mengelilingi setiap sudut tubuh Rani. Dia berfokus pada dahi Rani yang menyimpan kekuatan ghaib, lemparan pengamatan sampai tidak berkedip.
"Kekuatan apa yang kau maksud padaku wahai penyihir?" Sahut Rani.
"Kau dapat menembus ruang dan waktu seperti sekarang ini dan kau dapat mengobati apapun yang berbau mistis di kehidupan mu", tutur si penyihir.
"Itu sudah menjadi garis mu, wahai adik kecil aku ini rupanya saja dapat kau tembus lebih dalam", si penyihir menatap Rani tajam.
Rani melihat semua yang ada di dirinya, dia melihat dengan jelas bahwa tidak bisa di pungkiri dari maksudnya adalah aku bisa melihat kenyataan akan si penyihir itu.
"Kenapa kau tidak takut padaku dari apa yang kau tau tentang wujud asliku yang terdalam?", katanya.
"Aku hanya melihat apa yang aku tersirat akan naluri ku bahwa kau bukanlah sejahat seperti wujud aslimu wahai penyihir, aku hanya menikmati kecantikan wujud luar mu dan kebaikan mu karena sampai sekarang tidak memakan jantung ku", kata Rani.
"Hahahah"
ketawa sang penyihir sangat terlepas menyeramkan sampai seisi rumahnya bergetar.
"Sudahlah sudah cukup kau menghibur ku, bagaimana bisa aku mengambil jantung mu yang terjaga berbagai kekuatan magic!" kata si penyihir.
Tamsi tampak dari belakangnya memanjat rak yang tersusun buku dan jam antik.
"Aku sudah mendengar cerita mu dari kau lahir di dunia mu", penyihir menoleh ke kucing peliharaannya.
"Lihatlah kucing ku itu juga menyukai mu!"