Penduduk Bunian

Penduduk Bunian
Rani dan indera keenamnya


Tepat pukul 06.00 WIB di ruang keluarga mereka beristirahat meluruskan kaki-kaki mereka sambil menyalakan televisi. Keluarga besar Rani menyaksikan bencana alam banjir yang menewaskan banyak orang-orang di tepian pantai. Setelah beristirahat dan mengadakan makan malam bersama. Mereka pergi beristirahat di kamar masing-masing.


Ting..tong..


"Siapa tamu yang datang di tengah malam begini?"


Ibu yang sedang bersih-bersih dan memakai pelembab duduk di depan meja hias.


"Akan ayah periksa Bu"


Sahut ayah dan turun dari tempat tidur.


Suara keras bantingan dari arah pintu tamu terdengar di telinga. Listrik rumah mereka padam, ayah mencari pematik dan menyalakan lilin.


"Apakah ada maling?" bisik ayah mencari penerangan.


Pintu ruang tamu terbuka lebar membelalakkan tersorot mata ayah.


"Ayah!" jeritan ibu dari dalam kamar.


Setelah berkeliling memeriksa ruangan demi ruangan, ayah berlari secepat menemui ibu.


"Tadi ibu lihat ada yang masuk ke kamar mandi kita."


Ayah membuka pintu kamar mandi namun tidak mendapati apapun.


"Ayo ayah, cepatlah kita lihat Alfa dan Rani , ibu sangat khawatir."


Ibu dan ayah memeriksa kamar-kamar anak mereka dan melihat Alfa juga Rani sedang tidur nyenyak.


...----------------...


"Sahabatku, jangan tinggalkan aku!"


"Gawat, apakah aku sudah sampai ke wilayah Bunian?" bisik Rani.


Rani perlahan melangkah menyusuri gelapnya malam. Tempatnya tidak jauh berbeda dari yang dia lihat sebelumnya. Banyak sekali cahaya kuku-kuku setan bertebaran seakan menerangi jalan Rani. Satu makhluk mengangetkan Rani dan terus menguntit langkah kaki Rani.


"Kita bertemu lagi"


Seru makhluk ghaib mendekati Rani dengan tatapan yang tajam.


"Aku ingat kau pernah membantu ku di dunia nyata" jawab Rani.


Kemudian makhluk tersebut mengangguk kan kepala dan menghilang dari hadapannya.


Rani tertegun dan kembali berjalan dengan rasa di dalam benak yang gusar. Tiba-tiba kakinya terasa kaku dan tidak bisa di gerakkan.


"Apa yang sudah terjadi kepadaku?" bisik Rani.


Kakinya tegak berdiri seolah seperti patung hidup. Perlahan bayangan hitam memperlihatkan wujud aslinya kepada Rani.


"Anak istimewa, aku sudah tidak sabar mengambil jiwa murni mu."


Kuku-kuku panjangnya menyentuh tanah menuju ke arah dagu Rani. Dia mencekik Rani begitu kuat.


"Ak, ak.."


Suara cekikan yang terasa sesak bercampur nafas Rani yang hampir terhenti.


Kilatan cahaya menggores tubuh makhluk jahat yang hampir menghabisi nyawa Rani. Untuk yang kedua kali sesosok makhluk yang pernah di lihat menyelamatkan. Rani menguatkan tubuh dengan sekuat tenaga. Setelah tubuh yang terangkat dan terlempar di rerumputan. Dia kembali tegak berdiri dan menjauh dari tempat itu. Tepat di hadapan, terpampang jembatan layang panjang. Dibawahnya terdapat jurang terjal dengan tebing-tebing curam bebatuan. Suara kayu-kayu dan tali yang nampak rapuh untuk di pijak Rani.


"Bagaimana aku bisa melewatinya? tapi tidak ada jalan lain lagi. Sepertinya aku semakin dekat dengan wilayah bunian" gumam Rani.


Aungan suara serigala Sayup-sayup terdengar dari kejauhan.