
Hari semakin gelap dan bertebaran bau anyir di sekitar rumah, tidak tau dari mana asalnya. Aroma busuk itu sangat menggangu sampai seisi rumah mencari-cari di setiap sudut ruang sudah di amati namun tidak ada bangkai hewan mati atau penyebab lain. Rani duduk di ayunan teras rumah, dia memperhatikan lorong waktu itu yang biasa menjadi barisan para makhluk lain berkumpul tempo lalu.
Nging, nging..
(Bunyi gesekan ayunan menjadi nada di antara lamunan Rani).
Lorong lubang sangat hitam dan berputar cepat searah jarum jam tanpa henti. Pintu menembus antara makhluk nyata dan tak kasat mata.
Ada Tamsi yang selalu membuntuti dimana pun Rani berada. Terdengar suara gerangan si kucing hitam.
"Tamsi apa yang mengganggu mu?" kata Rani sambil menghampiri.
Beberapa saat kemudian ibu berkata, "Ayah, jejak kaki siapa ini?"
Suara ibu terdengar sampai di belakang halaman rumah sore itu.
Ibu tampak begitu terkejut. Rani berjalan menghampiri ibu, ada satu tapak kaki raksasa dan satu lagi tapak kaki berukuran kecil.
"Aku tau pasti kalau mereka pelakunya", batin Rani.
Sambil melirik makhluk yang melekat di atas langit-langit ruang kamar mandi. Bentuknya Berwarna hitam legam dan kedua bola matanya berwarna kemerahan, taringnya menjulur sampai di bawah wajah.
"Jangan menggangguku dan keluarga ku, pergilah kau dari sini!" batin Rani seperti melakukan dialog dengan makhluk tersebut.
Rani sadar bahwa cara berkomunikasi dengan mereka bukan hanya ucapan kata terdengar di telinga namun sepatah kata juga bisa batin menembus pendengaran sebangsa mereka.
"Itu adalah jejak kaki yang berbekas akibat semen yang masih basah, siapakah pelakunya?" kata kak Alfa.
Ayah bergegas merapikan lagi pijakan bekas kaki di dalam bak kamar mandi itu setelah mendengar kata-kata ibu. Rani berlari menuju makhluk itu yang berjalan cepat ke arah pekarangan belakang rumah. Dia pun berhenti dan memperhatikan bahwa dia masuk ke dalam pintu lubang yang menembus dunia lain.
...----------------...
Rani menuliskan semua penglihatannya lewat lukisan dan buku harian yang di lalui dan di alaminya semasa hidupnya, dia menulis berbagai kisah nyata dan bahkan mimpi-mimpinya saat dia tertidur dia juga mendapat gambaran berbagai kehidupan makhluk lain. Membahas ada salah satu mimpi yang sampai saat ini menjadi pikirkan. Wanita berbaju putih terus memperhatikan walau berjarak jauh dimana pun Rani berada. Dia suka sekali membisikkan sesuatu di telinga Rani.
"Akulah yang paling tepat menjadi pendamping mu pendamping di alam ghaib dan nyata. Akulah yang terkuat dari semua sebangsaku. katakanlah, kau memanggilku."
Rani tidak menanggapi bisikan yang sama di setiap masalah apapun yang di alami. Bayangan sesosok wanita mirip kuntilanak yang memakai selendang datang dan menghilang dari pandangan Rani. Sebelum kedatangan makhluk itu di hidupnya dia pernah bermimpi rupa yang sama mirip wanita itu. Dia selalu ingat kan pesan ibu agar jangan Sampai tertipu daya dan menyesatkan Rani.
"Bagaimana aku bisa menutup lubang hitam itu?" batin Rani.
Rani melempar benda apa saja ke arah lubang itu dan setiap yang di lemparkannya pun masuk ke pusaran bagai tertelan oleh lumpur hidup.
"***, *** jangan berisik", sosok makhluk tua mendekat.
Disitu tempat perbatasan wilayah daerah kami."
Kata seorang nenek tua sedang bersandar di sebuah payung raksasa di dekat lubang hitam.
Dia sedang mengunyah Bangkai tikus mati di atas piringan daun kering. Penampilan tampak memakai sarung. Di atas kepala ada serabut di lingkari anak-anak ular dia melangkah mendekati Rani. Ada tetesan air liur di balik Senyuman menyeringai. Rani hampir muntah mencium aroma busuk dengan rupa yang aneh.
"Tolong singkirkan lah makanan mu itu, aku tak sanggup melihatnya."