
Aauuww..
Aungan serigala bersahut-sahutan menanti-nanti kabar kebahagiaan kematian anak indigo. Air liur serigala mengenai rambut Rani, Rani menutup rapat kedua matanya dan berdo'a di dalam hati. Hampir saja nyawa Rani melayang sia-sia di wilayah bunian. Bara menebas leher kepala sang serigala dengan satu jari telunjuknya , kehadiran Bara di bawah sinar rembulan terlihat jelas dengan balutan jubah dan topi penyihir yang di kenakan.
"Di bawah sinar rembulan, segala kejahatan mu telah di pertontonkan oleh seluruh penjuru wilayah Bunian."
Bara mencampakkan kepala sang serigala ke tengah-tengah pasar bunian. Di mana bumi berpijak ,disana langit di junjung. Setiap wilayah bunian mempunyai peraturan yang harus di taati. Berbagai makhluk yang mendiami wilayah bunian terhentak menghentikan segala aktivitasnya. Terlihat jelas di hadapan mereka siapa pelaku sebenarnya. Belum pernah sebelumnya mereka membisu dari keramaian yang sesak sedia kala.
"Siapa lagi yang berani melawanku?" bentak Bara. Bara bagai berdiri di satu podium yang di di hadiri ribuan makhluk-makhluk ghaib.
"Sampai aku tiada, jangan pernah menyentuh sehelai rambut milik sahabat ku. Aku masih mengingat semua kejahatan kalian di waktu lalu."
Tiupan bersambung keluar dari rahang mulutnya. Bara membakar kepala serigala dengan sekali hembusan nafas. Kematian kepala suku serigala jadi-jadian menjadi rambu-rambu bendera putih menjadi melemahkan seluruh anggota sang serigala.
Dalam sekejap Rani dan Bara menghilang dari kerumunan massa wilayah bunian.
...----------------...
"Sepertinya segala rencana ku sia-sia dan tidak ada jalan keluarnya."
Rani menggerutu, dengan wajah cemberut dan alisnya menggerut.
Kaki Rani memukul-mukul permukaan air sambil membilas rambutnya yang penuh riak bercampur air liur serigala jadi-jadian yang ingin memakan dirinya. Bara merangkul Rani dengan mengulurkan tangan panjangnya di pundak Rani. Dia hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah kata apapun. Sudah berjam-jam mereka duduk sambil menikmati suara air tepi sungai.
"Aku pernah tau tentang sungai yang tampak tidak asing bagi ku", gumam Rani.
Pada akhirnya Bara membuka suara dan berdiri memegang tangan Rani.
Raut wajah Rani bertambah cemberut menekuk.
"Ahahah, aku tidak bisa berpisah denganmu sahabat ku. Pulanglah sebentar lagi Tamsi akan menjemput mu", kembali Bara melanjutkan kata-katanya.
"Tidak sama sekali ,aku akan tanpa lampu lentera ku Bara."
Lirikan Rani tajam kepada Bara, prinsipnya terlalu menggebu-gebu dengan kekuatannya yang lemah. Tanpa Bara dia pasti telah tercabik serigala yang selalu memburu.
"Hati ku dahulu tidak selemah ini sebelum bertemu denganmu."
Bara memutarkan tangannya ke atas permukaan air sungai. Bibirnya menggerakkan ucapan bisikan mantra yang tidak terdengar jelas di telinga Rani.
"Cobalah toleh, apa yang ada dalam sungai yang penuh misteri ini."
Rani mengikuti perkataan Bara, dan Alangkah terkejutnya dia. Pemandangan langka yang tidak pernah dia lupakan dan terselip di pikiran. Wajah Rani memandang Bara dan tersenyum kecut.
"Aku bersyukur putri duyung itu selamat dari jeratan akar berduri."
"Ya tetapi itu sangat beresiko , hampir saja engkau terkena getah beracun dan berkat pertolongan engkau sahabat ku, dia akan pergi ke wilayah Bunian bagian selatan untuk mencari tahu letak lentera mu."
Rani tersenyum lebar dengan susunan gigi putih.
"Bara, peri hutan mencari mu. Kenapa kau tidak paham juga, Kalian bagai bumi dan langit yang seharusnya tidak bisa bersatu. Ingatlah asal mu Bara!"
Suara bentakan pengantin penunggu sungai hitam memandangi mereka.