
Berbagai rencana tetua tiga untuk menguasai hutan suci telah mereka susun dengan rapi. Namun tanpa mereka sadari, Chuan sudah mendengarkan rencana tersebut.
"kita pergi guru" ucap Chuan.
"jangan dulu, lumpuhkan sumberdaya mereka" ucap Patriak Lion.
"baiklah, sementara sampai disini dulu" terdengar lagi suara tetua tiga. Besok dia mengundang mereka semua untuk bertemu lagi. Dan juga ada sumberdaya yang akan dibagikan. Semuanya terdengar beranjak pergi dari ruangan itu.
"whahaha, jangankan klan chu, bahkan klan tian dan yang lain akan bisa aku kuasai" tawa puas tetua tiga terdengar. Merasa rencananya sudah final maka dia tenggelam dalam kegembiraan. Dia lalu menuju kamar dan mulailah bersenang senang dengan istrinya.
Suksesnya dalam perencanaan membuat lemat kehati hatiannya. Setelah tetua tiga tenggelam dalam pestanya dengan sang istri, Chuan diarahkan Patriak Lion untuk membuka atap yang tak jauh darinya. Atap terbuka selebar tubuhnya, membuat dia bisa turun keruangan itu.
"jangan bersuara dan jangan memilih, masukkan semuanya dalam cincin naga" ucap Patriak Lion. Setelah menguras isi ruangan tersebut, chuan segera keluar ruangan. Atap telah Chuan kembalikan seperti semula, dan diapun melesat pergi.
Derap kuda terdengar pelan, mengusik rasa penasaran Chuan setelah meninggalkan rumah tetua tiga. Seorang penatua klan chu dan dua orang prajurit keamanan yang sedang mengawalnya. Tahapan ketiganya adalah pendekar mahir.
Sambil melepas tahap pendekar mahir, Chuan melesat memancing ketiganya. Karena tanpa ilmu bayangan maka membuat ketiganya waspada.
"siapa malam malam begini, berani mengusik klan kita" ucap penatua.
"kita ikuti tuan, kelihatannya mencurigakan" ucap seorang pengawalnya. Ketiganya melesat mengikuti arah Chuan menghilang.
Sambil merangkap pakaiannya dan memakai penutup wajah, Chuan tetap menjaga jarak dengan ketiga orang yang menyusulnya. Memasuki hutan kecil dipinggiran kota, Chuan melesat semakin pelan.
"hai, berhenti" teriak penatua. Chuan lalu berhenti dan menjaga jarak dari ketiganya.
"ada apa tuan menghentikanku" tanya Chuan dengan suara dibuat tak seperti biasanya.
"siapa kau, dan apa yang kau lakukan diklan kami" tanya seorang pengawal.
"aku pendekar hitam, tujuanku menyadarkan orang orang serakah seperti kalian" ucap chuan membuat ketiganya memasang kewaspadaan.
"tuan, dia hanya pendekar mahir" ucap pengawal lainnya. "serang bersama, biar cepat beres" ucap penatua membuat ketiganya langsung mengeluarkan jurus maaing masing.
Tetap dengan tangan kosong Chuan mulai mengeluarkan ilmu menari diatas samudra disertai ilmu totokannya. Semakin lama ketiganya mulai terbakar emosi.
"bangs**, kalau tidak bisa ditangkap, sudahi saja dia" teriak penatua semakin marah. Jurus yang dikeluarkan ketiga orang tersebut mulai semakin ganas.
"hiaatttt" teriak Chuan mempercepat gerakan jurusnya. Jurus yang dikeluarkan mulai semakin cepat dan tegas.
Ketiganya sedikit terkejut akan perubahan jurus yang Chuan keluarkan. Sedikit kelengahan mereka memberi kesempatan chuan untuk mendaratkan totokannya.
"tiga penghianat mau sok pahlawan" ucap Chuan mendekati ketiganya yang kaku tertotok.
"apa yang mau kau lakukan" ucap penatua dengan emosi. Meskipun jalan darahnya tertotok tapi mereka masih bisa membuka suara.
"hahaha" terdengar tawa Chuan sambil melepas pakaian ketiganya.
"lepaskan bajin***"
"ku bun** kau" umpatan terdengar dari kedua pengawal.
Kini ketiganya hanya memakai celana pendek. Cincin dimensi penatua dan kantong penyimpanan dua pengawalnya tak luput dari jarahan chuan. Setelah menyimpan semuanya, Chuan lalu mengalirkan qi diseluruh tubuhnya.
Dengan energi yang mengalir ditubuhnya, Chuan meraih ketiganya dan melesat menuju kota. Didepan rumah warga yang sepi, Chuan kemudian melesat meninggalkan tiga orang yang setengah telanjang.
Sebelum kembali kerumah, dia membakar pakaian ketiga orang itu. Kemudian dengan santai dan seakan tidak ada sesuatu yang terjadi, dia memasuki halaman.
"darimana Chuan" sapa Tetua Tian.
"dari serikat dagang dan serikat pekerja, kog tetua dan yang lain belum tidur" tanya Chuan.
"kami masih asyik ngobrol sambil menunggumu" sahut Nenek Hong.
"wah sejak ada Tetua Lifan nenek jadi sering tidur malam yaaa" usil Chuan