
Kelima anak merangkul chuan dengan erat.
"sudah dulu, tuh lihat teman kalian baru datang" kata chuan lalu berdiri setelah anak anak melepas pelukannya.
Wajah pucat dan nafas yang memburu, keempatnya berdiri didepan chuan. Pil yang sama juga chuan berikan pada mereka.
Bibi fei memberi bimbingan pada keempatnya. Terlihat semangat terlukis diwajah nenek, bibi dan juga anak anak. Selesai sudah sesi untuk mengetahui sedikit ketahanan anak anak itu.
Chuan mengumpulkan mereka semua.
"aku tahu kalian takut" chuan mengawali pengarahannya. Mulai hari ini xie telah sembuh dari sesaknya.
Sedang kedua anak yang tadi dirawat chuan akan sembuh dalam seminggu. Mengenai kebutuhan obat akan diusahakannya.
Untuk latihan dasar nanti mereka akan dibimbing nenek hong. Mungkin kedepan ada lagi guru yang akan membimbing mereka.
Banyak hal yang disampaikan chuan dengan kata kata sederhananya. Semua menyiratkan wajah ceria dan senyum yang bersemangat.
Dihati mereka muncul keyakinan dan harapan, serta tak ada keraguan kepada chuan. Tak mereka sadari matahari sudah menyengat dengan sinarnya.
"apa kalian lapar" tanya chuan.
"tidak" jawab mereka serentak.
"sudah waktunya kita pulang kerumah" ucap chuan.
"huuu"
"masih enak disini" terdengar jawaban keengganan mereka.
"baik silahkan bermain dulu, aku akan menangkap ikan buat lauk kalian" ucap chuan disambut gembira oleh mereka.
Empat anak mendekati chuan,
"boleh kami membantu" ucap monk mengungkapkan maksud mereka.
"tunggu ditepi sungai nanti kalian yang kumpulkan" ucap chuan.
"baik kak" jawab mereka.
Chuan bergegas ketepi sungai lalu melompat sedikit ketengah. Tak berapa lama chuan muncul dengan dua ikan besar ditangannya.
Senyum terkembang pada keempatnya, saat melihat chuan yang melempar dua ikan tangkapannya. Kejadian berulang enam kali, sudah dua belas ikan terlihat menggelepar didaratan. Sedikit takut dan geli anak anak membuatnya sebagai mainan.
"ayo pulang, dan siapa yang mau membawanya" tanya chuan yang mendekat sambil membawa ranting ditangannya. Ternyata setelah keluar dari air chuan segera mencari ranting.
Tiap ikan chuan tusuk dengan satu ranting.
"aku mau membawanya"
"aku"
"aku" terdengar mereka menawarkan diri.
"tiap dua anak bawa satu, pegang diujung rantingnya" jelas chuan. Anak anak semangat membawa ikan ikan tersebut.
Melihat kebersamaan itu, chuan tersenyum dibelakang mereka.
"kalau lauk ikan tiap hari enak"
"iya, ikan segar lagi" ocehan anak anak diperjalanan. "kalau tiap hari diambil nanti ikan disungai itu bisa habis" ucap chuan menimpali mereka.
"iya yaa"
"kalau habis gimana"
"bla bla bla" tak berhenti kata kata meluncur dari mulut mereka.
Dua kali chuan mengajak mereka beristirahat, tapi ditolaknya. Ternyata rasa semangat telah mengalahkan kelelahannya. Belum hilang lelah saat tiba dirumah, nenek hong dan bibi fei langsung membersihkan ikan ikan itu.
"sebagian bantu didapur, dan nanti kalian makan tidak usah menunggu, cukup sisakan saja" ucap chuan.
"iya kak" jawab mereka berhamburan pergi.
Chuan melangkahkan kaki, hendak pergi kebintang perak. Terlihat hormat kedua penjaga saat chuan melewatinya. Juga senyum ceiyun terlihat saat chuan mendekatinya.
"apa kalian punya rumput emas" tanya chuan.
"ada tapi sedikit mahal" jawab ceiyun.
"gak apa apa, aku butuh tiga helai saja" ucapnya.
"tapi nanti, aku mau bertemu guru dulu" lanjutnya. Ceiyun lalu mempersilahkan chuan masuk.
Dia memasuki sendiri tidak mau kalau ceiyun mengantarkannya.
"guru" ucap chuan didepan pintu ruang gurunya. Dia bingung melihat tujuh orang lainnya berkumpul dalam ruangan tersebut.
"tetua tian sedang kritis chuan" kata tetua lifan.
"bolehkah aku mendekati guru" ucap chuan.
"silahkan" jawab seorang murid dan memberi tempat padanya.
Chuan lalu mendekat dan memegang pergelangan tangan tetua tian. Dia mengalirkan sedikit qi murni melalui pergelangannya. Setelah dirasa nadinya sudah teratur chuan melepaskan pegangannya.
"kenapa bisa begini tetua" tanya chuan. Tetua gun menjelaskan, setelah tetua menerimamu dia lalu berpikir. Bagaimana membimbingmu, bahaimana keselamatanmu, dimana tempat aman untukmu.