Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Tak Perlu Menggertakku


"kamu dan keluargamu disebelah sini" ucap Chuan menunjuk seorang wanita.


"kamu dan keluargamu disebelahnya" lanjut Chuan menunjuk satu pekerja ahli.


Rasa bingung menghinggapi pikiran semua orang ditempat itu. Keresahan hati para pekerja terlihat dari raut muka mereka.


"jatah para pekerja apa sudah diberikan" tanya Chuan pada Teikong.


"tiap pekerja hanya minta 5rb sisanya masih aku simpan" jawab teikong.


"berikan jatah keduanya dan satu kereta kuda buat mereka meninggalkan hutan ini" ucap chuan membuat teikong dan lainnya bertanya tanya.


"apa salah kami" ucap pekerja ahli yang ditunjuk Chuan protes.


"masih ingin aku memberi alasannya" ucap Chuan. "katakan saja" ucapnya.


Chuan lalu menjelaskan, tingkah laku wanita itu membuat suaminya was was dan tidak semangat dalam bekerja. Sedang pekerja ahli tersebut dengan rasa tega mengambil keuntungan dari teman lainnya saat berbelanja. Sedangkan saat dia berbelanja teman yang lain tetap bekerja. Merah padam dua pekerja ahli menahan malu dan marah.


"kau,,," geram dua pekerja ahli.


"tak perlu menggertakku, meskipun sendirian aku bisa menghancurkan keluarga kalian" ucap Chuan sambil melepas tahap pendekar bumi.


Rasa takut dan terkejut nampak diwajah semua orang. Bahkan Teikong sampai ternganga mulutnya.


"paman berikan sisa jatah mereka dan satu kereta kuda, biar mereka pergi" ucap Chuan.


"baik Chuan" ucap Teikong lalu melaksanakannya.


"maafkan kami, dan mohon beri kesempatan" ucap pekerja itu.


"ini sudah yang terbaik, aku tak mau ada yang memanfaatkan orang orangku" ucap Chuan tegas.


Dua keluarga tersebut menunduk lesu memasuki kereta kuda. Dua pekerja ahli duduk didepan dan mulai memacu pelan.


"tinggal kalian delapan pekerja dan paman Teikong, bagaimana selanjutnya" tanya Chuan.


"kami akan tetap disini" ucap seorang pekerja.


"berunding dengan keluarga kalian dulu, lalu putuskan" ucap Chuan lalu pergi melihat keseluruhan lokasi yang sudah dibuka para pekerja.


"mereka ingin tetap disini, bahkan kalau boleh mereka akan tinggal ditempat ini bersama Chuan dan yang lain" ucap Teikong disambut senyum oleh Chuan.


"untuk sementara kalian tinggal dirumahku dulu, dan anak anak kalian belajar dasar silat pada paman Teikong" ucap Chuan sambil menyerahkan dua kitab teknik dasar pada Teikong.


Terlihat dua belas anak usia 8th sampai 15th saling pandang. Terlihat mereka hanya tahap awal. Chuan memberi beberapa pengarahan pada teikong.


Untuk delapan orang, masing masing diberi satu pil yang diisi qi murninya dan menyuruhnya berkultivasi saat ini juga. Semua hanya tertegun melihat yang dilakukan Chuan.


Sedang delapan pekerja ahli tersebut mencari tempat sendiri untuk berkultivasi.


"sekarang yang tugas belanja adalah paman, dan ini untuk jaga jaga kalau ketelatan bahan" ucap Chuan sambil menyerahkan ratusan pil nutrisi.


"maaf, kalau tuan muda berkenan kami akan menyiapkan hidangan dulu" ucap seorang wanita.


"terimakasih bi, lain waktu aku datang lagi" ucap Chuan.


"bulan depan bisa selesai dua rumah lagi" ucap Teikong. "baiklah, saat ini aku permisi dulu" ucap Chuan lalu melesat meninggalkan mereka.


Percakapan mereka terdengar saat Chuan sudah pergi. Teikong yang dicerca pertanyaan para ibu ibu tak bisa menjawab dengan pasti.


Dia hanya menceritakan para anak asuh Chuan dikota Kingsan. Seakan tak puas mereka terus bertanya. Bahkan Teikong harus kehabisan kata untuk menjawabnya.


Saat hari beranjak sore, para wanita sibuk dengan aktifitasnya. Sedang Teikong dan anak anak para pekerja masih menunggu delapan orang yang sedang kultivasi.


Saat senja beranjak malam. Chuan masih menyusuri desa desa yang akan dilewatinya. Sampai didesa yang cukup ramai, chuan menuju sebuah penginapan tua.


"permisi paman" sapa Chuan pada seorang paruh baya yang sedang santai didepan penginapan.


"oh, apa anak muda hendak menginap" tanya orang tua itu.


"iya, apa masih ada kamar kosong" ucap Chuan


"masih, silahkan masuk" ucapnya.


"apa nama desa ini" tanya Chuan.


"desa siagon, kamu berasal darimana" ucapnya penasaran.