Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Membuka Mata Kita


Keempatnya lalu menghabiskan arak yang diberikan Chuan. Terkejut keempatnya setelah itu. Energi halus yang cukup besar berputar didalam tubuh mereka.


Ketiganya segera berkultivasi, sedang tetua shusin hanya memutar energi tersebut keseluruh tubuhnya. Dia menjaga ketiga muridnya yang tenggelam dalam kultivasinya.


"bumm" "bumm" "bumm" letupan dalam tubuh ketiganya terjadi hampir bersamaan. Pancaran energinya menyelimuti tubuh mereka sebentar. Dengan hati hati energi tersebut dikumpulkan kembali kedalam tubuh.


Kemudian mengedarkan energinya keseluruh tubuh sambil menunggu dentian mereka terbentuk kembali. Dentian yang semakin besar dan lebih kuat terbentuk. Seluruh energi didalam tubuh dialirkan kembali kedentain mereka yang baru.


Empat jam segala proses itu berakhir. Qi yang terkumpul didentian mereka hanya mengisi separuh dari kapasitasnya. Pancaran tubuh ketiga murid tersebut sekarang berbeda. Lebih kuat dan berwibawa.


"selamat, kalian sudah menembus tahap bumi" ucap Tetua Shusin bangga.


"terimakasih guru" ucap mereka.


"semua berkat Chuan, kalian bisa membalasnya suatu hari nanti" jelas Tetua Shusin.


"kami akan selalu mengingatnya" ucap muridnya. "sekarang aku akan berkultivasi sebentar, ganti kalian berjaga" ucap Tetua Shusin.


"baik guru" jawab mereka serempak.


Tetua Shusin mulai berkultivasi, energi qi didentiannya didialirkan agar bercampur dengan energi halus yang berputar ditubuhnya. Qi dari dentian Tetua Shusin kini bercampur dengan qi dari Chuan.


Tetua Shusin merasakan kemurnian energi qi nya menjadi lain dari sebelumnya. Menghiraukan rasa penasarannya, dia lalu mengumpulkannya didentian. Qi yang terkumpul hampir memenuhi dentiannya.


Tetua Shusin menyudahi kultivasinya. Keempatnya tersenyum dengan puas, sudah beberapa tahun ini terjebak dalam kemacetan.


"sepertinya Chuan tidak seperti yang kita lihat" ucap Tetua Shusin.


"dengan penampilan seperti itu, pasti sering mendapat hinaan dan cacian" ucap murid tetua.


"seandainya kemarin tidak bersama guru, pasti kami juga akan merendahkannya" ucap muridnya.


Pandangan kasih sayang yang tulus dari anak anak tak pernah kita rasakan. Selama ini kita hanya mendapat pandangan hormat yang didasari oleh rasa takut. Dengan pandangan seperti itu sedikit demi sedikit memupuk kesombongan kita. Ujar Tetua Shusin


Chuan menutupi tahapan kultivasi yang sebenarnya, kita sebaiknya berhati hati dengan orang yang seperti itu. Dia telah membuka mata kita yang selama ini tertutup oleh ketenaran dan kebesaran nama sekte.


Apakah kita tetap bersembunyi dibelakang nama sekte? Apakah kita mengukir nama kita untuk membesarkan sekte?


Sepertinya kita hanya tenggelam untuk sebuah nama. Sedangkan diluar sana dia tak mementingkan nama. Dia telah merasa bahagia karena berguna untuk orang orang yang ingin dilindunginya. Banyak kata kata lagi terucap oleh Tetua Shusin.


Tiga muridnya hanya terdiam dan tenggelam dalam angan dan pikirannya masing masing. Malam mulai pergi. Saat pagi belum benar benar datang, terlihat empat bayangan melesat dihutan itu. Tetua shusin dan ketiga muridnya telah melanjutkan perjalanan mereka.


Hari berganti hari, sudah delapan hari chuan dan yang lain tinggal dipenginapan. Selesai menikmati sarapan, chuan meminta semuanya untuk berkemas. Saatnya mereka semua untuk pulang kerumah.


Tadi Malam tuan teikong memberitahu kalau renovasi sudah mereka selesaikan. Atas inisiatif mereka sendiri, pihak serikat pekerja juga sudah mengurus surat rumah tersebut atasnama bibi Chufei. Saat Chuan memberi koin tambahan, dengan halus tuan teikong menolaknya.


Rombongan anak anak terlihat berlari saling mendahului untuk sampai dirumah. Aura anak anak ini kini telah berbeda. Latihan dan asupan pil berisi qi murni dari Chuan, menjadikan mereka memasuki tahap awal dan ditingkat enam atau tujuh.


Tak lama sampailah anak anak dirumah mereka. Semuanya hanya bergerombol didepan rumah dan tak ada yang berani untuk memasukinya.


Chuan, nenek dan bibi Fei tetap asyik berjalan dibelakang. "kenapa kalian tidak masuk" sapa Chuan yang baru datang.


"mana rumah kita kak" tanya Xuxue penasaran.


"ini rumah kalian" ucap Bibi Fei sambil tersenyum.