Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Daftar Hitam


Saat asyik berbincang, para wanita datang membawa hidangan diaula tersebut. Bincang bincang mereka terhenti seketika. Setelah Sin Wan mempersilahkan Chuan dan Meilin, mereka mulai menikmati hidangan yang tersedia.


Sambil makan, Tabib Ho bertanya tentang pil yang dibuatnya. Chuan tak pelit dengan ilmu dan pengetahuan. Dia menjelaskannya dengan bahasa yang ringan dan sederhana. Juga memberikan resep untuk membuat arak yang baik buat kultivasi para pemuda didesa tersebut.


"hahaha,,, aku paham, terima kasih Tuan Muda" ucap Tabib Ho lalu meninggalkan makanannya yang belum dihabiskan.


Mereka yang melihat tingkah Tabib Ho, menghentikan makannya.


"bagi para tabib, pemahaman yang diterima lebih dari apapun" ucap Chuan. Jangankan makanan ini, bahkan untuk mengejar ilmu dan pengetahuan mereka rela merendahkan harga dirinya.


"silahkan teruskan makannya" ucap Chuan setelah menjelaskan apa yang terjadi dengan tingkah Tabib Ho.


"ohhh,,"


"hahaha"


"hihihi" gumanan dan tawa pelan terdengar. Bahkan Meilin ikut tertawa kecil mengingat tingkah Tabib Ho.


Selepas menikmati hidangan, mereka terus berbincang bincang. Beberapa pemuda memanfaatkan kesempatan tersebut untuk bertanya tentang kultivasi dari kitab yang ditinggalkan Chuan waktu itu. Ada beberapa bagian yang mereka sulit untuk memahaminya.


Chuan menjelaskan secara ringkas dan sederhana.


"seandainya kalian masih belum faham, nanti Tetua Lifan aku minta datang untuk kalian" ucap Chuan. Jika memungkinkan semua warga ikut bimbingannya. Tak perduli tua muda, pria atau wanita.


"keamanan dan ketangguhan desa ini tergantung dari warganya, jangan terlalu berharap dari orang lain" ucap Chuan.


"kami pasti ikuti apa kata tuan muda" ucap Sin Wan.


"tolong, tuan muda memberi nama untuk desa kita" ucap kepala desa.


"hahaha, desa sudah lama berdiri tapi tak bernama" tawa Chuan terdengar.


"Lembah Suci, apa kalian setuju" lanjut Chuan


"hahaha,,, nama yang bagus" ucap kepala desa


"kami setuju" sahut mereka yang hadir


"bagaimana kalau tuan muda jadi leluhur desa kita" ucap pria paruh baya disamping kepala desa.


"siapa namamu paman" tanya Chuan santai


"Sin Thao" jawab pria tersebut.


"aku masih terlalu muda untuk menjadi leluhur" ucap Chuan sambil tersenyum.


"hihihi" tawa Meilin terdengar dan diikuti tawa pelan dari lainnya.


"kuatkan desa kalian" lanjut Chuan. Jika nanti ada warga yang mencapai tahap suci dirikanlah klan dilembah ini. Dan mengatur pembagian wilayah bagi desa kecil lain dipegunungan ini.


Buat mereka hidup saling berdampingan dan tidak terus berpindah pindah.


"bantu mereka dengan berbagi pengalaman" ucap Chuan.


"apa kami bisa" tanya Sin Thao.


"kalau kalian kuat dan ada yang ditahap suci, mereka pasti mendengar" ucap Chuan


"maksudnya apa bisa kita mencapai tahap suci" lanjut Sin Thao.


"paman Sin Thao, Sin Wan dan kepala desa saat ini sudah ditahap langit, teruslah bersemangat dalam berkultivasi, aku yakin nanti bisa ketahap tersebut" ucap Chuan.


"ohhh terima kasih Chuan, kami memang sedikit putus asa untuk itu" ucap Sin Wan


"tumbuhkan semangat dan motifasi pada diri kalian" ucap Chuan


"resep arak yang aku berikan pada Tabib Ho bisa menjadi sumberdaya untuk kultivasi kalian" lanjut Chuan. Jangan memaksa Tabib Ho membuatkannya. Kalau dia sudah menguasai resep tersebut maka warga desa nantinya pasti menikmati hasil karyanya.


"untuk dibawah tahap bumi satu galon arak larutkan satu pil, untuk tahap bumi keatas larutkan tiga pil" ucap Chuan sambil mengeluarkan sepuluh botol obat. Tiap botol berisi sepuluh pil, Sin Wan diminta untuk menyimpannya.


Setelah cukup memberi penjelasan, Chuan dan Meilin pamit untuk kembali ke kamp. Raut sedih terlihat diwajah mereka.


"dua, tiga bulan ini aku masih dikota duocan, datanglah dipenginapan Lou Sin, aku akan menemui kalian disana" ucap Chuan lalu memacu kudanya.


Malam itu, diruang pertemuan telah berkumpul dua ratus orang lebih. Sebagian dari mereka masih bertanya tanya kenapa dikumpulkan. Sudah hampir satu jam menunggu kedatangan Chuan.


"memang apa kuasanya anak itu"


"hanya seorang tetua sekte"


"iya, mentang mentang menantu kaisar"


Jendral Erlong dan Xhuan merah padam untuk menyembunyikan kemarahan dalam hatinya. Keduanya hanya menundukkan kepalanya sambil terus menajamkan pendengarannya. Suara dan gumanan para prajurit tersebut didengar oleh keduanya.


"pantas Tetua Chuan mengumpulkan mereka didaftar hitam" ucap Erlong


"iya paman, aku juga tak menyadari sebelumnya" balas Xhuan. Percakapan pelan paman dan keponakannya terjalin dan semakin salut pada Chuan.


Tak lama berselang, pintu samping ruang pertemuan terbuka. Sosok pemuda dengan santai masuk dan duduk disebelah Erlong.


"salam tetua" ucap Erlong dan Xhuan.


"salam, silahkan dimulai" ucap Chuan.


"latihan lanjutan untuk menjadi prajurit khusus sangat berat" ucap Xhuan. Namun hingga saat ini hanya seratus orang yang menjadi prajurit khusus dan mereka tidak menduduki jabatan apapun di lingkup kekaisaran.


Sebelum pelatihan lanjutan, mereka akan diambil sumpah setianya pada Kekaisaran Jing dan sekte hutan suci.


"apa kalian sanggup" teriak Xhuan.


"siap komandan" jawab komandan kelompok, selain tiga komandan dan prajurit yang didaftar Chuan.


"ada apa" tanya Xhuan.


"maaf komandan, kami akan setia, siapapun pemimpin dikekaisaran kenapa harus ada sekte hutan suci" tanya seorang komandan kelompok yang sebelumnya diam


"seandainya berganti dengan kekaisaran han apa kalian masih setia" tanya Xhuan


"selama jadi prajurit, kami tetap setia" jawabnya


"apa yang lain juga seperti itu" tanya Xhuan


"siap komandan" jawab mereka serentak.


"baiklah, malam ini kalian semua kembali keakademi militer dengan rekomendasi dari kamp" ucap Xhuan.


"maaf komandan, kalau kami bersumpah setia pada sekte hutan suci apa yang terjadi selanjutnya" tanya perwakilan mereka


"kalian akan memasuki pelatihan yang sangat kejam dikamp sekte hutan suci" jawab Xhuan


"kami memilih pelatihan khusus di akademi militer" jawabnya.


Dengan itu, maka mereka akan menempati pos pos tertentu yang lagi kosong.


"apa kalian siap" tanya Xhuan


"siap komandan" jawab mereka. Mendengar jawaban mereka Komandan Xhuan mengangguk sambil tersenyum. Dia lalu keluar meninggalkan ruangan tersebut.


"untuk tujuh belas komandan regu, silahkan berkumpul sendiri disebelah kanan, yang lain mengisi data dan segera berbenah" ucap Erlong tegas.


"siap jenderal" jawab ketujuh belas prajurit tersebut.


"siap jenderal" jawab yang lainnya.


"demi keamanan kalian, sebaiknya berangkat bersama sama" lanjut Erlong.


"baik jenderal" jawab mereka semangat.


"para senior, silahkan tinggalkan ruangan ini lewat pintu kanan" ucap Erlong


"siap jenderal" jawab mereka lalu berjalan meninggalkan tempat tersebut.


Komandan Xhuan menunggu prajuritnya diruangan samping. Saat seratus prajurit telah berkumpul dia mulai perencanaanya.


"bagaimana menurut kalian" tanya Xhuan


"jika mereka dibiarkan hidup, para calon pemberotak itu" jawab seorang prajurit.


"jika mereka tumbuh, maka rencana pemberontakan teesebut akan semakin kuat" jawab temannya.


"apa rencana kalian" tanya Xhuan.


"dua puluh orang akan mengatasi mereka, tiga puluh lainnya menyebar diarea penyergapan"


"sedang yang lain" lanjut Xhuan


"yang lain biar menunggu untuk pesta malam ini"


"baik tapi kubur atau perabukan mayat mereka"


"siap komandan" jawab mereka lalu melesat keluar dari ruangan tersebut.