
Chuan mengambil tempat duduk. Semua kursi telah ditata sebelumnya oleh Teysan dan teman temannya dihalaman rumah. Mereka saling memperkenalkan diri. Sebelumnya hanya saudara Yan dan Cao yang Chuan kenal.
"bagaimana istrimu" tanya Chuan pada Sukai, yang istrinya baru ditolong Chuan.
"kondisinya masih lemah" jawabnya.
"apa dia sudah tidur"
"sebentar" ucapnya lalu masuk kerumah.
Tak lama dia keluar dengan seorang wanita yang terlihat pucat. Dibelakang mereka berdua, terlihat para wanita yang lain juga keluar.
"terimakasih, Chuan" ucapnya.
"sudahlah tak perlu peradatan seperti itu, duduklah" ucap Chuan lalu menjelaskan maksudnya. Kita yang dirumah ini semua menganggap satu dengan yang lain adalah saudara.
Racun yang ada dirahimmu belum sepenuhnya hilang. Untuk itu, aku tak bisa membantu. Kalau berkenan biar Nenek Hong dan Bibi Fei yang mencoba mengobatinya. Nanti akan terasa sakit, dan Chuan takut dalam proses pengobatannya.
"agar tidak mengganggu anak anak kalau diobati ditempat terbuka bagaimana" tanya Chuan.
"dimanapun tempatnya yang penting aku bisa sembuh" jawab istri Sukai.
"bibi tolong ambilkan minum" ucap Chuan.
Kemudian dia memberikan pil nutrisi hijau pada istri Sukai. "minum dulu pil ini" ucap Chuan lalu pergi masuk kerumah. "bibi, masukkan pil ini ditempatnya" ucap Chuan yang menyerahkan pil penawar racun sebesar jari telunjuk dan sudah dimasukkan qi murninya. Kemudian dia memberitahukan caranya pada Bibi Fei. Dengan merah padam dia tahu yang dimaksudkan oleh Chuan. "mengertikan bi" tanya Chuan.
"iya" jawabnya sambil tersipu.
"kenapa wajah bibi" usil chuan.
"achh, mesti kalau usil" ucapnya lalu meninggalkan Chuan.
Setelah duduk, dia menjelaskan kalau tempat pengobatannya ditempat latihan. Dia juga menyarankan untuk memakai kuda. Ternyata para wanita ikut semua ketempat latihan. Sedang para laki laki asyik mendengarkan cerita para tetua.
Malam berganti pagi, para wanita belum kembali dari tempat latihan. Dengan ketajaman matanya Chuan mengamati mereka.
"huh, ternyata malah bermain disungai" guman Chuan. "hari ini berlatih renang lagi" ucap Chuan pada anak asuhnya.
"baik kak" jawab mereka lalu semburat pergi kearah sungai.
Para tetua dan yang lain mengikuti dari belakang. Sedangkan Chuan masuk kedalam rumah dan tidur diruang depan.
Pagi ini terjadi kehebohan dialun alun kota, karena terdapat lima puluhan pemuda yang terikat disana. Didalam kediaman walikota terlihat istri kedua dan dua anaknya sedang tertunduk lesu.
Kemarahan walikota sudah memuncak. Semua fasilitas untuk ketiganya ditiadakan, selain tempat tinggal dan jatah bulanan. Dentian anak keduanya yang rusak, dia tidak bisa membantunya.
Walikota, penatua dan tetua sekte yang telah mengadili istri kedua walikota dan anak anaknya lalu menuju alun alun. Para murid sekte, pasukan keamanan dan warga sedang berkumpul. Walikota dan yang lain naik kepanggung.
Setelah para warga tenang, Tetua Zhao menyampaikan kejadian semalam yang menimpa Klan Chu. Peran penting Chuan dan para tetua juga disampaikan. Selanjutnya walikota mengumumkan hukuman yang dijatuhkan pada istri keduanya.
Antusias dan sorak dukungan atas ketegasan walikota. Juga tentang Chuan yang ditunjuk menjadi Penatua Kehormatan. Dan banyak lagi yang disampaikannya. Mengenai hukuman pada para pemuda diserahkan pada tetua satu. Semua proses peradilan, berjalan dengan lancar.
Tak terasa tiga hari sudah berlalu. Kesehatan istri Sukai sudah membaik. Tak seorangpun yang membatalkan niatnya untuk ikut membuka tempat baru dihutan suci.
Rombongan berkuda memecah keheningan pagi. Dibelakang ada tiga kereta sederhana tapi kuat sedang dikawal dua belas orang yang berkuda. Dengan santai rombongan itu memacu kudanya.
Saat melewati batas kota terlihat pasukan keamanan begitu menghormati mereka. Perjalanannya terlalu santai, bahkan saat melewati hutan mereka berhenti. Setiap empat atau lima anak ditemani satu tetua untuk mencari tanaman obat. Semua tanaman obat diambil dalam keadaan hidup. Sebab rencananya, akan dibudidayakan.
Untuk rombongan kereta kuda, berkali kali berhenti untuk menunggu anak anak berkumpul dengan rombongan.