Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Selamatkan Dia


"aku akan berusaha tapi ada syarat yang seperti disampaikan paman Guan" ucap Chuan. Tetap dengan gaya santai dan seenaknya sendiri.


"terserah, cepat sembuhkan" kata Xulien tetap sinis.


"baik, siapkan bak mandi besar penuh air bersih, lima galon air bersih, dua galon arak, tungku pembakaran, baskom dan handuk kering yang banyak" ucap Chuan tegas.


"kau" ucap Xulien sengit.


"kalau gak mau ya sudah, hahaha" balas Chuan seenaknya. Kemarahan Xulien dan anak anaknya mulai tersulut.


"paman minta pelayan untuk menyiapkan semuanya" ucap Yosue pada seorang penatua.


"baik" jawabnya lalu pergi.


"Ceiyun, minta tolong Tetua Gun dan satu muridnya agar membantu" ucap Chuan.


"siap" ucapnya lalu berpamitan pada semua orang.


Dengan sigap beberapa pelayan mulai membawa pesanan Chuan. Dia juga mengatur penempatan semua barang itu. "tuh semua siap" hardik Xulien, dengan tatapan sinis.


"yang membantuku, dia, dia dan yang lain" ucap Chuan seperti apa yang disampaikan Patriak Lion.


"sialan, aku anaknya" teriak anak keduanya yang tidak disebut Chuan. Terlihat keduanya mengepalkan tangan tanda menahan amarah mereka.


"yang tidak aku sebut silahkan keluar" ucap Chuan.


"aku mau lihat caramu menyembuhkan suamiku" ucap Xulien geram.


"kalian atau aku yang keluar" ucap Chuan. Membuat mereka yang tidak disebut Chuan, membuat sedikit keributan didalam kamar.


"kalian punya hati apa tidak, lihat ada yang lagi kristis malah ribut sendiri" teriak Chuan membuat semuanya diam.


"kalau mau tetap ribut silahkan aku pergi, tuan walikota mau hidup atau mati bukan urusanku" lanjut Chuan sambil melangkah pergi.


"Chuan" teriak Yosue mengejar Chuan.


"selamatkan dia" lanjutnya.


"kalau masih ribut bawa ketempatku, akan aku usahakan" ucap chuan.


"Chuan, kami akan keluar" ucap penatua yang tadi ikut kericuhan kecil itu.


"silahkan tanpa kecuali" ucap Chuan mulai geram.


"awas kau" ucap anak kedua walikota mengancam.


"whahaha, emang aku pikirin" timpal Chuan.


"huhh" geram keduanya. Sambil melangkah keluar kamar tersebut.


"buka seluruh pakaiannya" ucap Chuan lalu dua penatua dan Yosue melakukannya.


"paman Guan, minumkan larutan obat pelan pelan" ucap Chuan yang sedang mempersiapkan jarum peraknya.


Sedikit demi sedikit larutan obat dapat diminumkan pada walikota.


"semuanya" tanya Chu Guan.


"satu gelas aja belum, kog semuanya" kata Chuan. Chu Guan hanya tersenyum. dia merasa pertanyaannya salah.


Tangan kiri Chuan memegang semua jarum peraknya, tangan kanan memegang segelas arak yang sudah dialiri qi murninya.


"sudah berapa gelas" tanya Chuan.


"dua" jawab Chu Guan.


"sudah, ganti minumkan arak ini" ucap Chuan.


Hanya Chu Guan yang tahu akan kemampuan Chuan. Yang lain terdiam dengan berbagai kecamuk dalam pikirannya.


Anak ini mau ngobatin atau ngajak mabuk tuan walikota. Berbagai macam pertanyaan melintas dipikiran mereka.


"yang lain tolong dua handuk dipotong kecil kecil" ucap Chuan, setelah segelas arak habis. Chuan mulai focus dengan jarum peraknya. Satu persatu jarum menacap dititik akupuntur, mulai kening sampai tungkai kaki walikota.


Melalui telapak kaki walikota, dia menuntun qi murni yang cukup besar. Mengalirnya qi yang halus milik chuan membuat daerah disekitar jarum perak muncul bercak biru. Setelah dirasa cukup dia menarik tangannya dari telapak kaki itu.


"tiap orang minumlah segelas larutan obat" ucap Chuan sambil meraih potongan handuk. Satu persatu jarum perak dicabutnya. Dibekas tusukan jarum, menetes cairan biru gelap. Potongan handuk ditempelkan agar menyerap cairan itu.


Cairan juga keluar dari burungnya. Chuan meminta Yosue untuk mrmbersihkan bagian itu.


"kalau sudah bersih ditutupi handuk saja, jangan dimainin terus" ucap Chuan membuat wajah yosue memerah karena malu dan kikuk.


Ucapan usil chuan, sedikit memudarkan suasana tegang. Dia lalu memasukkan potongan handuk ketungku dan membakarnya dengan api biru dari ilmu naga api. Sedikit asap yang keluar mrmbuat semua orang saling pandang.


"yang minum larutan obat tidak akan terpengaruh asap ini" ucap Chuan menenangkan mereka.


"tok, tok, tok" terdengar pintu diketuk dari luar.


"teysan" ucap chuan. Teysan menuju pintu dan membukanya.


Tetua gun membawa dua muridnya masuk dalam kamar.


"ini tetua gun dan muridnya" ucap Chuan pada penatua dan Yosue. Semuanya lalu berbincang ringan, sambil menunggu arahan Chuan.


Sedang Chuan malah mulai tenggelam dalam meditasinya.