Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Cucu Penatua Klan Wu


Klan wu dicurigai sebagai wadah dari organisasi tersebut. Banyaknya klan cabang yang tersebar diempat benua membuat klan kecil tersebut seakan tak pernah masuk dalam pengawasan.


Beberapa bulan yang lalu, sekte hutan suci didatangi oleh dua penatua mereka. Selanjutnya ada tiga atau empat kali pembunuh iblis darah mendatangi sekte tersebut.


Kaisar Jing meminta keduanya untuk berhati hati.


"apa kau tidak akan mengunjungi Meilin" tanya kaisar saat Chuan berpamitan.


"aku akan datang lagi sekembalinya dari sekte hutan suci" jawab Chuan.


Keduanya lalu keluar dari ruang pribadi kaisar. Selanjutnya mereka bergegas kehutan suci. Saat malam keduanya tidak berhenti. Pil emas dan pil nutrisi membantu keduanya menstabilkan energi mereka yang terkuras.


Sehari semalam keduanya melesat dengan cepat.


"Chuan, aku akan ke klan wu" ucap Rouyan saat dipersimpangan.


"baiklah, aku kembali keaekte dulu" ucap Chuan.


Kemampuan setinggi Rouyan tak ada lawan di negeri daratan. Kecuali ada pendekar tersembunyi yang datang dari negeri awan atau yang pernah ketempat tersebut.


Untuk setingkat Chuan pun sudah sulit mendapat lawan tanding. Sebab tahap kaisar adalah yang tertinggi di empat benua. Bahkan jarang yang sanggup untuk menembus kaisar suci.


Pagi hari yang cerah, berbanding lurus dengan suasana riang dan berbahagia terpancar dari semua anggota sekte hutan suci. Kedatangan sosok Chuan memberi suasana tenang dihati semua orang.


Chuan melarang para tetua untuk membahas suasana sekte saat ini. Mereka hanya bercanda dan bercakap riang dalam dojo. Nenek hong dan yang lain juga ikut berkumpul. Murid inti dan para keamanan sekte turut serta mendengar percakapan dari luar dojo.


Perkembangan sekte saat ini jauh lebih baik daripada saat Chuan meninggalkannya. Pembangunan benteng telah sepenuhnya selesai. Bangunan sekte ditengah perkebunan obat telah berdiri, sedang perkebunan terus dikembangkan.


Para prajurit yang berlatih disekte sudah dipulangkan. Sementara murid inti yang tidak mendalami pengobatan dan pembuatan pil saat ini berlatih dibeberapa sekte. Bahkan ada juga yang masuk akademi dikekaisaran.


Siang hari telah datang. Percakapan mereka tetap pada perkembangan sekte dan murid muridnya. Seorang anak laki laki terlihat tanpa gerak terus menatap Chuan.


"Lin Dong, masuklah" ucap Chuan.


Seorang anak berjalan memasuki dojo dengan mata yang mulai sembab.


"hormat murid pada guru" ucap Lin Dong sambil sujud dihadapan Chuan.


"sudahlah, duduk disebelahku" ucap Chuan sambil tersenyum.


"bagaimana latihan Lin Dong" tanya Chuan pada Tetua Tian.


"tehnik yang kau berikan sudah dikuasainya" jelas Tetua Tian. Dia juga ikut latihan fisik dengan murid inti lainnya. Dan beberapa kondisi Lin Dong disampaikan pada Chuan.


Siang itu, mereka semua makan bersama didojo dan disekitarnya. Chuan terlihat santai dengan acara temu kangen yang mereka lakukan. Saat senja, dia juga berkeliling sekte untuk menyapa semua anggota keluarga besar sekte hutan suci.


Malam gelap mulai datang, Chuan, para tetua dan wakil tetua berkumpul dirumah Tetua Gun. Suasana santai masih tercipta meskipun mereka membicarakan permasalahan dengan klan wu.


Chuan meminta para tetua tidak keluar sekte untuk beberapa waktu kedepan. Biar masalah yang terjadi akan diurusnya sendiri. Para tetua tetap focus dalam mengembangkan sekte.


Para tetua adalah penentu arah dari sekte hutan suci. Sudah saatnya para tetua mengambil sikap yang tegas demi keutuhan sekte. Segala bentuk perselisihan, sebisa mungkin untuk diselesaikan dengan kekeluargaan.


"apa ada keluargamu diklan wu" tanya Chuan sambil menatap wakil tetua yang nama sebenarnya Wu Cin.


"tetua mengetahui identitasku" ucap Wu Cin dengan rasa penasaran.


"ibuku memang putri dari seorang penatua klan wu" jelas Wu Cin. Ayahnya adalah pendekar yang pernah ditolong oleh kakeknya. Namun karena hilang sebagian dari ingatannya membuat ayahnya tidak bisa menceritakan asal usulnya.


Kejadian tragis menimpa keluarga mereka. Sang kakek dituduh berkhianat dengan klan, karena beberapa kali gagal dalam tugasnya. Selain itu, dia sering menolak untuk membunuh beberapa tetua dari tiga sekte besar.


Bukan karena tidak mampu, tapi lebih dari hutang budi yang diterima kakeknya dari ketiga patriak sekte tersebut. Disebabkan oleh hal tersebut, secara perlahan kakeknya diracuni dengan racun pelumpuh saraf.


Saat kakeknya dalam kondisi lemah, dia dijatuhi hukuman mati. Sedang ayah dan ibunya yang memberontak keputusan tersebut juga terbunuh. Wu Cin yang masih berusia sepuluh tahun dilarikan oleh pengawal sang kakek.


Semua nasib hanya sang dewa yang mengaturnya. Pengawal kakeknya terbunuh oleh pengejaran pihak klan wu dan dia terjatuh disungai.Wu Cin tak tahu apa yang terjadi selanjutnya. Yang diketahuinya saat dia sadar, waktu itu sudah dalam perawatan patriak sekte rawa angin.


Panjang lebar Wu Cin bercerita sambil sesekali mengusap airmata yang tertumpah. Dua tetua juga membenarkan apa yang diceritakannya. Serta tak ada keluarga yang tinggal diklan wu. Namun jika mungkin dia ingin ikut balas dendam pada mereka.


Chuan hanya tersenyum mendengar penjelasannya.


"tak perlu memupuk dendam dihati, biarkan dewa menjalankan rencananya" ucap Chuan. Dia juga berpesan agar energi yang dihabiskan untuk menyimpan dendam, lebih baik dicurahkan untuk mendidik murid sekte.


Walaupun mampu untuk membalas dendam, apakah akan benar benar puas dalam hati. Boleh kita memerangi atau menghancurkan orang orang seperti itu. Tapi niatkan untuk melindungi mereka yang kita sayangi.


"terima kasih tetua" ucap Wu Cin sambil terisak haru, mendengar kata kata Chuan. Tak ada kehangatan dan kekeluargaan yang melebihi orang orang disekte hutan suci. Dari semua lapisan anggota sekte saling menghargai satu dengan yang lain.


Semua orang bekerja keras dengan porsi masing masing. Bahkan para tetua yang seharusnya bisa tenang dan hidup enak jika disekte lain. Tetapi di sekte hutan suci, semuanya bersatu untuk terus membangun sekte.


"mulai kami dari rawa angin bergabung, kami sudah berjanji untuk berjuang bersama dengan jiwa dan raga" lanjut Wu Cin.


"terima kasih" ucap Chuan.


Masalah klan wu dibenua selatan, kita hanya menunggu berita yang akan datang dalam beberapa hari kedepan. Tak perlu resah atau berencana untuk balas dendam.


Percakapan mereka berlanjut hingga larut malam.


"maaf tetua" ucap Tetua Tian saat Chuan mengajak yang lain menikmati arak dengan santai didojo.


"ada apa" tanya Chuan


"kami penasaran dengan pencapaian Tetua Chuan saat ini" ucap Tetua Tian diiringi anggukan yang lain.


"hahaha" tawa Chuan menggema diikuti dengan luapan energi yang besar keluar dari tubuhnya.


"braaakkkk" terdengar suara runtuh dari rumah Tetua Gun.


"apa kalian ingin sekte yang susah payah kita bangun ini hancur" ucap Chuan sambil menekan tahap kultivasinya.


"huhhhh" guman para tetua sambil menyeka keringat yang keluar saat menahan tekanan energi Chuan.


"ada apa ini" teriak Nenek Hong yang datang bersama Chu Fei dan istri para tetua lainnya.


"hahaha, Tetua Tian dan Tetua Gun yang mencoba mengeluarkan seluruh kekuatannya" ucap Chuan sambil tertawa dan melangkah pergi kearah dojo.


"hahaha"


"hehehe"


"he he he" tawa pelan terdengar mendengar Chuan yang usil dengan menyalahkan orang lain.