Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Menikah


Lebih dari tiga ratus murid yang kini disebar dibeberapa sekte besar golongan putih dan netral. Yang terbanyak murid yang dikirim ke akademi militer atas permintaan Komandan Xhuan.


Murid sekte yang keluar rata rata berada ditahap bumi tingkat satu. Tapi ditempat baru, mereka menekan tahap kultivasinya sampai ditahap mahir awal.


Pergaulan dan persaingan antar murid disekte lain, diharap bisa mengasah dan memberi warna baru dihati mereka. Sehingga saat mereka dilepas dan bermasyarakat tidak terkejut akan segala keruwetan serta situasi yang akan dihadapinya.


Kaisar Jing hanya tersenyum puas mendengar penjelasan tersebut.


"kenapa tidak menjadikan perkampungan prajurit khusus sebagai tempat pelatihan" ucap Chuan setelah Tetua Tian selesai dengan penjelasannya.


Didaerah pegunungan Komandan Xhuan mendirikan sebuah perkampungan untuk memberi kenyamanan bagi keluarga prajurit khusus. Kaisar dapat memberi titah untuk menjadikan tempat tersebut sebagai pusat pelatihan pasukan khusus.


"Komandan Xhuan" tegur Kaisar Jing.


"maaf Yang Mulia, prajurit kami tidak berani mengajarkan tehnik yang didapat dari hutan suci" jawab Komandan Xhuan.


"mereka terikat janji, hanya sistem pelatihan yang bisa diterapkan pada prajurit yang terpilih" ucap Tetua Tian.


Untuk semua tehnik dan ilmu dari sekte hutan suci, Tetua Tian akan menyeleksi sendiri. Karena sekte hutan suci ingin menjaga tehnik kebanggaan sekte yang telah disempurnakan oleh Tetua Chuan.


"hahaha, pemuda yang dipandang sebelah mata saat pertama datang diistana" ucap Kaisar Jing sambil tertawa. Ternyata naga yang menyamar jadi domba. Pantas saja tak ada rasa takut saat berhadapan dengan siapa saja.


Bahkan saat ini kaisar tidak dapat merasakan tahap kultivasi Chuan yang sebenarnya. Hanya tahap bumi seperti para tetua menyembunyikan tahapannya. Untuk tahap suci para tetua, kaisar bisa melihat tingkatannya. Karena Kaisar Jing berada ditahap suci tingkat sembilan.


"tak perlu yang mulia meminta Tetua Chuan untuk memperlihatkannya" ucap Tetua Lifan. Beberapa hari yang lalu para tetua juga mempertanyakan hal tersebut. Akibatnya dua rumah tetua hancur untuk memuaskan rasa penasarannya.


"hahaha"


"hehehe" tawa pelan para tetua dan wakilnya terdengar setelah Tetua Lifan membalas ucapan Kaisar Jing. Mereka teringat kejadian robohnya rumah Tetua Gun.


Percakapan santai didojo terhenti saat para wanita dan murid sekte membawakan sajian dan buah buahan. Kaisar, keluarganya dan para pengawal tersenyum dengan kesigapan semua anggota sekte hutan suci.


Sambil menikmati jamuan yang tersedia, Kaisar Jing menyampaikan tujuan utama dari kunjungan tersebut. Putrinya tetap bersikukuh untuk melaksanakan sumpahnya.


Seperti yang Chuan saratkan, untuk bisa ikut perjalanannya dia harus ditahap bumi. Saat ini dia sudah ditahap tersebut. Tapi permaisuri sebagai ibu dari Meilin berharap agar Chuan mau menikah dulu. Sebelum Meilin ikut dalam perjalanan tersebut.


Semua yang hadir ditempat tersebut tersenyum bergembira menyambut penjelasan Kaisar Jing. Sedangkan Chuan hanya senyum kecil saat mengetahui semua orang sedang menatapnya.


Chuan yang biasanya berbicara seenaknya kini hanya bisa diam dan tersenyum. Beberapa tetua juga memojokkannya untuk tidak menunda pernikahan mereka. Bahkan Nenek Hong dan istri tetua yang lain juga ikut ikutan berbicara.


Dulu orang orang tersebut sering jadi korban keusilan Chuan. Kini mereka dapat membalas dengan kata kata usil yang membuat Chuan tersenyum kecut.


"apa tuan putri kurang cantik, kog Tetua Chuan diam saja"


"mau menikah kapan lagi"


"kalau tetua takut, nanti aku yang mengantar"


"biasanya tegas kog cuma senyam senyum"


"apa menunggu tua baru nikah, seperti aku" ucap Nenek Hong menimpali candaan yang lain.


"hahhhh, baiklah" ucap Chuan sambil menghela napas.


"aku tak ingin ada perayaan besar, cukuplah ada saksi dalam pernikahan kami" lanjut Chuan.


Suara tawa riang terdengar dalam dojo, saat mendengar jawaban Chuan. Putri Meilin juga terlihat senyum dengan wajah yang merona. Namun Tetua Tian terlihat bangkit dari duduknya dan berjalan didepan dojo.


"siapkan jamuan pesta, nanti malam Tetua Chuan dan Tuan Putri Meilin akan menikah" teriak Tetua Tian menggema keseluruh sudut disekte hutan suci.


"siap tetua" jawaban yang hampir bersamaan terdengar menggema. Kaisar dan rombongannya tersenyum mendengar keputusan mendadak dari Tetua Tian. Sedang Chuan hanya senyum sambil menggelengkan kepalanya.


Chuan tidak menyangka Tetua Tian mengambil tindakan cepat untuk pernikahannya. Tetapi sebelum meninggalkan sekte gunung suci, Chuan sudah berpikir juga untuk itu.


Siang sampai sore, kaisar dan yang lain berkuda melihat seluruh wilayah sekte hutan suci. Pujian ucapkan saat melihat berbagai pengaturan yang dilakukan ditempat tersebut.


Bahkan keamanan sekte juga disinggungnya. Menurut kaisar, keamanan mereka melebihi dari sekte besar yang pernah dikunjunginya. Banyaknya pos pos penjagaan membuat kaisar berdecak kagum.


Kaisar Jing mengungkapkan pada Tetua Tian, karena selama disekte hutan suci, dia merasakan ada kekuatan yang selalu memperhatikannya. Tetua Tian hanya tersenyum dan meminta maaf kalau dia tidak diberi kewenangan menjawab hal tersebut.


Sementara Chuan terlihat bermeditasi ditempat latihan murid sekte. Dia sedang menemui Patriak Lion dalam ruang jiwanya.


Patriak Lion menyampaikan kalau keputusan Tetua Tian tersebut, karena dia yang menyuruhnya. Ungkapan bangga pada peningkatan yang dicapai Chuan juga diucapkan Patriak Lion.


Mendengar segala pujian dari gurunya, tetes airmata Chuan jatuh. Rasa terima kasih atas bimbingan sang guru terucap olehnya. Didampingi oleh Patriak Lion sampai sejauh ini seakan tak bisa Chuan membalasnya.


Rasa haru, emosi, senang, bangga dan lain terkumpul dalam suasana keduanya. Hanya butir butir airmata yang menyiratkan perasaan keduanya saat ini.


Sebelum Chuan bangun dari meditasinya, Patriak Lion mengatakan kalau dia akan tinggal disekte hutan suci sampai dewa menjemputnya. Dia berharap, dimanapun Chuan berada agar bersikap sama seperti saat bersamanya.


Tetap rendah hati, meskipun tak banyak yang bisa menandinginya saat ini. Untuk kasus tertentu, dia tak menyalahkan kalau Chuan mengambil tindakan tegas. Tetapi tetap untuk menjaga keamanan dan keselamatan orang orang disekelilingnya.


Keduanya akhirnya berpisah. Patriak Lion kembali keruang jiwa Tetua Tian. Sedang Chuan yang bangun dari meditasinya menemui para tetua yang sedang mempersiakan acara tersebut.


Siang berganti malam. Suasana riang gembira terlihat dari wajah semua orang. Candaan antar murid sekte yang mengagumi Chuan juga terdengar. Mereka saling usil satu dengan lainnya. Namun bukan perpecahan yang terjadi setelahnya, tapi tawa yang keluar dari mereka.


Acara pernikahan sederhana didojo, terasa khidmat disaksikan keluarga kaisar, dan para tetua. Keheningan juga terasa diluar dojo yang dikelilingi seluruh anggota sekte dan prajurit kekaisaran.


Setelah kedua mempelai mengucap sumpah dan janjinya, suara riuh dan sorakan gembira terdengar diluar dojo. Ucapan selamat terus mengalir pada keduanya. Tangis kegembiraan dan doa terucap dari anak asuh Chuan sambil memeluknya.


Kaisar Jing dan permaisuri kagum pada kecintaan semua anggota sekte pada sosok Chuan.


"semua anggota sekte mengagumi dan mencintai Tetua Chuan lebih dari cintanya pada diri sendiri" ucap Tetua Tian.


Para tetua yang putua asa dan anak anak dari klan chu diceritakan oleh Tetua Tian. Anggota serikat dagang dan balai pekerja serta sekte rawa angin yang hancur, juga dikisahkannya.


Sebelum acara diteruskan untuk jamuannya. Tetua Gun mendatangi Chuan dengan guci besar berisi air laut. Chuan yang mengerti maksudnya, mengalirkan qi spiritual pada wajahnya.


"byuurrrrr" siraman air terdengar dan cahaya keemasan tipis menyelimuti Chuan.