
"chuan'er kenapa kepalamu" tanya kakek dan terlihat raut gelisah kala melihatku memegangi kepala
"ilmu pengetahuan dan pengalaman kakek begitu luasnya, membuat bingung dan sebagian sulit aku mengerti"
"whahahaha " terdengar tawanya lepas "kau salah chuan, itu pengetahuan dan pengalaman tabib dewa, aku juga memahami itu darinya" lanjutnya sambil tersenyum
"apa kakek sudah mempelajari semuanya?" Tanyaku penasaran
"kakek sudah lima puluh tahun mempelajari itu semua, sekarang sudah pada tahap pendekar dewa"
"wah ternyata kakek hebat"
"bukan kakek yang hebat tapi guruku, semua yang aku dapatkan karena energi qi darinya" ucap kakek sambil tersenyum
Malam menjelang, "duduklah diatas batu kristal dan posisi meditasi, setelah segel terbuka mulailah kutltivasi, serap energi yang nanti muncul"
"iya kek". Setelah posisi meditasi, kakek lalu duduk dibelakangku. "selama proses berlangsung ikuti semua kata kataku, jangan berhenti ditengah jalan sesakit apapun tahanlah dan apapun yang terjadi padaku abaikanlah"
Iya kek, aku sudah siap" kataku. "kosongkan pikiranmu, hilangkan semua keinginan dan pasrahkan diri pada kehendak dewa".
Tangan kakek menempel dipunggungku, aliran hangat mengalir, lalu berputar disekitar pusar, semakin lama bukan hangat lagi yang terasa. Panas dan semakin panas, keringat mulai keluar dari tubuhku. "bommm" terdengar letupan kecil dibawah pusarku. Seperti dicabik cabik sakitnya, muncul energi panas yang besar, "serap energinya maka dentianmu akan pulih dan semakin besar" terdengar suara kakek.
Rasa panas bukannya menghilang malah semakin menjadi, seakan semua tubuhku terbakar. Dentaianku pulih dan menampung lebih banyak energi. Tapi tetap tak mampu menampung semua energi yang ada, "Bomm" letupan terdengar lagi.
Prosesnya terus berlanjut, entah berapa kali letupan terjadi, aku terus focus dan berusaha tetap sadar. "alirkan energinya tulangmu" terdengar lagi kakek memberi arahan. Akupun focus sesuai arahannya. Serasa ribuan jarum kecil menusuk menyebar disetiap ruas tulangku. "krakkk", rasa linu yang tak terperikan.
"achhh" teriakku tertahan
"tahan chuan, teruslah jangan hentikan" ucapnya menyemangatiku.
"teruskan kultivasi, alirkan energi yang tersisa ke dentian, setelah penuh coba kau padatkan ubah energi qi nya menjadi qi murni" jelasnya lagi.
Tak tahu berapa lama proses ini aku lalui, tenggelam dalam kulivasi yang semakin dalam. Oh inikan dentian, kalau terlalu penuh sebentar lagi hancur. Dalam penjelasan sebelumnya membuatku bisa mengubah menjadi qi murni. Setelah menjadi qi murni isi dentian sisa tiada setengahnya, sisa energi yang menyimuti akhirnya habis mengalir ke dentian.
Tetap dalam posisi meditasi, kurasakan perubahan besar dalam tubuhku, energi yang besar bersemayan, tulang tulang yang kokoh dan fikiranku menjadi jernih.
"bangunlah" terdengar suara kakek.
Akupun bangun dan mendekat, "terima kasih kek" ucapku lalu bersujud dihadapannya, air mata mengalir deras, isak tangis tiada dapat ku tahankan, "terima kasih kakek" batinku berulang ulang. Lama tenggelam dengan derasnya derai air mata.
"bangunlah, kau cucuku chuan, tidak perlu seperti itu" ucap nya, tanpa ku sadari kakek juga berlinang air mata.
"ayo keluar, lama kau tidak menikmati hangatnya mentari pagi" ajaknya sambil berlalu keluar
"hehehe, lama apanya kek"
"kau pikir berapa lama meditasi mu" tanya kakek
"lha cuma semalam kan" jawabku
"whahaha" tawa kakek pecah, sedikit lama tawanya terdengar, aku hanya bisa bengong melihatnya, "dua tahun kau pikir semalam, kau yang gila apa kakekmu yang mulai pikun" lanjutnya
"ha,,," gumanku, memang ketika sakit yang ku rasakan seakan bertahun tahun disiksa dalam neraka. Tapi tubuhku yang semakin bugar saat bangun seakan baru semalam bermeditasi.
"sudahlah berhenti melamun, aku mau bakar ikan dulu, melompatlah dilaut lalu berenang sepuluh kilometer bolak balik sepuluh kali"
"iya kek" ucapku sambil berjalan, tenaga ku alirkan dikaki lalu melompat "kakekkkkk"..