
Sementara Chuan bermeditasi dipenginapan, Tian Sun dan Ninie menyelesaikan bisnis mereka. Lalu keduanya berangkat ketempat Chuan menginap. Keduanya membawa empat pengawalnya. Sepuluh bayangan melesat ke arah penginapan teratai putih.
Saat memasuki rumah makan yang seatap dengan tempat Chuan menginap, suasana menjadi sedikit berisik. Mereka membicarakan kelompok orang,yang baru datang. Yang satu pemimpin balai lelang mutiara seorang lagi pemimpin balai pedang langit. Dan delapan lainnya para prngawal mereka. Seorang pria gendut bergegas menghampirinya.
"tuan dan nona, apa yang bisa kami bantu" ucapnya
"apa ada tamu kalian bernama Chuan" tanya Ninie
"iya ada, sebentar nona" jawab orang itu lalu pergi memanggil Lin Wei.
"kedua tuan dan nona ini mencari Chuan" ucap pria gendut pada Lin Wei yang tiba dihadapannya.
"baik, akan aku sampaikan" ucap Lin Wei
Lin Wei berlalu pergi, namun orang yang sedang hadir ditempat itu semakin kasak kusuk. Berbagai pemikiran muncul dihati mereka. Tak lama sosok pelayan kecil muncul lagi.
"maaf Tuan Chuan sedang meditasi, nanti setelah selesai mereka akan turun" ucap Lin Wei dihadapan Ninie.
"anjing tak tahu diri" teriak pria gendut.
"plaakkkk" tamparan terdengar membuat tubuh gendutnya tersungkur.
"bangun" teriak Ninie
"maaf nona" ucap Pria itu
"siapa kau bilang anjing" tanya Ninie
"bukan nona, tapi Chuan itu" jawabnya
"plaackkkkk" tamparan lebih keras terdengar
"maaf nona" ucap pria gendut gemetaran.
Saat ini pria gendut yang selalu cari muka untuk penginapannya, sedang sial. Percakapan pelan terdengar dari meja meja yang lain.
"hehehe, maaf membuatmu menunggu paman" teriak Chuan sambil mendekati Tian Sun dan Ninie.
"salam tuan muda" keempat pengawal Tian Sun berdiri sambil menangkupkan tangannya.
"hahaha, silahkan duduk" ucap Chuan sambil melambaikan tangan pada keempatnya
"ini Paman Rouyan, yang menemaniku dalam perjalanan" ucap Chuan
Setelah keduanya berkenalan, Chuan lalu menatap Ninie.
"inikah istrimu, paman" ucap Chuan dengan santai.
Tian Sun terbatuk batuk mendengarnya, sedang Ninie memerah menahan kesal dihatinya.
"anak sialan" batin Ninie.
"sialan atau bukan tergantung pada suasana dan tempatnya" ucap Chuan sambil menatap Ninie
"kau" ucap Ninie tercekat mendengar kata kata itu.
"siapkan 12 pesanan seperti kemarin" ucap Chuan sambil menatap Lin Wei.
"baik tuan" jawabnya dan segera berlalu.
Chuan yang duduk berempat mulai berbincang santai.
Tak lupa Tian Sun memperkenalkan Ninie pada Chuan. Dan percakapan mereka tetap dalam suasana yang hangat. Kebanyakan yang mereka perbincangkan tentang keadaan di istana kekaisaran.
Meskipun sambil menikmati hodangan yang sudah datang, mereka terus menanggapi tentang rumor yang telah beredar. Putra mahkota sedang kritis, bahkan alkemis tingkat 6 menyerah untuk itu.
Chuan tetap dengan pembawaannya yang acuh tak acuh, memancing berita dari kedua orang itu. Ninie juga mengisaratkan adanya pergolakan di istana. Tapi hanya gambaran singkat tanpa menyebut inisial mereka.
Waktu terus berlalu, saat jam buka hampir habis.
"adakah yang Paman Sun risaukan" tanya Chuan
"sedikit masalah tentang pil pil dari sekte hutan suci" jawabnya
"kenapa" tanya Chuan lagi
"beberapa sekte besar minta alokasi lebih, juga pihak paviliun pil mengeluh" jelas Tian Sun
Pihak pavilliun pil memojokkan balai lelang sebagai perusak harga. Namun kantor besar mereka masih diam tentang masalah ini.
"biarlah para tetua yang menjawabnya" jelas Chuan. Tiga bulan lagi paman bisa mengungkapkan kalau sekte yang membuatnya. Sementara mengenai sekte besar, mereka harus menyiapkan bahannya jika minta alokasi lebih.
"sekte kalian baru berdiri, jangan menganggap diri terlalu tinggi" ucap Ninie
"bertahun tahun dan bahkan puluhan tahun sekte kami hidup dalam pelarian, meskipun harus berlari lagi tak ada masalah untuk itu" jawab Chuan santai
"dulu sekte pasir putih yang menguasai pembuatan pil dibenua ini" ucap Ninie
"pengetahuan nona ternyata luas juga, itu akar kami" jawab Chuan
"oohhh" guman Ninie
"berapa banyak pendekar suci disektemu" tanya Chuan
"kenapa kau tanya itu" ucap Ninie gusar
"pergolakan diistana, seharusnya sektemu yang pertama bergerak untuk menstabilkannya"
"hehehe, delapan pendekar suci yang melindungi istana saat ini adalah para tetua kami" jawab Ninie bangga
"nona" ucap Chuan saat mereka hendak pergi
"ada apa" tanya Ninie
"kalau tetua yang menjual pedang masih enggan melepaskan, boleh dia mengambil dariku andai mampu" ucap Chuan sambil mengeluarkan pedang dari tubuhnya.
"kau"
"itu"
"dia" teriak Ninie terbata karena terkejut. Sedangkan Chuan dan Rouyan sudah melesat pergi.
"sampai ketemu lagi paman, hahaha" gema teriakan dan tawa Chuan seakan tertinggal ditempat itu
"anak itu" guman Tian Sun
"bagaimana dia bisa" guman Ninie tertegun mematung
"ada apa" tanya Tian Sun
"bagaimana dia bisa mendapat bahan yang menyatu dengan pedang itu" ucap Ninie
"anak itu diluar imaginasiku, sebaiknya jangan menyinggungnya secara pribadi" ucap Tian Sun mengingatkan.
"baik, kami permisi dulu" ucapnya lalu mengajak para pengawalnya pergi.
***
Chuan dan Rouyan yang meninggalkan penginapan teratai putih, kini sedang duduk santai diteras kediaman Tabib Ho. Para penjaga tak berani memanggil tuannya karena dicegah oleh Chuan.
Keduanya asyik bercakap pelan sambil menikmati arak yang dibawakan para pelayan. Para prajuritpun terlihat nyaman dengan sikap santai dua orang tersebut.
Pagi yang cerah datang menghampiri. Kasak kusuk pelayan tentang Chuan terdengar anggota keluarga itu. Tabib Ho yang mendengar laporan itu bergegas keluar.
"oohhhh dicari kemana mana malah asyik disini" canda Tabib Ho dengan senang dan terkejut melihat beberapa guci arak yang kosong.
"wah, arak dirumah ini lebih enak daripada diluar" seloroh Chuan
"hehehe, Tetua Chuan tidak usah khawatir, masih ada lagi didalam" ucap Tabib Ho
"ayo masuk dulu" lanjut Tabib Ho
"disini saja, suasananya lebih santai" jawab Chuan
"baiklah" jawab Tabib Ho lalu duduk disamping Chuan.
"aku mendapat perintah untuk mencarimu, semua bahan sudah siap" ucap Tabib Ho
"baiklah nanti siang kita keistana, dan ajak Komandan Xhuan" ucap Chuan
"baik, aku akan persiapan dulu" ucap Tabib Ho
"silahkan" balas Chuan
Mentari beranjak meninggi, Chuan, Rouyan, Tabib Ho dan Lin Xhuan berangkat ke intana kaisar. Memasuki komplek istana, banyak tatapan yang menimbulkan desas desus diantara mereka.
Melangkah masuk aula, banyak pejabat, ratu selir dan putra putrinya menatap Chuan dan rombongan. Kaisar dan permaisuri saling tatap diantara mereka.
"salam yang mulia" ucap Tabib Ho dan Lin Xhuan sambil berlutut. Sedang Chuan dan Rouyan hanya membungkuk dalam.
"rendahan tak tahu diri"
"didepan kaisar tidak berlutut"
"anjing sialan tak tahu diuntung"
Hinaan dan cacian keluar dari tempat ratu selir dan para pangeran berada.
"diamm" teriak kaisar sambil berdiri. Chuan dan yang lain dipersilahkan duduk disebelah kanan kaisar. Tuan Qin dan dua temannya ada juga ditempat itu. Tanpa canggung Tuan Qin memperkenalkan dua temannya. Ternyata para alkemis tingkat rujuh.
"sebelum memulai prosesnya" jelas kaisar. Kalau Chuan berhasil, ada hadiah yang sudah disiapkan. Serta berhak memasuki gudang harta karun untuk mengambil satu item disana.
Pihak pavilliun juga akan memberikan token alkemis tanpa ujian. Dan beberapa lagi hak istimewa yang disampaikan oleh Kaisar jing. Namun jika gagal Chuan tidak akan mendapatkan tuntutan dikarenakan kondisi Putra Mahkota yang semakin kritis.
"itu janji dariku, adakah tuntutan lain" tanya Kaisar Jing
"aku hanya ingin tempat yang luas dan kosong untuk itu" jelas Chuan. Serta hanya Kaisar jing, Tuan Ho, Tuan Xhuan, Tuan Qin dan dua temannya yang boleh melihat proses pengobatannya. Selain itu tidak diperkenankan masuk.
"aku saudaranya"
"aku bibinya"
"dasar sombong"
"gila kau"
Hujatan yang sempat diam, kini keluar lagi.
"mohon yang mulia mempertimbangkannya, jika tidak maaf aku menyerah untuk itu" ucap Chuan tegas.
"baik aku setuju, ada tempat latihan yang tertutup dibelakang istana" jawab kaisar.
"Tabib Ho dan Komandan Xhuan, bawa pangeran ketempat itu" perintah kaisar
"baik yang mulia" jaeab keduanya serempak, kemidian meninggalkan tempat itu