Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Aku Titipkan Sekte Hutan Suci


Malam berganti pagi, namun suasana masih gelap. Chuan dan Rouyan telah sampai disekte hutan suci. Dengan suasana santai keduanya berbincang bincang didojo.


Rouyan menceritakan kondisi cucunya. Awalnya untuk menyerap lima pil emas, dia akan tertidur sebulan. Lambat laun semakin berkurang. Saat ini, untuk menyerap lima pil emas dengan sempurna dia akan tertidur selama tujuh hari.


Bahkan Rouyan mulai dapat menstabilkan qi nya. Namun belum bisa kembali ketahap kultivasinya yang dulu. Berbagai kebahagiaan dihatinya selepas pertemuannya dengan Chuan waktu itu.


Tetap dengan senyum santunnya Chuan mendengarkan cerita Rouyan selama ini. Kemudian Chuan memberi sebuah apel emas dan lima anggur dan segera menyuruhnya berkultivasi.


Setelah Rouyan berkultivasi, Chuan lalu memanggil penjaga yang sedang tugas didalam sekte. Enam penjaga datang dan menemani Chuan sambil berbincang santai.


Terlontar juga candaan Chuan tentang mereka yang berusia diatas lima puluh tahun dan belum berumah tangga. Dalam candaan tersebut, Chuan mendapatkan berita kalau beberapa wakil tetua ada yang berencana untuk itu.


Chuan memberikan masukan pada mereka untuk membicarakan dengan Tetua Tian jika hendak berumah tangga. Hal itu bertujuan untuk penyesuaian tunjangan yang diberikan sekte bagi mereka.


Tak berapa lama perbincangan mereka, sang mentari pun mengalirkan kehangatannya. Geliat aktifitas sekte mulai terlihat. Nenek Hong dan beberapa perempuan sudah mengetahui rencana kepergian Chuan.


Pagi itu mereka mengajak Chuan bertukar pikiran. Meskipun begitu, suasana santai tercipta. Sesekali gelak tawa terdengar ditengah tengah obrolan mereka.


Para murid dan yang lain mulai terlihat beraktifitas. Chuan dan yang lain akhirnya membubarkan diri. Setelah memberitahukan tentang Rouyan pada petugas keamanan, dia berkeliling memantau perkembangan sekte.


Rouyan telah dua hari tenggelam dalam kultivasinya. Chuan yang menyadari kalau dia sudah bangun segera menghampirinya.


"terima kasih Chuan" ucap Rouyan


"hehehe, bagaimana keadaanmu sekarang" tanya Chuan sambil tersenyum.


"banyak perubahan yang aku rasakan" ucap Rouyan


"kalau kita berangkat sekarang, apa kau siap" tanya Chuan


"kapanpun aku sudah siap" ucapnya.


"baiklah, aku berrsiap diri dulu" ucap Chuan


Chuan segera melesat menuju tempat Komandan Xhuan beristirahat. Kebetulan para tetua sedang berbincang santai ditempat itu juga. Setelah menyampaikan rencana keberangkatannya dan sedikit basa basi, Chuan lalu menuju tempat latihan.


Ditempat latihan, Chuan berbincang santai dengan murid sekte. Semua murid lama menangis saat Chuan berpamitan untuk pergi dalam waktu yang lama. Tak lupa Chuan berpesan agar mereka giat dalam berlatih.


Selain itu, jika nantinya mereka hendak berkelana seperti dirinya. Jangan sampai mencoreng nama baik sekte. Tetaplah mereka untuk patuh dalam arahan para tetua.


"sebab selain guru, anggaplah sebagai orang tua kalian" ucap Chuan.


Cukup banyak yang disampaikan Chuan pada kesempatan ini. Para wakil tetua yang ada ditempat tersebut juga menambahkan, pentingnya mereka mencari pengalaman didunia luar. Namun hal tersebut biarlah para tetua yang akan mengarahkan mereka.


Seperti senior mereka yang saat ini menambah pengalamannya disekte macan putih. Tak menutup kemungkinan yang lain juga akan disebar kesekte yang lain. Sedangkan untuk murid yang mendalami pengobatan dan pembuatan pil, Tetua Gun sedang mencarikan mereka sekte besar yang sesuai dengan mereka.


Bahkan serikat pembuat pil mulai melirik dan ingin merekrut beberapa murid. Sementara ini Tetua Gun masih ingin membimbing mereka. Juga menguatkan pondasi dan rasa memiliki sekte hutan suci dihati mereka.


"begitu juga sebaliknya" ucap Chuan menyelesaikan pesan pesan pada murid sekte.


Setelah memberikan pesan pada semua murid, Chuan lalu berpamitan untuk berangkat. Beberapa murid yang sejak diklan chu dekat dengannya, tak kuasa menahan air matanya. Mereka berlari memeluk Chuan, tetap dengan isak tangisnya.


Meskipun Chuan sering meninggalkan sekte, namun kasih sayang dihati anak anak tidak pernah berubah. Chuan melarang para wakil tetua yang hendak menyuruh mereka untuk melepaskan Chuan.


Setelah reda tangisan mereka, para murid itu akhirnya melepaskan pelukannya.


"hati hati kak"


"jangan lupakan kami"


"entah kapan, sempatkan untuk menengok kami" ucap mereka sambung menyambung. Mereka sesaat melupakan status tetua, tetapi sosok Chuan yang mereka sayangi melebihi siapapun.


Chuan melangkah keluar dari tempat latihan diiringi oleh para murid dibelakangnya. Sampai didojo, terlihat semua keluarga besar sekte hutan suci berkumpul untuk melepas kepergiaannya.


Tak ada suara terdengar, hanya isak mereka yang mengiris hati. Didepan mereka semua Chuan mulai bebicara. Mau dibawa kemana sekte ini, semua tergantung pada semua orang. Bukan hanya para tetua, namun sumbang sih dari seluruh anggota keluarga besar sekte hutan suci.


"aku titipkan sekte hutan suci pada semua anggota keluarga besar sekte" ucap Chuan


"siap tetua" jawab mereka sambil terus terisak.


Chuan lalu menangkupkan kedua tangannya dan pamit untuk berangkat. Setelah melihat balasan para tetua dan yang lainnya, Chuan segera melesat diikuti Rouyan dan Komandan Xhuan.


Cukup lama mereka bertiga melesat meninggalkan sekte hutan suci. Komandan Xhuan mengajak ketempat yang terbuka diluar wilayah klan tian.


"suiiitttt" terdengar peluit melengking yang ditiup Komandan Xhuan. Tak selang lama, titik putih diangkasa berubah menjadi besar saat mendekati mereka.


Elang putih besar terlihat mendarat tak jauh dari mereka.


"elang ini yang akan mengantarkan kita" ucap Komandan Xhuan.


"husshhhh, hussshhhh" hembusan terdengar dari elang iru sbil mengangguk pada Chuan.


Tatapan mata Chuan yang bertemu pandang dengan sang elang, membuat elang itu menunduk. Chuan lalu mendekatinya dan mengusap kepala elang itu. Sebuah apel emas diberikannya pada sang elang. Tanpa menunggu lama apel emas segera ditelan elang putih.


Melihat sikap elang putih, Komandan Xhuan tertegun. Dia lalu mengajak keduanya segera naik dipunggung elang putih.


"ayo berangkat" ucapnya sambil menepuk punggung elang putih.


Kepakan sayap yang kuat mengangkat mereka dan melesat meninggalkan tempat itu. Karena hembusan angin yang kuat membuat debu beterbangan melepaskan kepergian mereka.


Ketiganya duduk santai dipunggung elang putih. Komandan Xhuan terkejut melihat Chuan dan Rouyan yang terlihat santai.