
Bahkan ada yang yang tertimbun longsoran. Raut kemarahan terlihat diwajah mereka.
"pendekar hitam!! nampakkan dirimu, bangs******" teriak seseorang dengan tenaga dalam.
Chuan diam diam melesat meninggalkan lereng tersebut. Dia menuju kota tiangkun, kota yang menjadi pusat klan gu.
Hangat mentari pagi menyapa, geliat warga kota mulai terlihat. Banyak pendekar diantara lalu lalang warga yang sedang beraktifitas. Chuan dengan santai melangkahkan kaki, dia mencari kedai yang ramai pengunjungnya.
Memasuki kedai yang cukup besar, chuan langsung menuju bangku kosong.
"pesan apa" ucap pelayan sinis sambil memberikan daftar menu.
"Ayam pedas dan dua arak" ucap chuan sambil mengembalikan daftar menu dan menaruh koin emas diatasnya.
Pelayan tersebut menerima dengan wajah terkejut. "sisanya ambil saja" lanjut chuan dengan cuek.
"te terimakasih tuan" jawabnya bingung lalu pergi meninggalkan chuan.
Satu persatu pengunjung memasuki kedai.
"silahkan tuan" ucap pelayan setelah meletakkan pesanan chuan.
"kembaliannya tunggu sebentar" lanjutnya.
"terimakasih" jawab chuan.
Sambil menikmati makannya, chuan menajamkan pendengarannya. Kasak kusuk berita sekte pasir darah hangat dibicarakan.
"siapa yang nekad seperti itu"
"pendekar hitam" terdengar percakapan beberapa pengunjung kedai.
Hari beranjak siang seorang laki laki paruh baya mendekati bangku kosong didepan chuan.
"boleh duduk disini" sapa orang itu.
"silahkan paman" ucap chuan.
"namaku gu han, kelihatannya baru dikota ini" ucapnya sambil memperkenalkan diri.
"namaku chuan, dari klan chu dan hendak mengadu nasib" jawab chuan.
Sambil menikmati araknya, chuan menanggapi ucapan gu han.
"silahkan tuan" ucap pelayan yang menghantarkan hidangan untuk gu han.
"paman kapan pesannya" tanya chuan.
Gu han yang ditahap bumi menyembunyikan tahapannya sampai ditahap mahir awal. Chuan hanya tersenyum mengetahuinya, bahkan dia juga menyembunyikan sampai tahap menengah.
"apa yang membuatmu tersenyum" tanya gu han.
"mereka ada yang senang, kasihan, bahkan menghujat pendekar hitam, memangnya ada apa?" ucap chuan seakan akan penasaran.
"ohh itu" ucap gu han.
Dia lalu menceritakan berita hari ini. Ternyata dia juga merasa senang atas hancurnya sekte tersebut. Meskipun kota tiangkun dua kaliĀ lebih besar dibanding kota kingsan diklan chu, tapi suasananya lebih tenang disana.
Sekte yang semalam disatroni pendekar hitam telah menancapkan pengaruhnya kota tiangkun. Banyak pengusaha dan orang orang berpengaruh di kota tiangkung adalah taklukan mereka.
Saat ini pihak keamanan dan para pendekar sewaan sedang bersiap kesana. Mereka akan membantu sekte tersebut. Karena mereka adalah sebagian dari mereka adalah anggota sekte tersebut. Banyak penjelasan yang disampaikannya.
Tak terasa hari sudah siang, chuan dan gu han keluar dari kedai. Keduanya mengambil arah yang berbeda. Chuan dengan santai melenggang, melihat penataan kota tiangkung.
Banyak bangunan besar kokoh berdiri. Kios dan kantor cabang beberapa serikat saling bersaing akan kemegahannya.
Balai lelang mustika, sebuah papan nama yang mengusik rasa penasarannya. Dengan santai chuan memasuki tempat itu. Penampilan yang sederhana dan wajah jeleknya membuat penjaga sinis saat chuan masuk.
"mau cari apa" tanya pelayan sinis.
"boleh lihat dulu, siapa tahu ada yang sedang aku cari" jawab chuan.
"disini bukan tempat melihat lihat, kalau tidak punya koin keluar saja" ucap pelayan tersebut.
"maaf telah mengganggu, sebelum pergi tolong titip buat kepala cabangmu" ucap chuan sambil memberikan satu apel emas, kemudian bergegas pergi dari tempat itu.
Keluar dari pintu dengan cepat dan pergi menjauh. Didepan rumah makan dan penginapan segera dia memasukinya.
"mau apa, kami lagi sibuk" hardik seorang pelayan.
"ada kamar kosong" tanya chuan.
"kamar disini sepuluh koin perak sehari" ucapnya sinis.
"ini untuk sepuluh hari" ucap chuan sambil melempar satu koin emas. Membuat pelayan tersebut bengong dan sedikit cemas.
"a a aku siapkan dulu" ucapnya tergagap.
"tak usah disiapkan, tunjukkan saja" ucap chuan datar.
"s s si silahkan" ucapnya dengan raut pucat. Chuan diantar pelayan tersebut kekamarnya.
"maaf sikapku, tuan" ucapnya.