
Sebelum chuan terjun kesungai patriak lion akan masuk kecincin naganya. Dia yang akan memeriksa apa yang chuan temukan nanti. Lanjut patriak lion menjelaskan.
Seberkas cahaya keluar dari tubuh chuan dan menghilang dicincin naganya. Chuan lalu mengalirkan qi keseluruh tubuhnya. Bahkan dibagian mata dialirinya sedikit lebih besar.
Semua indera chuan seakan lebih peka dengan alam. Matanya juga tajam mengawasi sekitarnya. Sinar rembulan yang menyapa membuat suasana seperti siang hari bagi chuan.
Setelah mengeluarkan tongkat langit dan mengambil nafas, chuan meluncur terjun kesungai. Tak dirasakan dinginnya air sungai. Dia langsung menuju ketempat energi itu berada.
Setelah yakin dengan titiknya chuan mulai menancapkan tongkatnya. Lubang selebar satu meter mulai tercipta. Setelah kedalaman satu meter tongkatnya membentur sesuatu yang keras.
Fluktuasi energi semakin kuat dirasakannya.
"lubangnya kurang lebar chuan" pandu patriak lion. Setelah lubang dua meter maka terlihat peti sepanjang satu meter lebih. Chuan semakin mengeraskan usahanya. Tak lama peti dapat sedikit diangkatnya.
"jangan dibawa, masukkan kecincin naga" teriak patriak lion. Dengan energi qi yang besar ditangannya, chuan mengangkat peti tersebut dan dimasukkan kecincin naga.
"tetap menyelam dan jangan keluarkan energi qi, sekarang berenang ikuti arus sungai" lanjut patriak lion berbicara lewat pikirannya. Chuan menyelam dan melesat mengikuti arus sungai. Lebih satu kilometer jarak dia dari tempat semula.
"dikananmu ada hutan kecil, keluarlah dari sungai" pandu patriak lion. Dengan berpijak dasar sungai, chuan melesat keluar menuju kehutan yang dimaksud gurunya.
Didalam hutan dia duduk didahan pohon yang rindang. Energi qi yang dialirkan keseluruh tubuhnya membuat pakaiannya cepat kering.
"guru" panggil chuan pada patriak lion.
"selamat chuan" ucap patriak lion.
"apa yang kita temukan" tanya chuan penasaran.
Dan yang lebih berharga lagi, dua mustika langit yang memancarkan energi pasitif. Kedua mustika tersebut ditempatkan pada dua kotak dari batu giok. Jadi energi tersebut yang memancar keluar. Sedang yang lainnya hanya batu biasa sebagai pemberat. Patriak lion memberi penjelasan pada chuan.
"segitu banyaknya" tanya chuan bingung.
"kekayaan ini lebih besar dari milik seluruh klan chu" ucap patriak lion.
Semua barang berharga sudah dikeluarkan patriak lion dari peti tersebut. Demi keselamatan orang orang disekitar chuan sebaiknya dalam beberapa hari kedepan dia tetap didalam penginapan.
Setelah keluar hutan, peti yang berisi batu tersebut sebaiknya diletakkan dibelakang sekte utama clan chu. Dan dengan ilmu bayangan naga segeralah kembali ke penginapan sesudah itu. Maka kecurigaan tidak akan tertuju pada chuan. Panjang lebar patriak lion memberi penjelasan.
Arah tempat sekte berada juga ditunjukkan patriak lion.
"sekarang keluarkan kotak giok dari cincin naga" ucap patriak lion. Sebuah kotak hijau pekat chuan keluarkan.
"buka sebentar lalu masukkan lagi dan melesatlah ketempat yang direncanakan" kata patriak lion.
Fluktuasi energi positif yang sangat besar terpancar saat chuan membuka tutup kotak giok. Tak lama dia menutup kembali.
"cepat pergi" teriak patriak lion.
Chuanpun segera melesat setelah memasukkan kotak giok kecincin naga. Cepat sekali chuan melesat, hawa keberadaannya tersembunyikan oleh ilmu bayangan naga. Segeralah pula dia kembali kepenginapan setelah peti diletakkan dibelakang sekte.
Energi yang terpancar walau sebentar membuat qi murni yang chuan keluarkan hari ini pulih kembali. Selain itu pancaran energinya masih membekas disekitar pohon tempat chuan sembunyi. Beberapa pendekar yang merasakan pancaran energi tersebut terlihat melesat.
Puluhan pendekar tahap mahir dan bumi berkumpul disekitar pohon tersebut. Pendekar golongan putih, hitam atau netral disitu. Juga ada beberapa pendekar pengelana.