
Malam yang seharusnya sunyi kini menjadi riuh. Chuan dan para tetua hanya diam. Mereka tak mau menceritakan kejadian sebenarnya.
Rumah Tetua Gun rusak parah, sedang rumah Tetua Tian juga terkena imbasnya. Chuan meminta semua orang kembali beristirahat. Pembenahan rumah tetua dimulai esok hari. Sekalian Tetua Gun dan Tetua Lifan pindah kerumah diperkebunan.
Para pekerja biar merasa nyaman saat keduanya tinggal bersama mereka. Sedangkan rumah yang rusak dibangun lagi untuk dijadikan tempat pertemuan dan tamu sekte.
"tetua,,,, lihat" teriak seorang penjaga. Kilatan api cukup besar terlihat dari arah klan wu. Jauh diseberang sungai, terlihat beberapa tempat ada pendaran merah dilangit.
"sepertinya dari klan wu" ucap Tetua Gun.
"kita tak perlu kesana, untuk menghindari kesalah pahaman" ucap Chuan.
"dua rumah yang rusak biarkan dulu, sepertinya ada dua orang yang melesat menuju tempat ini" lanjut Chuan.
"salam, kami penatua klan wu minta untuk bertemu tetua sekte" teriakan menggema dari jauh terdengar.
"silahkan, kami sudah menunggu" balas Tetua Tian.
Dua penatua turun didepan para tetua, lalu diajak keduanya memasuki dojo.
"ada apa dengan rumah itu" tanya seorang penatua sambil menunjuk kedua rumah yang rusak.
"sedang ada kecelakaan ditempat kami, sudahlah ada apa dengan kunjungan ini" ucap Chuan
"kami mendapat teror dari tadi pagi" jelas penatua tersebut. Patriak klan dan keluarganya terbunuh. Begitu juga dengan beberapa penatua dan prajurit klan. Saat ini kondisi mereka telah dilumpuhkan.
Puncaknya, malam ini beberapa bangunan terbakar. Yang lebih parah lagi, bangunan gudang sumberdaya habis terlahap api. Keduanya meminta bantuan sekte hutan suci untuk membantu menyelamatkan warga.
"adakah warga yang terbunuh" tanya Chuan.
"sampai saat ini kami belum menerima laporan" jawab penatua.
"maaf, kalau nama Chuan disebut diklan wu apa tidak menimbulkan masalah" ucap Tetua Chuan
"memang kami menyelidikinya, dan saat ini lima pilar kami sedang dipanggil kantor pusat" jawab penatua tersebut.
"dia adalah Tetua Chuan, tetua satu sekte yang kalian cari" ucap Teysan sedikit geram.
"ohhh,,, dia" guman kedua penatua klan wu.
"kalian mencurigaiku dan beberapa kali menyusup disekte hutan suci, apakah pantas untuk minta bantuan kami" ucap Chuan tegas.
"ohhh, maaf itu keputusan dari patriak klan" balas penatua menjadi canggung.
"mendengar penuturan kalian, aku yakin warga biasa tak akan kena imbasnya dari kejadian tersebut" ucap Chuan. Kecuali ada pihak yang memanfaatkan serta memperkeruh keadaan. Chuan meminta kedua penatua memindahkan warga sipil untuk mendirikan perkampungan ditepi sungai, biar pihak sekte bisa membantu mengawasi keamanan mereka.
"tapi jika ada penyusup dari organisasi dibelakang kalian, maka jangan pernah berharap bantuan dari kami" ucap Chuan menyelesaikan semua pengaturannya.
"bagaimana kau bisa tahu" tanya keduanya hampir bersamaan. Tanpa sengaja keduanya melepas tahap suci awal tingkat satu.
"aku yang memberi tahu Tetua Chuan" jawab Wu Cin.
"siapa kau" ucap seorang penatua sedikit keras.
"pendekar suci tingkat satu, tak perlu berlagak ditempat ini" ucap Wu Cin menahan emosinya. Dia menjelaskan identitasnya, dan memberitahukan pembunuhan kakeknya. Sambil melepas tahap kultivasi yang berada ditahap suci tingkat tiga.
"ohhhh,,, kau Wu Cin" ucap kedua penatua terkejut. Selain identitas Wi Cin, juga tahap kultivasi yang sudah dicapainya.
"baiklah, kami permisi" ucap keduanya.
Kedua penatua yang selalu dihormati, kini hanya berjalan lesu keluar dari dojo. Kemudian mereka melesat kembali ke klan wu. Sedang orang orang sekte hutan suci kembali ketempat masing masing.
Sementara para tetua asyik bercanda diantara mereka. Tak terasa pagi menyambut dengan hangatnya mentari.
"terima kasih Tetua Chuan" ucap Wu Cin saat hendak meninggalkan dojo.
"sama sama, tak perlu kau kotori hatimu dengan dendam" ucap Chuan sambil tersenyum.
"hatiku sudah lega saat ini" balas Wu Cin.
"paman Teikong dan Teysan, buat beberapa menara pengawas dibekas kebun obat" ucap Chuan. Kebun obat yang menjadi penopang awal sekte kini hampir semua dipindahkan. Kedepan tempat tersebut akan digunakan untuk latihan murid sekte.
Selesai dengan pengaturan Chuan dan usul para tetua, semua anggota sekte bekerja dengan tugas masing masing. Chuan semakin senang melihat kesigapan mereka semua.
Hari telah berganti, seminggu sudah Chuan tinggal disektenya. Sementara Rouyan belum kembali menemui Chuan. Dari kejauhan Dia merasakan fluktuasi energi yang cukup besar. Puluhan atau bahkan ratusan orang menuju sekte hutan suci.
Aura yang dikenalnya ada diantara rombongan tersebut.
"kita kedatangan tamu, siapkan jamuan buat mereka" ucap Chuan pelan namun bergema karena energi yang disalurkannya.
Semua wanita bergegas menyambut seruan Chuan. Sedang para keamanan dan murid sekte berdiri dibenteng batu menyambut tamu yang dimaksud Chuan.
Chuan dan para tetua menunggu sambil melayang diatas dojo. Perpaduan ilmu naga terbang diawan dan ilmu menari diatas samudra yang diajarkan disekte hutan suci, membuat mereka yang berada ditahap suci bisa melayang.
Setahun ini banyak peningkatan yang terjadi. Terlihat Teysan, Teikong, Nenek Hong dan beberapa orang lagi sudah menembus tahap suci. Lebih dua puluh orang yang melayang diatas dojo.
"Kaisar Jing dan permaisuri datang berkunjung" teriakan menggema terdengar dari langit. bersamaan dengan itu muncul dua elang putih besar dan dua ratusan pasukan khusus dibawah pimpinan Komandan Xhuan.
"selamat datang Yang Mulia Kaisar dan Permaisuri" balas Tetua Tian dengan suara menggema. Sambil melesat kearah kebun obat yang saat ini sudah dikosongkan.
Dua puluhan orang turun dari punggung dua elang putih yang telah mendarat ditempat tersebut. Diikuti Komandan Xhuan dan dua ratusan prajurit khusus yang dipimpinnya.
Chuan dan para tetua yang sudah lebih dulu turun ketempat tersebut menyambut rombongan Khaisar Jing. Semua orang berjalan kearah dojo dan masuk kedalam. Kaisar Jing tidak mau saat wakil tetua menyiapkan kursi untuknya.
Terlihat Kaisar Jing, permaisuri dan Putri Jing Meilin dengan santai duduk dilantai dojo beralaskan bantalan dari kain tebal. Lima tetua dan Komandan Xhuan telah mengetahui sikap santai Kaisar Jing dan keluarganya saat bersama Chuan.
"hahaha, kau bilang sekte kecil terus sekte besar itu seperti apa" tanya Kaisar sambil tertawa.
"hehehe, kami masih baru berdiri jadi tak berani mengklaim kalau menyamai sekte besar" jawab Chuan sambil tertawa kecil.
Kunjungan Kaisar Jing terkesan santai dan bukan kunjungan formal.
"maaf, adakah sesuatu hal sehingga Yang Mulia mengunjungi sekte kami" ucap Tetua Tian.
"aku ingin melihat sekte yang katanya kecil tapi bisa melatih prajurit kekaisaran, dan membuat kemampuan mereka meningkat dengan pesat" jelas Kaisar Jing.
Kalau para tetua tidak keberatan, kaisar ingin melanjutkan kerjasama tersebut. Mengenai kompensasi yang sekte terima bisa dibicarakan lebih lanjut. Selain kemampuan yang meningkat, sikap para prajuritnya juga berubah menjadi lebih tenang dalam menyikapi suatu permasalahan.
"maaf yang mulia" balas Tetua Tian. Daripada memecah konsentrasi tempat pelatihan, mengapa tidak membuat ditempat yang berdekatan dengan kota Doucan. Bahkan saat ini ada lebih dari seratus murid sekte hutan suci yang masuk diakademi militer.
Kami tidak bisa mengirim lebih karena beberapa murid kita sebar dibeberapa sekte untuk menambah pengalaman mereka.