
Hamparan pulau yang penuh dengan bebatuan. Berhiaskan berbagai jenis rerumputan dan beberapa tumbuhan perdu. Panas terik matahari teredam oleh hembusan angin yang membawa titik titik percikan ombak lautan.
Seharian mengelilingi dan melihat kondisi palau tersebut. Sampailah disebuah kolam kecil yang berada ditengah pulau.
"jangan menunda waktumu, mulailah untuk berlatih diruang jiwamu" bimbing patriak lion. Lalu memberi penjelasan agar chuan bermeditasi ditengah kolam. Kemudian memasuki ruang jiwanya untuk berlatih dibawah bimbingan patriak lion.
"baik guru" jawab chuan setelah mendengar semua penjelasan patriak lion.
Kemudian melangkah menuju kolam tersebut. Air kolam hanya sedikit diatas lutut tingginya.
"sedikit asin rasa airnya" guman chuan.
"kalau haus minum arak yang kau bawa, air ini sisa dari hempasan ombak yang besar" ucap patriak lion.
Setelah melepas dahaga dengan araknya, chuan lalu memulai meditasi. Energi yang padat dipulau itu, dibiarkannya memasuki tubuhnya dan langsung termurnikan menjadi qi murni yang mulai menetes pelan didentiannya. Kian dalam bermeditasi, chuan akhirnya masuk diruang jiwanya.
Saat berhadapan dengan patriak lion, chuan lalu berkata "apa yang akan aku pelajari guru?".
"aku hanya membimbingmu menguasai seratus gerakan jurus dari kitab semesta ilmu" kata patriak lion.
Dengan menguasai isi kitab tersebut maka chuan akan mudah untuk mencuri jurus orang lain. Walau hanya seratus gerakan jurus, tapi itu dasar dari berbagai jurus yang berkembang didunia persilatan. Dan banyak lagi penjelasan disampaikan oleh patriak lion.
Semakin semangat chuan mendengarnya.
"kalau kau sudah menguasai kitab semesta, tetaplah ingat pesan guru gurumu untuk tidak berlaku sombong" ucap patriak lion mengakhiri pengarahannya.
"aku janji akan selalu mengingat pesan dan bimbingan para guruku" jawab chuan.
Mulailah chuan berlatih dalam bimbingan patriak lion. Gerakan demi gerakan dia peragakan dan hapalkan. Sesekali patriak lion mengarahkannya agar posisi gerakannya sempurna.
Sesekali dia mengembangkan sendiri dengan menggabungkan pengetahuannya dari kitab samudra dan jurus pedang naga.
Gerakan jurusnya semakin variatif, terkadang lembut dan gemulai seperti alunan ombak samudra, tetapi kadang kejam membidik titik vital yang mematikan.
"berhenti dulu chuan, kamu sudah menguasainya dengan sempurna" sapa patriak lion.
"kembalilah untuk kultivasi, karena dentianmu sudah penuh dengan qi murni" lanjutnya, saatnya untuk chuan mengalami bancana petir suci hampir tiba.
Dentiannya seakan mengembang saat chuan keluar dari ruang jiwanya.
"bummb" terdengar dentuman kecil ditubuhnya. Sedikit terkejut chuan dengan keadaannya.
Untung patriak lion tidak terlambat menyarankan chuan agar keluar dari ruang jiwa dan berkulivasi. Dengan hati hati dialirkannya energi qi yang tersebar dan diputar keseluruh tubuhnya.
Dentiannya mulai terbentuk lagi dan sempurna. Sekarang lebih besar serta kuat dari sebelumnya. Qi murni terus chuan putar diseluruh tubuhnya.
Awan hitam terbentuk diatas pulau tanpa dia sadari, karena terlalu focus mengalirkan energi qinya untuk menguatkan tubuhnya saat petir suci datang.
"sebentar lagi petir suci datang, tahanlah dan tetap focus serta hati hati menyerap energinya" terdengar peringatan dari petriak lion melalui pikirannya.
"jdeerrrr" terdengar sambaran petir yang menerpa tubuhnya. Getaran hebat terlihat ditubuhnya. Energi kilat terlihat membungkusnya.
Rasa sakit yang tiada terkira membuat chuan mengatupkan giginya dengan kuat. Terdengar juga erangannya menahan rasa yang tercipta. Urat diseluruh tubuh terlihat tegang, otot ototnya juga mengembang. Dengan peluh yang menetes, dia dengan sangat hati hati menyerap energi petir.
Memasukan dan menyatukan dengan qi murninya. Qi murni yang tecampur energi petir perlahan chuan alirkan menuju dentiannya. Saat kedua energi tersebut dimurnikan kembali, menjadi qi murni yang berwarna keemasan dan terkumpul didentian