Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Gua Ditebing Gunung


Malam semakin larut, para tetua dan yang lain kembali dengan aktifitasnya. Chuan meminta Tetua Gun untuk menemaninya. Keduanya menuju ruang kultivasi khusus para tetua.


"aku minta beberapa pohon apel emas dan anggur darah" ucap Chuan.


"berapa" tanya Tetua Gun


"dua atau tiga tak masalah asal tidak mengganggu produksi pil untuk sekte" ucap Chuan.


"masing masing ada lima pohon yang bisa diambil, sedang yang lain masih dalam proses pembididayaan" jelas Tetua Gun.


"tiga saja cukup" ucap Chuan. Lalu mengeluarkan giok dimensi ruang dan membawaTetua Gun masuk.


"inj,,,, lebih luas"


"ohhh pohon itu,,,,"


"kolam suci,,,"


"ituu,,,,"


"kau,,,," tiap kata yang keluar hanya menunjukkan keterkejutan Tetua Gun.


"tetua juga punya giok yang sama meski dimensinya lebih kecil, kenapa harus terkejut" ucap Chuan


"hahahaha,,,, kau memang pintar membuatku gila" ucap Tetua Gun.


Masih sambil tertawa lepas, Tetua Gun mengeluarkan pohon yang diminta Chuan dan menanamnya didekat kolam. Tak perlu waktu lama, Tetua Gun sudah menanam semua pohon tersebut.


Chuan melesat dan memetik tiga buah dewa dan memberikan pada Tetua Gun.


"hanya tiga ini yang sudah masak" ucap Chuan


"buah yang ada dalam catatan kitab pengobatan kini ada ditangan, hahaha" ucap Tetua Gun.


"ketiganya jadikan pil dan bagikan pada para tetua" ucap Chuan.


"aku tak yakin dengan itu" ucap Tetua Gun


"minimal jadikan eleksir dulu, kemudian beri setetes untuk pil yang dikhususkan untuk para tetua" ucap Chuan.


"baiklah, aku akan berusaha dan membaginya dengan merata" ucap Tetua Gun bersemangat.


"sementara ini, gunakan untuk tetua sendiri, Tetua Tian dan Tetua Lifan" jelas Chuan.


Chuan ingin ketiga tetua segera menembus tahap kaisar. Semakin kuat ketiganya maka pondasi sekte akan kokoh. Namun tak perlu terburu buru untuk menembus tahap tersebut. Yang penting perkokoh pondasinya.


"ini untuk tetua bertiga" ucap Chuan sambil menyerahkan batu hitam berpola unik.


"dari mana ini,,," tanya Tetua Gun terkejut.


"dari penemuan yang tak terduga seperti pohon dewa itu" ucap Chuan menyembunyikan asal usulnya.


"itu tehnik kultivasi naga langit, dan berada ditingkat dewa" jelas Chuan. Dengan mengalirkan energi spiritual maka tehnik tersebut akan mengalir dalan pikiran tetua. Tehnik tersebut tidak perlu memulai dari awal kultivasi. Tapi meneruskan tingkat kultivasi yang dipakai para tetua.


Tehnik tersebut dimiliki oleh klan naga dinegeri awan, jadi para tetua harus merahasiakannya. Hanya para tetua yang mau bersumpah untuk hidup dan mati demi sekte hutan suci yang boleh mempelajarinya.


"tetua harus memahami dan menguasai dulu sebelum menyerahkan pada Tetua Tian" ucap Chuan


"baiklah aku akan mempelajarinya dulu" ucap Tetua Gun bersemangat.


"tetua bisa mempelajari disini, setelah menguasai salurkan energi spiritual dialtar batu maka aku akan mengeluarkan tetua" jelas Chuan kemudian meninggalkan Tetua Gun sendirian.


Tetua Gun yang sendirian kini tenggelam dalam meditasinya. Dia bersemangat untuk segera menguasai tehnik tersebut.


***


Gunung Suci


Sebulan sudah Rouyan dan Chuan meninggalkan gunung suci. Kini beberapa kepala desa mulai berkunjung. Meskipun Lousan yang menerima mereka, tapi tak ada kericuhan yang terjadi. Mereka berharap bisa bertemu Rouyan dan Chuan. Ada empat desa yang ingin tinggal berdekatan dengan pihak gunung suci.


Namun ketenangan Luosan kini terusik. Tiga utusan dari kelompok lain mulai berulah didepan gerbang.


"maaf aku tidak bisa mengijinkan kalian masuk, silahkan datang dua atau tiga bulan lagi" ucap Luosan.


"hei anak kecil, kau tidak tahu kita dari kelompok mana" ucap sseorang bertampang sangar.


"maaf,,, kakek dan kakakku sedang keluar, jadi tunggulah kedatangannya" jelas Luosan


"anjing kecil, jangan sampai kesabaranku habis" hardik yang lain.


"kita bisa menghabisi anak itu, tapi lebah itu juga bisa membunuh kita"


"sebaiknya kita mundur dulu"


"iya sambil menunggu saat untuk menyusup" terdengar bisik bisik dari ketiganya.


"baiklah, kami akan datang lagi" teriak salah satu orang tersebut.


"silahkan" ucap Luosan masih terlihat santai.


"huhhh" guman ketiganya lalu meninggalkan tempat tersebut.


Hari terus berlalu. Luosan menghabiskan hari dengan menyusuri semua tempat digunung suci. Tebing diseberang lembah terdapat sebuah gua kecil. Pintu gua yang terletak diatas menyulitkan akses untuk menyusurinya.


"ada yang kau pikirkan" tanya Lin Ling yang mendatanginya bersama Lin Yu.


"kangen kakakmu yaaa" goda Lin Yu


"iya,,, tapi aku juga berpikir bagaimana menyusuri gua kecil ditebing itu" ucap Luosan sambil menunjuk mulut gua ditebing bagian atas.


"tiitttt,,, tiitttt" terdengar suitan Lin Yu dan beberapa prajurit lebah datang. Setelah memberi sedikit arahan dengan bahasa mereka, para lebah itu langsung menuju gua yang dimaksud Luosan.


Saat ini hanya dua ratu lebah tersebut yang dapat berkomunikasi dengan manusia. Ketiganya dengan santai menunggu para lebah yang menyusuri gua. Kedua ratu lebah selalu menemani dan menghibur kesepian Luoayan dalam sebulan ini.


Tak lama ketiganya asyik berbincang, para lebah sudah kembali. Salah satunya menggambarkan situasi yang ada digua tersebut.


Ada kolam beracun didalamnya, namun berguna bagi para lebah. Selain itu ada beberapa harta yang berguna bagi manusia. Para lebah tidak dapat mengangkutnya dengan kumpulan kecil mereka. Jika semua lebah bekerja sama maka mereka bisa menjatuhkan benda benda tersebut.


Kedua ratu lebah bermaksud memeriksa sendiri dan meninggalkan Luoyan sendirian.


"berhati hatilah, keselamatan kalian lebih penting" ucap Luoyan.


"hehehe"


"hihihi hick" tawa keduanya terdengar dan segera melesat kearah gua.


***


Tanpa disadari Luosan dan para lebah, ada sesosok yang terus memantau gunung suci.


"kenapa banyak orang yang mengendap diluar gunung suci"


"untung para lebah selalu mengawasi setiap sudut dari gunung suci"


"meskipun tak mengganggu para penyusup, numun mereka terus mengawasinya"


Rouyan yang sudah sebulan meninggalkan gunung suci kini terus mengawasi dari jauh. Dia tidak langsung kembali karena melihat beberapa orang yang bergerak diam diam menuju gunung suci.


Terdapat dua puluhan orang yang tersebar ditiga titik cukup jauh diluar hutan yang mrmbatasi gunung suci. Sedangkan tiga orang mengendap endap dihutan tersebut.


"achhh"


"achhh" terdengar teriakan para penyusup. Beberapa orang melesat dan mengangkat teman mereka. Terlihat wajah menghitam karena terkena racun.


"sial,,,, racun lebah lebah itu semakin ganas"


"kelihatannya racun mereka semakin berkembang"


"iya nich, anti racun yang kita bawa tak berfungsi"


"ayo kita beritahu ketua dulu sebelum mengepung gunung ini" percakapan orang orang tersebut saat melihat ketiga penyusup yang meninggal.


"kenapa kalian tidak langsung mendatanginya" terdengar suara yang mengejutkan rombongan orang orang tersebut.


"siapa kau" tanya seseorang dalam rombongan itu.


"aku Rouyan, kenapa kalian mengintai tempatku" ucap Rouyan santai.


"kau,,, kau,,, kakek anak itu" ucap orang itu tergagap.


"iya,,, daripada mengendap endap, sepuluh hari lagi datanglah bersama ketua kalian" ucap Rouyan lalu meninggalkan tempat tersebut.


Siluet Rouyan terlihat melesat kearah gerbang masuk gunung suci. Para lebah yang sedang berjaga langsung menampakkan diri diatas benteng. Rouyan berhenti didepan gerbang dan tersenyum pada para lebah yang sedang berjaga.


"tiitttt iitttt ittt" terdengar suitan kecil. Membuat para lebah yang menjaga tangga menuju puncak terbang memberi jalan pada Rouyan. Terdapat juga rombongan lebah yang terbang didepan Rouyan untuk menunjukkan dimana Luosan dan ratu mereka berada. Rouyan melesat pelan mengikuti lebah lebah tersebut.