
Sistem pelatihan disekte sangat keras dan kejam. Pria dan wanita tidak ada beda saat latihannya. Juga pada tingkat tertentu harus bisa meracik racun sendiri. Serta mempelajari bagaimana menawarkan racun tersebut.
Selama ini nenek hong sudah berusaha meracik penawar racun, tapi kurang satu bahan yang sulit untuk ditemukan. Penjelasan nenek hong terhenti sesaat. Raut wajahnya menyimpan suatu kesedihan yang tersirat.
"apa maksudnya nek" tanya chuan, dijawab dengan panjang lebar. Kalau dia sempat diracuni oleh suaminya, karena bertengkar saat mengetahui sang suami tergila gila pada seorang janda.
Selama ini dia rutin minum penawar racun yang bahannya ditanam sendiri dibelakang rumah. Tapi untuk membersihkan semua racunnya dia memerlukan satu bahan lagi yaitu rumput emas.
"ahhh" chuan mendesah saat mendengarnya.
"kenapa, apa nak chuan tahu rumput itu" tanya nenek hong penasaran mendengar desahan chuan.
"kalau sudah dapat lalu apa yang akan nenek lakukan" tanya chuan.
Dengan tambahan bahan itu nenek akan meracik penawar racun. Dan hanya bahan tersebut yang bisa membersihkan racun yang mengendap ditubuhnya. Rumput emas selain mempunyai manfaat sendiri juga bisa memguatkan khasiat dati bahan lain. Dan beberapa lagi yang dijelaskan nenek hong pada chuan.
Sejenak mereka terdiam.
"setelah sembuh apa rencana kedepan" tanya chuan
"nenek akan pergi dari desa ini, agar bisa melupakan segala dendam yang tersimpan" ucapnya.
"iya nek, tak perlu kita membalas dendam" kata chuan.
Meskipun harus memusuhi mereka itu karena kejahatannya bukan karena dendam kita.
"untuk rumput emas, nanti aku bawakan" ucap chuan. "nenek hanya mampu bertahan paling lama enam bulan lagi" ucap nenek pasrah, dan kembali mereka terdiam.
Tanpa disadari siang berganti senja. Saat malam bergegas datang.
"whahaha" terdengar gelak tawa keras diluar.
"upeti kali ini lumayan ketua" sahut yang lain.
Terlihat nenek hong menempelkan jari telunjuk dibibirnya sebagai tanda agar chuan diam tak bersuara.
"hahaha, hahaha" semakin menjauh suara tawa mereka lalu senyap tak terdengar lagi.
"siapa tadi nek" tanya chuan penasaran.
"itu suara mantan suami dan anak buahnya, setiap bulan kepala desa harus setor upeti pada mereka" jawab nenek. "bermalamlah disini nak, nenek akan merebus ubi lagi" lanjutnya sambil melihat piring ubi yang sudah kosong. "iya nek" jawab chuan, lalu nenek hong berlalu menuju dapur.
Chuan lalu pindah duduk dilantai tanah yang cukup bersih. Kemudian dia mulai larut dalam meditasi dan masuk keruang jiwanya.
"biarkan para perampok itu, sebaiknya bantu nenek hong dulu" kata patriak lion.
"apa aku harus kembali kebukit" tanya chuan.
"sementara alirkan qi murnimu ke nenek hong, setelah itu ajaklah dia keklan chu" jawab patriak lion.
Biarkan nenek hong ikut perjalanan ini. Jika chuan masuk disekte pasir putih, sewakan rumah untuknya. Setelah resmi menjadi anggota sekte, cari waktu senggang untuk membawa nenek kebukit. Patriak lion menjelaskan rencananya.
"semoga nenek mau tinggal sendiri dibukit itu untuk sementara" ucap chuan.
"melihat selama ini dalam kesendirian, harusnya tak masalah buatnya" jelas patriak lion.
Selama ini chuan juga selalu sendiri. Dengan kehadirannya anggaplah nenekmu sendiri, selain itu juga memudahkan dalam penyamaranmu. Disetiap perjalanan mintalah untuk mengakuimu menjadi cucunya. Dan banyak lagi yang patriak lion sampaikan.
"bangunlah dari meditasi, dia sudah menunggumu" ucap patriak lion mengakhiri percakapannya.
"huhhhh" terdengar chuan menghembuskan nafas keras tanda dia menyudahi meditasinya.
"ohh, sudah lama nek" tanya chuan saat melihat nenek hong duduk di kursi panjang.
"belum, maaf mengganggu meditasimu" ucapnya merasa bersalah.
"tidak nek, memang sudah selesai kog" ucapnya lalu pindah duduk disamping nenek hong.
"rumput emas letaknya cukup jauh dari sini, bagaimana kalau nenek ikut saja kesana" ucap chuan.
"nenek tak mau menghambat perjalananmu" jawabnya. "tidak masalah, malah senang ada yang menemani berkelana" jelas chuan.
Lalu menyampaikan tujuannya keklan chu, tak lupa juga menyampaikan percakapannya dengan patriak lion. "maukah menganggapku sebagai cucu nenek" ucap chuan menyudahi penjelasannya. Terdiam sejenak nenek hong mendengar permintaannya.
"pasti chuan walaupun tidak bisa sembuh, nenek bahagia ketika akhir hayat ini ada yang memanggilku -nenek-" ucapnya sambil menangis bahagia.
Sorot mata ceria terlihat diantara isak tangis, senyum juga tersungging tipis dibibirnya.
"sudah tua jangan menangis lagi nek, tuh kelihatan jelek" usil chuan.
Senyum sedikit terkembang mendengarnya. Isak kecil masih tersisa disela senyumnya, membuat raut wajah yang lucu. Sedang chuan hanya tersenyum tipis melihatnya.
"bahagia chuan mau menjadi cucuku" ucapnya