
Dua orang terlihat keluar dari kedai arak. Teysan kembali kebintang perak, sedang chuan menyusuri jalan menuju rumah yang akan direnofasinya.
Terlihat ninie dan beberapa temannya sedang duduk dipintu masuk.
"kenapa kalian" tanya chuan mengejutkan mereka.
"kak chuan kemana saja, kami sudah lapar nich" protes ninie.
Chuan tersenyum lalu menuntunnya masuk rumah. Sampai didalam rumah terlihat makanan yang tersaji dikelilingi anak anak.
Semuanya terdiam menatap makanan tersebut.
"ada apa ini" tanya chuan.
"mereka menunggumu" jawab nenek hong.
"maafkan kak chuan, ayo mulai ambil makanannya dan jangan berebut" kata chuan
"iya kak" jawab mereka serentak sambil tersenyum.
Begitu tertib mereka menunggu chufei membagikan makanan. Tak terasa chuan meneteskan airmata, terharu akan rasa kekeluargaan yang tumbuh dihati anak anak itu.
Mereka rela menanggung sedikit rasa lapar, hanya untuk menunggunya pulang.
"ini untukmu" ucap chufei memberikan jatah makan malam chuan.
"terima kasih bi" ucap chuan lalu mulai menikmatinya.
Walaupun sederhana tetapi nikmat dari kebersamaan ini, melebihi dari hidangan yang mewah.
"setelah makan bantu untuk membawa kedapur" ucap chufei saat melihat satu persatu mulai menyelesaikan makannya.
Setelah bersih, semuanya berkumpul lagi diruang depan. "apa yang biasa anak anak lakukan saat malam hari" tanya chuan.
"biasanya setiap malam mereka membaca buku yang ada digudang" jawab chufei.
Mereka semua termasuk anak yang cerdas, meskipun kurang dalam pemahaman. Semuanya sudah bisa membaca, karena hanya itu hiburan mereka saat pagi dan malam. Jika siang anak anak dibebaskan untuk bermain. Jelas chufei pada chuan.
"seandainya anak anak ini dilatih fisiknya bagaimana bi" tanya chuan.
"kalau sudah umur sepuluh tahun, aku ingin memasukkan mereka kesekte utama, tapi seleksinya sedikit ketat" ucap chufei.
"kenapa tidak melatih mereka dari sekarang" tanya chuan "karena aku yang tidak bisa" jawab chufei sedikit menyesal.
Dia adalah anak pelayan diklan chu. Saat kecil termasuk anak yang manja, jadi dia malas untuk berlatih. Setelah remaja dia menikah dengan seorang pasukan keamanan, tapi sayang belum dikaruniai anak sampai suaminya meninggal.
Sang suami meninggal tujuh tahun yang lalu, karena beberapa sekte golongan hitam membuat kerusuhan dikediaman walikota. dan sedikit lahan ini adalah satu satunya peninggalan sang suami. Airmata menetes saat chufei selesai bercerita.
"baiklah, siapa yang ingin berlatih silat" tanya chuan pada anak anak itu.
"aku"
"aku"
"aku" satu persatu mereka menjawab dan terlihat semua anak mengangkat tangannya.
"kenapa kalian ingin berlatih silat" tanyaku lagi sambil menunjuk ninie
"supaya kuat" jawabnya.
"agar bisa melawan orang jahat"
"agar bisa menang dengan anak kota yang nakal itu" dan banyak lagi jawaban dengan kepolosan pikiran mereka.
"ingat tujuan kita berlatih silat bukan agar bisa memusuhi yang lain tetapi agar kita bisa melindungi orang orang yang kita sayangi" jelas chuan dengan bahasa mereka.
"apa tujuannya" tanya chuan lagi.
"agar bisa melindungi orang orang yang kita sayangi" jawab mereka sedikit kompak.
Tak banyak yang chuan sampaikan ke mereka. Usia mereka belum bisa dimasuki terlalu banyak pengajaran. "sebelum kalian tidur, aku ingin mengumpulkan anak anak sesuai usianya" ucap chuan.
Lalu chufei berdiri membantunya mengumpukan sesuai usia mereka. Terdapat empat kelompok, enam tahun lima anak, tujuh tahun sepuluh anak, delapan tahun sepuluh anak, sembilan tahun empat anak.
"baik, mulai besok bagaimana kalau berlatih kecil dulu" ucap chuan.
"iya kak" jawab mereka serempak.
"sekarang kalian tidur dulu, dan ingat besok berkumpul seperti ini" ucap chuan.
"horeee, siap kak, baik kak" jawab mereka sesahutan.
"kak chuan tidur dimana" tanya seorang anak perempuan. "kakak tidur diruang ini" jawab chuan.
"aku disini apa juga boleh" tanyanya lagi.
"boleh" jawab chuan.
"horreee" teriak anak itu lalu berlari kekamar bersama enam anak lainnya.
Nenek hong dan chufei tersenyum melihat gaya chuan dan tingkah laku anak anak itu.