Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Lihat Keseriusan Mereka


Hari terus berganti, hampir sebulan berlalu dari pulangnya Chuan dan yang lain. Patriak Chen, Tetua Zhao dan Tetua Shusin sudah kembali kesektenya. Sedang Wakil Tetua Shusin dan tiga puluh muridnya tinggal untuk sementara waktu. Sebab menunggu pengaturan Tetua Tian perihal lima belas murid sekte hutan suci yang dipilih Patriak Chen untuk dibawa kesekte macan putih.


Saat ini sekte hutan suci kedatangan tamu dari klan gu dan sekte teratai merah. Tetua Tian, Teysan dan Teikong menjamu mereka didojo. Sikap para tamu terlihat sombong dan meremehkan sekte hutan suci.


"ada apakah tuan tuan berkunjung kesekte kami" tanya Tetua Tian.


"beberapa bulan yang lalu wakil kami ditolak untuk kerjasama, kami ingin kejelasan untuk itu" ucap Patriak Yuan dari sekte teratai merah.


"maafkan kami, sebab sikap wakil dan murid tuan cukup arogan, sehingga kami takut kalau berpengaruh pada murid sekte ini" ucap Tetua Tian.


"jadi itu masalahnya, lalu apakah murid kalian tidak ada yang sombong"


"maksud tuan apa"


"kami pernah ketemu anak yang sombong bernama Chuan, apa dia muridmu"


"maksud kalian apa" tanya Tetua Tian sedikit emosi.


"panggil dia"


"maaf kami tidak bisa memanggilnya, dan aku sarankan tinggalkan sekte kami sekarang juga"


"kalian berani mengusirku"


"pergi"


"kalian menyulut permusuhan dengan klan gu dan sekte kami"


"kami tak peduli, silahkan kalian pergi"


"bangsat, siapkan diri kalian dan tunggu kedatangan kami sebulan lagi"


Sementara Chuan sedang memberi bimbingan pada murid sekte. Meskipun dia merasakan adanya ketegangan didojo, tapi diabaikannya. Chuan tetap focus memberikan bimbingan dan pengarahan.


Terang berganti gelap, dan malampun menjelang. Semua tetua, wakil dan keamanan berkumpul bersama Chuan. Kejadian siang tadi disampaikan oleh Tetua Tian. Saat mendengar berita tersebut, semua yang hadir geram. Kemarahan terlihat pada raut wajah mereka.


"bagaimana keputusan Tetua Chuan" ucap Tetua Tian saat mengakhiri penjelasannya.


"abaikan saja mereka" ucap Chuan.


"kita akan direndahkan kalau cuma diam" ucap Teysan.


"belum perlu kita unjuk kekuatan" jelas Chuan.


Tetap rendah hati, meskipun saat ini sekte hutan suci bukan sekte yang bisa diremehkan. Hanya sekte macan putih yang menyadari kekuatan kita. Sementara yang lain hanya meraba raba saja.


Kalau kalian mendatangi mereka yang ditakutkan, hal tersebut ditiru murid murid sekte. Kita tidak mengundang musuh namun saat musuh datang kita tidak akan mundur. Panjang lebar Chuan menjelaskan tentang keputusannya.


"tapi mereka mengancam untuk datang lagi" sahut Teikong.


"biarkan aku yang mendatangi mereka" ucap Chuan.


"maksudnya....." ucap Tetua Tian.


"aku yang akan ketempat mereka"


"sebaiknya ajak beberapa tetua atau wakil tetua"


"baik, setelah ini 5wakil tetua dan Teysan ikut aku" ucap Chuan sambil menunjuk lima orang yang akan ikut dengannya.


Chuan juga mengeluarkan botol berisi cairan hitam lalu mengambil sedikit dan meneteskan dipipinya. Penampilan tampannya kini berubah seperti sebelumnya. Semua yang hadir tersenyum melihat apa yang dikerjakannya.


Setelah mendapat penjelasan dari Tetua Tian tentang siapa saja yang datang tadi siang, Chuan mengajak Teysan dan yang lain berangkat. Para tetua hanya menggelengkan kepala melihat sikap Chuan.


Mereka tetap berbincang ringan setelah kepergian Chuan. Keputusan yang tegas dan cepat untuk menyelesaikan masalah. Rela menyembunyikan wajah tampannya untuk mereda kesombongannya. Masih muda sudah berilmu tinggi. Dan banyak lagi yang jadi bahan perbincangan mereka tentang Chuan.


Bahkan ada perasaan kehilangan saat Tetua Tian menyampaikan rencana kepergian Chuan dari sekte hutan suci. Tetapi mereka semua sadar, kalau Chuan tak akan bisa berkembang kalau tetap dihutan suci.


Teikong juga menyampaikan tentang kepemilikan wilayah hutan suci. Rencana pengembangan wilayah, diutarakan dengan detail. Para tetua yang sebelumnya terlalu santai dengan pembangunan sekte hutan suci. Kini tercengang dengan proyek besar akan pengembangan diwilayah tersebut. Karena lebih dari setengah wilayah hutan suci masih belum tersentuh.


Sebelum mereka menyudahi pertemuan tersebut, semuanya sepakat dan berjanji untuk membantu Chuan dalam mewujudkan harapannya.


Waktu terus berjalan, dan tengah malam telah lewat. Chuan dan rombongannya tiba di kota Tiangkun. Klan Gu mengelola wilayahnya dari kota ini.


Meskipun malam mulai beranjak pagi, namun masih terlihat beberapa kedai arak yang masih buka. Chuan dan yang lain terus berjalan menyusuri jalanan kota Tiangkun.


Didepan sebuah bangunan yang cukup megah mereka berhenti. Balai lelang mustika, terpampang tulisan yang mencolok diatas pintu bangunan tersebut.


Dua orang penjaga yang melihat kedatangan Chuan dan rombongan, keduanya mendekat.


"maaf tuan, kami masih tutup" ucap seorang penjaga.


"maaf siapa tuan tuan ini" tanya penjaga


"aku Chuan, kami dari sekte hutan suci" jawab Chuan.


"Nona Louyin, yang memimpin cabang ini" jawab penjaga.


"maaf apa ini Tuan Muda Chuan, pemilik balai lelang" ucap penjaga yang lain.


"tolong sampaikan pada Louyin kalau aku mencarinya" ucap Chuan.


"tuan muda, menginap dimana" tanya penjaga tersebut.


"kami baru datang" ucap Chuan.


"mari tak antar kerumah Nona Louyin" lanjut penjaga. Sambil mengajak Chuan dan yang lain kebelakang balai lelang. Melewati gang kecil disamping balai lelang, mereka tiba disebuah rumah sederhana namun terlihat asri.


Seseorang yang sebelumnya asyik menikmati araknya diteras rumah tersebut, beranjak berdiri. Melihat kedatangan Chuan dan rombongan dia buru buru mendekat.


"benarkah ini Tuan Muda Chuan" ucapnya


"apakah kau mengenalku" tanya Chuan.


"aku Teinan, kepala keamanan balai lelang dan gambar tuan muda terpampang diruang kepala cabang" ucapnya.


"aku memang Chuan, bisakah bertemu Louyin" ucap Chuan.


Tanpa menjawab, Teinan kembali keteras rumah. Dia berhenti didepan pintu lalu meraih sebuah tali dan menariknya beberapa kali.


Tak lama menunggu, pintu dibuka dari dalam. Terlihat seorang wanita cantik yang membukanya.


"ada apa kog banyak orang" ucapnya.


"Tuan Muda Chuan ingin bertemu" jawab Teinan.


"ohhh" gumannya dengan terkejut. Dia lalu melangkah keluar, dan mengamati seseorang yang dikenalnya.


"Chuan, eh tuan muda ini kau" ucapnya sambil terus menatap sosok pemuda yang dikaguminya.


"Louyin, lama tak bertemu dan panggil Chuan saja seperti biasanya" ucap Chuan. Sedang Louyin tetap diam memandang Chuan.


"ada apa dengan diriku, kog cara menatapmu aneh" ucap Chuan. Mendengar ucapan Chuan terlihat Louyin kikuk dan wajahnya merona.


"ehh iya, silahkan masuk" ucap Louyin mengabaikan kata kata Chuan dengan mengajak Chuan dan yang lain masuk rumah.


Penjaga balai lelang berpamitan untuk kembali dalam tugasnya. Chuan mengucapkan terima kasihnya, sambil tersenyum. Lalu dia masuk kerumah Louyin bersama rombongannya.


"siapakah tuan tuan ini" tanya Louyin pada Chuan sambil memandangi Teikong dan yang lain.


"ini Tetua Teikong dan mereka, para wakil tetua dari sekte hutan suci" jawab Chuan.


"oh, maafkan kekurang sopananku" ucap Louyin pada Teikong, sambil berdiri lalu membungkuk hormat.


"tak perlu peradatan seperti itu" ucap Teikong sambil tersenyum.


Teinan yang tadi menyelinap pergi, kini datang lagi dengan dua orang sambil membawa beberapa guci arak dan cangkir. Setelah itu dia menata diatas meja.


"silahkan" ucap Teinan.


"terima kasih" balas Chuan.


Teinan mengambil tempat duduk yang kosong, sedang dua temannya berlalu dari ruang tersebut.


"ada apa keperluan apa mencariku" tanya Louyin.


"selain mengunjungi teman lama, ada yang ingin aku tanyakan" ucap Chuan lalu menjelaskan, kalau dia mencari informasi tentang beberapa orang. Beberapa nama disebutkan oleh Chuan.


Louyin dan Teinan menunjukkan raut yang berbeda saat mendengar nama orang orang yang disebutkan Chuan. Keduanya mengenal orang orang tersebut. Meskipun sedikit berat hati, kedua memaparkan identitas mereka. Bahkan status dan tempat tinggalnya juga disampaikan kepada Chuan.


"apa yang akan kau lakukan pada mereka" tanya Louyin mengakhiri penjelasannya.


"belum tahu, tapi yang pasti sekte kami tidak bisa diancam seenaknya" sahut Chuan.


"kalau mereka minta maaf apa masalah ini masih diperpanjang" tanya Teinan


"lihat dulu keseriusan mereka" jawab Chuan.


Perbincangan panjang terus berlangsung sampai sang fajar menampakkan diri. Sebelum Chuan dan rombongan pergi, Louyin menjamu mereka untuk makan pagi.


Setelah selesai dengan jamuan tersebut, Chuan dan yang lain berpamitan. Tak lupa dia memberitahu kalau akan tinggal untuk sementara waktu dikota Tiangkun. Dia berencana menginap ditempat yang dulu, saat pertama singgah dikota tersebut.