Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Mengangkat Saudars


Tetua Shusin melesat keatas panggung. Kehadiran tetua dua dari Sekte Macan Putih, membuat segan semua yang hadir ditanah lapang.


Nama besar Sekte Macan Putih membuat ciut nyali mereka. Berbagai pertanyaan yang disampaikan dijawab sesuai dengan kenyataan sesuai hasil penyelidikan mereka.


Seorang wanita yang ternyata, tetua Sekte Bunga Racun minta pihak Klan Chu mengijinkan mereka untuk tinggal sementara dihutan kecil dibelakang Sekte Utama.


Awalnya penatua Klan Chu keberatan untuk itu. Dia berpikir akan ketenangan dua desa yang berbatasan dengan hutan tersebut.


Setelah melalui perdebatan yang panjang, pihak Klan Chu memperbolehkan maksimal satu tetua dan dua murid pada setiap sekte.


Keputusan yang sangat berani terpaksa mereka ambil. Tiap tiga orang dari sekte yang berbeda melesat kehutan yang dimaksud. Sedang yang lain kembali kesektenya masing masing.


Chuan sempat mendengar, beberapa pengelana akan tinggal diklan Chu dalam waktu satu bulan kedepan. Chuan bersyukur mendengarnya dan demi keselamatan anak anak, dia harus lebih berhati hati.


Tetua Shusin menghampiri Chuan dan ketiga muridnya. Mereka berempat kemudian kembali kepenginapan. Sampai dipenginapan, tepat saat yang lain sedang makan siang.


"kak Chuan"


"kak"


"kak" terdengar sesahutan anak anak kegirangan melihat Chuan datang.


"kak Chuan darimana saja, kami jenuh tidak boleh keluar" "iya kak, bahkan bermain ditaman kami dilarang sama bibi"


"benar kak"


"iya, kami bosan didalam terus"  beberapa anak mengutarakan keluhannya. Chuan hanya tersenyum sambil meneruskan makannya.


Selesai makan, Chuan lalu menjelaskan kalau menemani Tetua Shusin dan yang lainnya. Dia juga mengatakan kalau setelah ini, anak anak boleh bermain lagi ditaman. Sorak sorai anak anak bergembira mendengar penuturan Chuan.


Sebelum anak anak berhamburan Tetua Shusin menghentikan mereka. Dia dan ketiga muridnya berpamitan untuk melanjutkan tugasnya.


Chuan dan yang lainnya berdiri.


"terimakasih atas bimbingannya kepada kami" ucap Chuan sambil membungkukkan badan. Yang lain juga mengikuti apa yang Chuan lakukan.


"Chuan" kata Tetua Shusin.


"kalau sempat berkunjung kekota Liong_an diklan Tian, singgahlah disekte kami" ucap Tetua Shusin sambil menyerahkan lencana emasnya.


"tunjukkan lencana itu pada murid sekte, maka mereka akan mengantarmu bertemu denganku" lanjutnya. "semoga ada waktu untuk berkunjung kesana" ucap Chuan sambil mengantongi lencana yang diterimanya.


"bantuanmu kemarin akan selalu kami ingat, semoga dilain waktu kami bisa membalasnya" ucap Tetua Shusin. "disaksikan tiga muridku dan yang lain, aku mengangkat Chuan sebagai saudara mudaku" lanjutnya.


"tetua terlalu sungkan, akupun senang menjadi saudara tetua Shusin, terimakasih" ucap huan.


"meskipun sekali memberi bimbingan, saat ini  kau adalah setengah guru bagi kami" ucap seorang murid tetua Chuan.


"terimakasih guru" ucap ketiganya sambil membungkuk dalam.


Setelah basa basi sebentar dengan nenek dan bibi, tetua shusin akhirnya keluar dari penginapan. Chuan juga meninggalkan penginapan untuk melihat sejauh mana proses renovasinya.


Tetua shusin yang mengetahuinya merasa penasaran dan ikut melihatnya. Keempatnya terkejut melihat rumah yang sedang dikerjakan. Meskipun semua menggunakan bahan kayu, ini tidak bisa dikatakan sederhana.


"saudara chuan" sapa Teikong saat melihat chuan datang. "bagaimana prosesnya" tanya chuan.


"semua lancar, saat ini sudah limapuluh persen lebih" jelas teeikong.


Setelah basa basi, Chuan lalu meninggalkan tempat itu. "saatnya kami kembali Chuan" ucap tetua Shusin.


"ada hadiah buat kalian" ucap Chuan lalu mengeluarkan seguci arak sambil mengalirkan qi murni kedalamnya. "nikmati ditempat yang sepi, dan minta tetua Shusin untuk menjaga kalian" lanjut Chuan.


"terimakasih" ucap mereka.


Chuan melangkah santai kembali kepenginapan. Tetua Shusin dan ketiga muridnya dengan ringan melesat kembali kesektenya. Dua desa sudah mereka lewati, kini memasuki sebuah hutan yang pernah mereka lalui.


"malam ini kita berhenti dihutan ini dulu" ucap tetua Shusin.


"baik tetua" jawab ketiga muridnya.


"tak perlu api unggun, kita minum arak dari Chuan saja" ucap tetua Shusin.