
Pertikaian kecil diantara murid timur dan barat, hampir setiap hari terjadi. Terkadang ditingkat tetua juga ada perselisihan
. Suatu hari terjadilah pertempuran tak seimbang antara timur dan barat. Murid paviliun barat yang lebih dari lima ratus melawan paviliun timur yang hanya seratusan murid. Seorang tetua dan beberapa tetua muda tewas, menyusul puluhan murid paviliun timur.
Seorang tetua dan beberapa murid mundur dan meninggalkan sekte, karena sudah tidak mungkin bertahan. Sekte pasir putih hancur saat itu dan karena bercak darah menghiasi disepanjang pantai kecil itu maka para tetua paviliun barat mendeklarasikan sekte mereka menjadi sekte pasir darah.
"oohhh, kasihan nasib murid tabib dewa" ucap patriak menghentikan ceritanya.
"apa yang terjadi dengan mereka" tanya chuan penasaran.
"tinggal satu tetua dan dua tetua muda serta beberapa murid yang setia, sekarang dibawah perlindungan klan chu" jawab patriak
"patriak tahu betul tentang mereka" tanyaku penuh selidik
"aku berhutang budi pada tetua tian, walau bersembunyi diklan chu, dia masih mau menolong mengobati anggota sekteku waktu itu" jelasnya
"tentang sekte pasir putih bagaimana"
"hanya murid tabib dewa yang tetap merasa anggota sekte pasir putih, sedang murid pendekar naga menjadi anggota sekte pasir darah dan sekarang menjadi sekte aliran hitam" jelas patriak
"ohhhh" desahku tanpa bisa berbicara lebih jauh.
"kalau ingin membangun kembali sekte pasir putih, kuatkan dulu pondasimu" ucap patriak lalu menjelaskan, walaupun tingkatan ditekan sampai tahap pendekar menengah. Patriak tahu sekarang chuan ditahap setengah suci.
"kalau kau mau, aku akan membimbingmu memantapkan tahap suci, dan aku juga membantumu melewati bencana petir suci" jelas patriak, membuat kami terdiam sejenak.
"mohon bimbingannya, dan bolehkah aku memanggil giru" ucapku setelah berpikir sejenak.
"terserah kamu memanggilku, mulai sekarang walau hanya wujud roh, aku akan membimbingmu" ucap patriak lion
"terima hormat murid ini, guru" ucap chuan sambil sujud tiga kali.
"tidak usah ada peradatan seperti itu, cukup hormati dalam hatimu" jelas patriak.
Setelah siap, dua mata elang yang mengambang diuraikan patriak lion menjadi energi cair yang berkedip. Kemudian diarahkannya untuk memasuki mata chuan.
"aacchhhhh" teriak chuan menahan sakit
"tahan chuan, bantu alirkan energinya untuk memasuki matamu" ucap patriak.
Dengan tubuh yang bergetar hebat. Berusaha bertahan dalam kesakitan yang sangat. Butir butir keringat mulai jatuh diwajahnya. Serasa bola mata chuan mau pecah, dan kepalanya dalam kesakitan yang hebat. Lama bertahan dalam wajah yang pucat, akhirnya pingsan juga.
Setelah selesai prosesnya meski masih pingsan, maka patriak membuat segel formasi yang membuat mereka berteleportasi kesebuah bukit.
Terbaring diatas lempeng batu, dalam sebuah bangunan terbuka tanpa dinding. Aliran energi alam memasuki bangunan . Aroma tanaman obat semilir dibawa angin menumbuhkan kenyamanan.
Chuan mulai bisa merasakan kehangatan tubuhnya, energi semakin terasa didentiannya. Kepala serta mata yang masih terpejam serasa ringan.
"guru" ucap chuan pelan
"buka pelan pelan matamu" jawab patriak
Chuan sedikit membuka mata lalu terpejam lagi, silau cahaya yang begitu intens memasuki mata. Beberapa kali mengedipkan mata, akhirnya bisa menyesuaikan juga. pandangannya sangat jelas. Kebun obat obatan seluas 500 meter persegi. Ketajaman mata chuan yang baru bahkan bisa melihat serangga yang bergembira diujung kebun sejauh 200 meter terlihat.
"dimana ini guru" tanya chuan penasaran
"bukit ini rencananya mau aku hadiahkan pada tetua tian, jaraknya 100 km dari pusat kota wilayah kekuasaan klan chu" jawab patriak
"ini masih diwilayah clan chu juga, dan dilereng selatan berbatasan langsung dengan laut" lanjutnya
"selanjutnya gimana guru" ucap chuan penasaran
"stabilkan dulu energi dalam dalam tubuhmu, setelahnya kuatkan pondasimu untuk melewati bencana petir suci, aku akan membimbingmu untuk itu" jelasnya
"baik guru" jawab chuan