Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Pengaturan Chuan


Pagi yang cerah menyambut rombongan Chuan. Chuan, Tetua Shusin dan Patriak Chen lalu melesat meninggalkan sekte macan putih. Ketiganya melesat kearah hutan suci. Sementara tiga Wakil Tetua Chuan dan muridnya juga melakukan perjalanan yang sama melalui darat.


Energi yang dikeluarkan Chuan menyelimuti keduanya. Cepatnya lesatan Chuan, membuat ketiganya sampai sebelum senja. Sampai dibatas hutan suci ketiganya turun dan melesat ringan.


"maaf berhenti dulu" teriak Teikong. Terlihat Teikong dan tiga anggotanya sedang menjaga perbatasan hutan suci.


"maaf Tetua Chuan" lanjut Teikong terkejut, saat melihat ketiga orang yang dicegatnya berhenti didepannya.


"salam paman" ucap Chuan sambil tersenyum.


"salam, tetua" ucap mereka berempat. Setelah kunjungan para tetua dari sekte lain, semua penghuni hutan suci baru sadar kalau Chuan yang selalu dekat dengan semua warga ternyata tetua satu disekte hutan suci.


Bahkan kelima belas murid bercerita tentang bagaimana murid dari sekte lain memperlakukan tetua mereka. Membuat para penghuni berjanji kalau Chuan pulang akan memanggil dan memperlakukan sebagai tetua mereka seperti yang semestinya.


"bagaimanapun kalian memanggilku, tetap berlaku seperti biasanya saja"


"terimakasih, tetua" jawab Teikong dan ketiga anggotanya.


"paman Teikong, nanti malam berkumpul dirumahku"


"baik tetua"


"mereka tamuku, para tetua sekte macan putih"


"salam tetua" ucap Tekong.


"salam" balas Patriak Chen.


"kami masuk dulu paman"


"silahkan tetua" ketiganya melesat menuju rumah Chuan.


Mendekati dojo, Chuan akhirnya hanya berjalan santai.


"kak Chuan"


"eh Tetua Chuan" terdengar teriak anak anak yang memang begitu dekat dengan Chuan.


Melihat mereka berlari mendekatinya, Chuan tersenyum sambil merentangkan tangannya menyambut mereka. Dua puluhan anak berebut untuk memeluk Chuan. Bahkan terlihat beberapa anak perempuan meneteskan airmata.


"ehm" terdengar Tetua Tian berdehem.


"semua warga hutan suci dapat memanggilku seperti yang kalian inginkan, namun tetaplah bersikap seperti biasanya" ucap Chuan, meskipun tidak terlalu keras namun bergema karena disertai dengan sedikit energi qi yang dikerahkannya.


"salam tetua" terdengar suara para tetua menyambutnya setelah itu.


"salam para tetua, mereka Patriak Chen dan Tetua Shusin dari sekte macan putih" ucap Chuan memperkenalkan kedua tamunya.


"salam patriak sekte, aku Tian tetua kedua disini, kalau Tetua Shusin kami sudah saling kenal"


"salam Tetua Tian"


"mari kerumah Tetua Chuan"


"disini saja, kelihatannya lebih santai"


"baiklah silahkan" ucap Tetua Tian mempersilahkan keduanya memasuki dojo. Kedua tamu Chuan dan para tetua memasuki dojo. Sementara yang lain mempersiapkan jamuan untuk mereka. Chuan menuju tempat murid sekte hutan suci ditemani Teysan.


Senja itu suasana penuh canda tawa terlihat didua tempat. Para tetua dengan tamunya yang sedang berbincang santai. Para istri tetua juga diminta Patriak Chen untuk ikut berkumpul dengan mereka.


Sementara Chuan sedang bersama murid murid sekte. Saat ini dia hanya bercanda dan bercerita tentang pengalamannya. Tak lupa menyisipkan pengetahuan tentang dunia luar. Seandainya nanti ada sekte besar di kota utama kekaisaran, dia mengijinkan murid yang terpilih untuk menimba ilmu dan pengetahuan disekte tersebut. Namun murid tersebut tetap menjadi keluarga besar sekte hutan suci.


Sedangkan bagi murid yang mendalami pembuatan pil, nantinya akan didaftarkan oleh sekte hutan suci untuk menjadi anggota serikat pil dikota utama kekaisaran. Mereka yang terdaftar akan mendapat beberapa keuntungan yang diberikan oleh serikat. Bahkan pada tingkat tertentu bisa mendapat jaminan perlindungan keamanan.


Chuan berharap para murid, nantinya bisa terbang tinggi. Namun tetap menjaga nama baik sekte. Teysan dan beberapa anggotanya yang sedang tugas keamanan dalam ikut mendengar semua pengarahan Chuan.


"Tetua Teysan, apa yang aku sampaikan tolong besok diteruskan ke Tetua Tian dan yang lain" ucap Chuan mengakhiri acaranya.


"baik Tetua Chuan" jawab Teysan.


"untuk semua, saatnya persiapan makan malam, segera bubar"


"baik tetua"


"Tetua Teysan tolong panggil semua kamanan sekte, aku tunggu disini" ucap Chuan setelah para murid pergi.


"baik tetua" jawab Teysan lalu melesat untuk melaksanakan tugasnya


Beberapa waktu berlalu, Teysan, Teykong dan anggota keamanan sekte tiba ditempat Chuan. Didepan mereka Chuan langsung memberi beberapa pengaturan.


Teysan dan Teykong yang sering keluar sekte, dibebaskan dari tugasnya menjadi kepala keamanan kelompok satu dan dua. Untuk yang bertanggung jawab, Chuan minta para anggota keamanan untuk berunding.


Juga ditekankan, semua keluarga besar seke hutan suci selalu diperlakukan sama. Tanpa pandang bulu tentang posisinya. Hanya kebutuhan dan sumber daya untuk kultivasi tiap orang yang berbeda.


Para anggota keamanan yang sebelumnya dua kelompok, kini Chuan minta dijadikan empat. Kelompok Teysan dan Teykong tetap, namun ditambah menjadi dua puluh anggota. yang dari rawa angin menjadi dua kelompok dengan jumlah anggota sama.


Kekurangan dari jumlah anggota diambilkan dari warga. Sedang yang sebelumnya ditunjuk menjadi wakil tetua mulai saat ini focus melatih para murid sekte.


Pos jaga didua pintu masuk sekte, Chuan minta dibangun seperti rumah. Sehingga bisa digunakan untuk kultivasi secara bergilir. Sedangkan pos di tengah kebun obat dibongkar, dan buat lagi dua pos ditiap tepi luar kebun.


Tak lupa Chuan juga menekankan untuk lebih giat berkultivasi saat waktu luang mereka. Sedang pertemuan seperti ini harus dilakukan seminggu sekali. Selain untuk perguliran tugas jaga juga mempererat persaudaraan.


Selesai dalam pengaturannya, Chuan membubarkan pertemuan tersebut. Dia lalu beranjak pergi ke rumahnya. Kemudian bergegas untuk memanen buah dan tanaman obat dikotak dimensi ruang.


Ada ratusan dari tiap jenis buah dan tanaman langka yang dimasukkan kecincin dimensi. Tak lupa Chuan mengambil sebagian buah langka untuk disimpan sendiri.


"lepaskan kepemilikanmu sebelum kau meninggalkan sekte" ucap Patriak Lion.


"lalu siapa yang guru pilih untuk memiliki kotak ini" tanya Chuan.


"Tetua Gun" jawab Patriak Lion.


"kog Tetua Gun" tanya Chuan kaget.


Tetua Gun lebih focus dalam pembuatan pil. Dia juga teliti dalam memanen tanaman obat dikebun. Sementara yang lain masih banyak kekurangannya dibidang itu.


Untuk murid sekte yang mendalami pembuatan pil, semua dipegang Tetua Gun juga. Sementara yang lain focus di bidang pengobatan. Untuk lima tetua yang membantu Tetua Gun masih perlu terus berlatih.


"Dua tetua dari rawa angin dan muridnya biar melatih fisik dan tehnik seperti biasanya" jelas Patriak Lion.


"pengamatan guru lebih teliti dariku" ucap Chuan


"sudah sana temui tamumu" kata Patriak Lion


"baik" balas Chuan.