
Duduk dideretan terdepan membuat Chuan dan yang lain, berhadapan langsung dengan para tetua dan penatua klan chu. Chuan melihat tiga orang memandangnya dengan geram dan sinis.
Terlihat walikota memasuki aula, semua orang berdiri menghormatinya. Dia kemudian duduk ditengah diapit tetua satu dan penatua kepercayaannya.
Sedikit berbincang dengan keduanya, walikota segera menyampaikan ucapan terimakasihnya pada semua yang hadir. Dia juga menyerahkan semua acara hari ini pada tetua satu sekte utama.
Dengan tenang tetua satu mulai menguraikan maksud acara hari ini. Ucapan terimakasih pada semua kepala desa yang ada diwilayah klan chu. Juga mengajak mereka untuk menjadikan hari ini sebagai tonggak sebagai awal pembaruan rencana mengembangkan desa desa diseluruh wilayah.
Sebagai perincian tentang pajak dan lain lain akan dibicarakan secara pribadi walikota dan kepala desa saat ada kunjungan yang sudah diagendakan. Terakhir untuk beberapa sekte kecil aliran putih dan netral yang sementara ini dibekukan, mulai hari ini bisa beraktifitas lagi.
Dan sedikit permasalahan yang menimpa penatua karena seseorang telah mempermalukannya, juga dua tetua yang baru tertimpa musibah.
"untuk ketiganya yang akan menerima pengadilan dan keadilan harap maju kedepan" kata tetua satu.
Ketiga orang yang disebut tetua satu, dengan sombong maju ditengah ruang yang telah disiapkan.
"sebelumnya aku perkenalkan sekte hutan suci, dan tetua satunya akan membacakan hasil rapat dan telah menyumbangkan pemikirannya untuk kemajuan dan menyelesaikan beberapa permasalahan di klan chu" ucap tetua satu sekte utama.
"kepada saudara Tetua Tian dipersilahkan" lanjutnya.
Tetua Tian lalu maju dan berdiri didepan tiga orang yang sedang berdiri sebelumnya. Sebelum memulai Tetua Tian menyampaikan bahwa dirinya hanya tetua dua, sedang tetua satu dipegang saudara Chuan.
"sekte gurem saja berlagak" ucapan tetua dua terdengar. Suara bisik bisik dan sedikit gaduh, terdengar dideretan para tamu undangan. Tiga tetua turun dari kursinya, tetua empat dan lima berdiri disamping tetua tian. Kalau tetua satu menenangkan para tamu undangan. Kemudian berdiri disamping Chuan.
Dengan suara yang dialiri energinya Tetua Tian melanjutkan tugasnya.
"pada kesempatan kali ini, aku hanya membacakan keputusan yang sudah tercantum pada surat ini" lanjutnya sambil menunjukkan suratnya.
Pengadilan klan dan sekte memutuskan untuk menyita semua asetnya dan menghukumnya dengan menghilangkan kultivasinya. Untuk tugas ini dipercayakan pada Tetua Tian. Keputusan yang disampaikan membuat para undangan saling berbisik. Walikota, penatua dan tetua terlihat tenang dan waspada.
"whahaha, kamu tetua sekte gurem bisa apa" teriak tetua dua sambil melepas tahap pendekarnya dan diikuti dua orang lainnya. Tekanan energi ketiganya dirasakan semua orang didalam aula kecuali Tetua tian dan Chuan.
"whahaha kenapa diam" teriak tetua tiga. Chuan lalu berdiri memegang pundak tetua satu. Qi yang dialirkannya pada tetua satu membuat dia merasakan kenyamanan.
"Chuan" ucapnya.
"jangan banyak berpikir, setelah ketiganya lengah segera totok mereka" bisik Chuan dijawab dengan anggukan. "Tetua Tian, silahkan" teriak Chuan.
Tetua Tian lalu melepas tahap pendekar langitnya. Tekanan yang lebih besar menimpa ketiganya. Ketiganya terkejut akan kenyataan yang ada didepannya. Keterkejutan ketiganya memudarkan semua kewaspadaan dan konsentrasi mereka.
Tiba tiba tetua satu melesat menotok ketiganya. Kesempatan yang dimanfaatkan tetua satu, menjadikan ketiga orang tersebut mematung. Setelah Tetua Tian menekan kultivasinya kembali, semua orang bernafas lega.
Ilmu naga api disiapkan Tetua Tian, lalu mendekati ketiga orang tersebut dan menembakkan energi api ketempat dimana dentian ketiganya berada. Teriakan ketiganya menggema, rasa sakit yang tak terkira membuat wajah ketiganya pucat pasi. Tak ada penyesalan terlihat pada ketiga orang tersebut.
"kami dari sekte hutan suci hanya membantu, dan dua tahun lagi pintu sekte terbuka untuk umum" terdengar suara Chuan lantang. Untuk sekte di klan Chu yang latih tanding silahkan untuk berkunjung. Berbagai pil untuk kultivasi juga akan dibuat oleh sekte kami. Para sekte lain bisa membeli atau barter dengan barang lain yang kami butuhkan. Banyak penjelasan yang Chuan sampaikan dikesempatan tersebut.
"Tetua Chuan, bisakah pemuda desa kami bergabung disekte tuan" ucap salah seorang kepala desa yang hadir.
"setahun lagi, silahkan antar anak yang berusia kurang 10th disekte kami" jawab Chuan lalu duduk setelahnya.
Berbagai diskusi kecil terdengar dikursi undangan. Ada yang ragu, ada yang sedikit sinis, tapi tak sedikit juga yang antusias. Hanya tetua satu dan lima dari sekte utama yang tersenyum memandang sikap para undangan.