
Kediaman Tabib Ho terlihat sepi dari luar, hanya terlihat sepuluh prajurit menjaganya. Didalam, Tabib Ho dan keluarganya berkumpul. Mereka berbincang santai dalam menjamu Chuan dan Rouyan.
Namun setelah perjamuan tersebut Chuan dan Rouyan memilih rumah Komandan Xhuan sebagai tempat istirahatnya. Tabib Ho menyesal atas penolakan Chuan untuk tinggal dirumahnya.
Tabib Ho juga menyadari, kalau sikap pesimisnya disadari oleh Chuan. Meskipun sikapnya tetap santai dan selalu tersenyum membuat Tabib Ho semakin takut dengan Chuan.
"kalau kau ingin meminta bantuannya carilah dia, kalau tidak abaikan saranku. Berteman dengannya lebih baik daripada meremehkan atau bahkan sampai menyinggungnya" kata kata Patriak Wang kembali terngiang diingatannya.
Sementara Tabib Ho termenung diruang pribadinya. Chuan dan Rouyan yang tiba dirumah Komandan Xhuan, mereka saling memperkenalkan diri. Keluarga kecil Komandan Xhuan menyambut ramah keduanya. Lin Dong, anak tunggal Komandan Xhuan juga ikut bercengkrama didalamnya.
Anak laki laki usia sembilan tahun yang memiliki fisik yang baik. Uraian Chuan juga disampaikan disela percakapan ringan mereka. Lin Xhuan, nama asli Komandan Xhuan juga menjelaskan, kalau anaknya tiap pagi rutin berlari keliling di tempat latihan para prajurit. Dia akan berhenti setelah benar benar kelelahan.
"hahaha, berapa kali kau mengelilingi lapangan itu" tanya Chuan
"heemmm, lima puluhan" ucap Lin Dong sambil berpikir. Raut lucu yang ditunjukkannya membuat Chuan tersenyum.
"kalau besok bisa seratus putaran nanti aku beri hadiah, bagaimana" tanya Chuan.
"haahhhh" teriak Lin Xhuan dan istrinya terkejut. Sementara Lin Dong kecil masih sibuk berpikir.
"hehehe" tawa kecil Rouyan terdengar melihat raut anak kecil yang menggelikan hatinya.
"paman janji memberiku hadiah" tanya Lin Dong
"kau pingin hadiah apa" Chuan balik bertanya
"hemmm, pedang" teriak Lin Dong
"kenapa" tanya Chuan
"Lin Dong senang melihat para prajurit berlatih pedang, tapi ayah gak mau membelikan pedang untukku" jawab anak itu.
Chuan hanya tersenyum, lalu mengeluarkan pedang kayu dan pedang tumpul dari cincin dimensinya. Chuan lalu mengukir namanya di kedua gagang pedang tersebut dengan jarinya.
"hahaha ayah ibu, lihat dua pedang itu. Besok aku akan mendapatkannya" teriak Lin Dong bersemangat
"pedang kayu itu" ucap Lin Xhuan tertegun
"kenapa" tanya istrinya
"meskipun pedang kayu melihat kwalitasnya, gajiku sebulan tidak dapat untuk membelinya" ucap Lin Xhuan dengan tersenyum kecut
"hahh" istrinya hanya berguman karena terkejut
"pedang kayu ini untukmu, hadiah untuk besok pedang tumpul ini" ucap Chuan sambil mengulurkan pedang kayu pada Lin Dong
"terima kasih paman" ucap Lin Dong bersemangat saat mengambil pedang itu dari tangan Chuan.
Canda tawa terus berlanjut dikeluarga itu, bahkan Lin Dong lebih banyak bertanya. Rouyan dengan santai memuaskan rasa ingin tahu anak kecil itu. Bahkan mereka tak sadar kalau senja mulai beranjak gelap.
Semangat dan rasa ingin tahu anak itu sangat besar. Bimbing dan arahkan dia dengan baik.
"aku yakin bahkan ayahnya kalah bersinar dengannya" ucap Chuan pada Lin Xhuan dan istrinya saat Chuan dan Rouyan hendak keluar melihat suasana kota doucan
"terima kasih Tetua Chuan" ucap Lin Xhuan sambil menangkupkan tangannya.
Chuan dan Ruoyan beranjak pergi untuk berleliling kota, sedang suami istri itu hanya menggelengkan kepala melihat hal tersebut. Raut wajah cerah terlihat pada keduanya. Segala pikiran bergejolak dengan harapan agar anaknya kelak bisa seperti Chuan.
Chuan dan Rouyan segera melesat menuju sebuah penginapan yang cukup mewah. Meskipun para pelayan menatap sinis pada Chuan, ada seorang pelayan yang mau menghampirinya.
"selamat datang tuan muda" ucap pelayan tersebut
"ada kamar vip yang kosong" tanya Chuan
"ada, lima puluh koin emas semalam dengan makan malam dan pagi gratis" ucap pelayan tersebut tetap dengan sikap hormatnya.
"baik, aku ambil satu kamar untuk dua hari" ucap Chuan sambil memberikan sekantung kecil koin emas.
"siapa nama tuan" tanya pelayan itu
"Chuan" jawab Chuan singkat sambil tersenyum
"silahkan duduk dulu aku akan mandaftarkan dan menyiapkan kamar" ucapnya lalu bergegas pergi
"sial, tamu vip"
"meskipun sering kita buli, ada saja keberuntungan anak itu"
"nanti kita rebut simpati tamu itu"
Terdengar bisik bisik para pelayan yang sebelumnya mencibir Chuan dan Rouyan.
Meskipun pelan dan agak jauh, tapi Chuan dapat mendengar pembicaraan mereka.
"orang orang yang picik" guman Chuan sambil melihat Rouyan, namun yang diliriknya hanya tersenyum sambil menggelengkan kepala.
Tak lama menunggu, seorang pelayan laki laki mendatangi Chuan.
"aku Lin Qie kepala pelayan disini, mari aku antar kedua tuan kekamarnya" ucapnya sambil tersenyum
"maaf, mana pelayan kecil tadi" tanya Chuan
"biar kami menunggunya" ucap Chuan
Pelayan tersebut tampak bingung, dan raut mukanya mulai memerah. Tiba tiba seorang pria gemuk menghampiri tempat itu.
"ada apa" tanya pria itu
"pelanggan ini belum mau aku antar kekamarnya" jawab pelayan
"ada yang bisa aku bantu tuan" tanya pria itu pada Chuan
"aku menunggu gadis kecil yang menerimaku" ucap Chuan
Tanpa basa basi, pria tua lalu menuju meja penerimaan tamu dan mengambil sebuah buku. Dan kembali kehadapan Chuan.
"Tuan Chuan, dua hari kamar vip lunas" ucap pria itu
"iya" jawab Chuan
"pengantar Lin Qie" ucap pria itu membaca buku tamu
"yang menerimaku disini seorang gadis kecil, bukan dia" ucap Rouyan menyela
"apa apaan ini" bentak pria tersebut pada Lin Qie
"maaf tuan" ucap Lin Qie gemetar
"pulang dan istirahat dulu seminggu dirumah" ucap pria itu tegas
Dengan raut masam dan memerah karena marah, Lin Qie lalu beranjak keluar dari penginapan.
"maaf Tuan Chuan biar aku panggilkan dia" ucap pria tersebut. Chuan hanya mengangguk dan tersenyum melihat kejadian tersebut.
Tak lama menunggu, gadis pelayan yang tadi datang dengan tergesa gesa.
"maaf tuan, tiba tiba aku dapat tugas didapur" ucapnya dengan napas ngos ngosan.
"tak apa, tolong tunjukkan kamarnya" ucap Chuan dengan santai
"baik silahkan, tuan" ucapnya lalu memimpin jalan.
Setelah sedikit percakapan didepan kamar, gadis itu pamit untuk menyiapkan makan malam. Sedang Chuan dan Rouyan bergegas untuk masuk kamar dan menguncinya
"ada apa paman" tanya Chuan
"cucuku sudah bangun dan ingin bertemu denganmu" ucap Rouyan sambil mengeluarkan seekor rubah putih dengan garis emas dikepalanya. Rubah itu lalu melompat keatas meja. Tatapannya melekat pada Chuan yang sedang duduk santai.
"terima kasih atas bantuannya" ucap rubah putih
"hehehe tak perlu berterima kasih, ini hanya bantuan kecil" ucap Chuan
"oohhhh" guman rubah putih lalu menatap Rouyan.
"bantu kakek dan saudara Chuan dengan kau berkultivasi" ucap Rouyan lalu menjelaskan. Saat ini mereka ada di ibukota doucan. Kalau ada yang merasakan kehadiranmu, itu akan menghambat perjalanan kami. Sebentar lagi mereka akan membantu kaisar, untuk memgobati putranya
"iya kek" ucap rubah putih lalu menoleh ke Chuan
"ini hadiah pertemuan kita" ucap Chuan sambil mengulurkan tangannya. Terlihat apel emas dan anggur darah ditelapak tangan Chuan. Dengan mata berbinar dia ragu meraih buah itu.
"ambillah dan kembali berkultivasi, auramu mulai menyebar diruangan ini" ucap Rouyan mengingatkan
"terima kasih, aku pasti akan membalasnya" ucap rubah putih sambil meraih buah ditangan Chuan.
"cepat ada yang datang" ucap Rouyan lalu menyapu rubah putih dan buah yang dimeja, masuk ke cincin ruangnya.
Kemudian hembusan angin sepoi pelan menyapu kamar tersebut. Gulungan angin panjang yang lembut berkumpul ditengah kamar.
"buka jendela" bisik Rouyan pada Chuan. Yang segera membuka jendela kamar. Aura rubah putih yang terkumpul dialiran udara sepoi sepoi melonjak keluar jendela saat Rouyan menunjukkan jarinya kearah luar. Chuan dengan pelan menutup kembali jendela itu.
"tok, tok" terdengar pintu diketuk dari luar. Chuan dengan lembut melayang ketempat tidur, sedang Rouyan menuju pintu kamar.
"ada yang bisa dibantu" ucap Rouyan saat melihat tiga orang didepan pintu. Pria gendut yang ditemuinya dibawah, dan dua pria tua berjubah abu abu dengan token tetua sekte pedang langit didada kanannya.
"maaf mengganggu, dua tetua ini merasakan ada aura aneh diatas kamar ini" ucap pria gendut.
"oohhh, apa masih ada tuan" tanya Rouyan dengan raut takut terukir.
"apa kamu tidak merasakan" tanya seorang pria tua
"maaf tuan, aku dari tadi melamun, karena tuan mudaku sedang tidur" jawab Rouyan memperlihatkan seakan salah tingkah.
"tak apa, sebaiknya jangan lengah saat menemani tuanmu" lanjut pria tua
"terima kasih atas pengingatnya" ucap Rouyan sambil menangkupkan tangannya.
"baiklah, maaf mengganggu" ucap pria tua lalu berpamitan.
"tak apa apa" balas Rouyan sambil tersenyum