Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Pancaran Energi


"nenek dan bibi tidur dikamar saja" kata chuan pada mereka, saat anak anak pergi kekamar dan mulai ramai karena saling usil diantara mereka.


"kamu tidak apa apa tidur disini" ucap chufei sedikit tidak enak hati.


"tak apalah bibi" jawab chuan. "kan ada yang menemani kak chuan, hehehe" terlihat ninie membawa selimutnya keruang depan.


"ada apa nie" tanya chuan "ninie juga tidur disini, katanya boleh" jawabnya.


"aku juga" telihat sepuluh anak lainnya datang.


"hehehe" chuan hanya tersenyum sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"sudah kalian tidur dulu, biar kak chuan yang menjaga" ucap chuan diikuti oleh anak anak yang mulai merebahkan tubuhnya. Mereka berjajar saling berhimpitan.


Tak lama anak anak mulai tenggelam dialam mimpinya.


"fei, ayo kita juga istirahat" ajak nenek hong.


"kami istirahat dulu" ucap chufei. "


iya" jawab chuan.


Setelah suasana sepi, chuan mulai meditasi dan masuk keruang jiwanya.


"kenapa guru" tanya chuan saat melihat patriak lion selesai bermeditasi.


"ada gelombang energi dihutan kecil tempat anak anak mencari kayu bakar" jawab patriak lion.


"rencananya besok anak anak mau tak ajak kesana, jadi kita bisa sambil menyelidikinya" ucap chuan.


"bagus kalau begitu, itu energi positif tapi sepertinya ada yang menghalanginya supaya tidak menyebar" jelas patriak lion. Untuk pendekar tahap langit bisa merasakan gelombang itu.


Sementara ini patriak lion minta chuan untuk mengabaikannya. Nanti saat renovasi dan anak anak itu aman dipenginapan, baru chuan coba menyusuri hutan itu.


Seandainya gelombang energi menyebar, usahakan anak anak tersebut tidak diincar para pendekar. Setelah menjelaskan beberapa hal, kemudian patriak lion mulai membimbing chuan.


Semakin mendalam bimbingan yang patriak lion berikan. Teknik benteng jiwa diajarkan kepada chuan sudah pada tingkat akhir. Menurut patriak lion hanya teknik tersebut yang akan diajarkannya.


Patriak lion tidak mengajarkan teknik serangan jiwa. Karena bisa memicu sifat sombongnya.


Malampun berlalu, chuan bangun dari meditasinya. Sang mentari masih malu untuk keluar. Terdengar kesibukan nenek hong dan chufei didapur, dihiasi cerita dan candaan mereka. Sedang anak anak masih tenggelam dalam mimpinya.


Tanpa menyapa dua orang yang lagi sibuk didapur, chuan keluar dari rumah. Dia melesat menuju hutan kecil dimana anak anak akan dilatihnya.


Sampai dilokasi, dengan teliti dia memantau keadaan. Tak mau terjadi suatu hal yang mengancam keselamatan anak anak. Dengan ilmu naga api, dia membakar semak selebar sepuluh meter melintang panjang.


Sejauh satu kilometer dia berhenti, karena ada sungai selebar sepuluh meter melintang didepannya.


"ada apa dengan sungai ini" batin chuan.


"energi yang kuat berasal dari dasar sungai" tiba tiba terdengar patriak lion dipikiran chuan.


"aku akan melihatnya guru" ucap chuan.


"hati hati" ucap patriak lion. "baik guru" jawab chuan, lalu melompat terjun kesungai.


Ternyata dalamnya ada lima meter, kalau anak anak bermain disini pasti tenggelam. Qi yang chuan alirkan diseluruh tubuh, membantunya melawan tekanan arus yang cukup deras.


Tajamnya mata chuan dapat melihat beberapa ikan besar mengikuti arus air sungai. Sedang ditepi yang berarus tidak terlalu deras banyak ikan berbagai ukuran terlihat.


Lalu dia menyelam sampai dasar sungai. Dirasakannya fluktuasi energi yang cukup kuat disatu titik.


"jangan sekarang chuan" kata patriak lion saat chuan mulai mengeluarkan tongkat hitam dari cincin naga.


"maaf guru" ucap chuan sadar.


Kalau dia memaksa menggali dasar sungai, pancaran energi yang belum diketahui asalnya tersebut akan bisa memicu datangnya para pendekar klan chu.


"sebaiknya kembali dulu, yang penting daerah ini aman untuk anak anak berlatih" ucap patriak lion.


"baik guru" jawab chuan. lalu berenang ketepi sungai.


Setelah melompat kedaratan, dia kemudian mematahkan dahan pohon yang agak besar. Dengan cepat dia membersihkan bekas semak semak yang dibakarnya.