Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
# Rencana Meninggalkan Sekte


Chuan dan rombongannya mulai melesat kembali kehutan suci. Komandan Xhuan dan dua wakilnya juga tergabung didalamnya. Sambil terus berbincang ringan mereka menerobos gelapnya malam.


Saat pagi menjelang, Chuan dan yang lain telah sampai. Semua tetua keluar menyambutnya dan penasaran dengan berita yang akan mereka dapat. Chuan mengajak mereka semua berkumpul didojo agar suasananya lebih santai.


Dan untuk membuat semua anggota sekte tenang, Chuan juga meminta Teikong dan yang lain bercerita. Mendapat kepercayaan untuk menyampaikan hasil dari perjalanan mereka, Teikong dan yang lain bersemangat.


Dengan senang hati dan saling melengkapi mereka menceritakan apa yang terjadi saat perjalanan mereka. Semua orang yang mendengarkan cerita Teikong dan yang lain terlihat bergembira.


Sementara itu, Chuan mengajak Komandan Xhuan kerumah Tetua Gun. Karena Tetua Gun menempati rumah Chuan, jadi rumah Tetua Gun dijadikan tempat penerimaan tamu.


Dengan santai mereka berempat membicarakan maksud Komandan Xhuan dan dua wakilnya. Mereka bertiga mewakili pangeran untuk meminta bantuan Chuan.


Saat mereka berangkat kesekte hutan suci, kondisi pangeran tetap belum stabil meskipun Patriak Wang membantunya. Berbagai informasi disampaikan oleh ketiganya.


Beberapa pertanyaan Chuan tentang pangeran dan situasinya dijawab tanpa ada yang disembunyikan. Sang pangeran adalah anak pertama permaisuri. Permaisuri mempunyai seorang putra dan dua orang putri.


Tetapi kalau diurutkan dengan putra kaisar yang dari selirnya, sang pangeran adalah putra kelima. Ada gejolak tersembunyi didalam kekaisaran. Karena sang pangeran mendapat dukungan dari pasukan khusus dan pasukan telik sandi, membuat posisinya cukup aman menyandang gelar pangeran mahkota.


Mendapat banyak lagi gambaran tentang situasi dilingkup kekaisaran. Rasa penasaran Chuan tergugah.


"baiklah aku akan melihat kondisi pangeran dan kita bisa berangkat dalam beberapa hari lagi" ucap Chuan.


"kita akan menunggu disini" ucap Komandan Xhuan.


"mari kita kedojo untuk berbincang dengan yang lain" ajak Chuan.


Mereka berempat keluar dan berjalan menuju dojo. Siang itu semuanya belum beraktifitas. Mereka menunggu Chuan, karena mau menyampaikan kedatangan para murid Tetua Shusin.


Suasana sekte hutan suci kian hari semakin hidup. Para murid yang tiap tahun bertambah. Dengan tetap mengedepankan kekeluargaan dalam setiap aspek. Membuat semua keluarga besar sekte hutan suci tetap dalam solidaritas yang tinggi.


Bahkan pernah beberapa murid terpaksa dipulangkan. Karena mempunyai sifat yang suka memecah belah murid yang lain. Juga ada yang disebabkan karena kesombongannya.


Sampai didojo, Tetua Tian langsung menyampaikan tentang kedatangan para murid Tetua Shusin. Chuan yang masih familiar dengan wajah wajah mereka, sambil tersenyum mengucapkan terimakasih akan bantuan yang diberikan.


Setelah dirasa cukup berbincangnya, mereka membubarkan diri untuk mulai beraktifitas. Para tetua, wakilnya dan keamanan sekte diminta Chuan untuk tetap ditempat.


Tanda pengenal untuk anggota sekte, adalah hal pertama yang ditanyakan Chuan pada Teikong. Tetua Tian langsung menyerahkan token emas yang khusus dibuat untuk Chuan. Dan menyampaikan kalau untuk yang lain sudah dibagikan.


Kemudian Tetua Gun ditanya tentang pengembangan kebun obatnya. Mendapat pertanyaan itu, Tetua Gun langsung menjambarkan idenya. Dia langsung minta ijin untuk mengembangkan diarea hutan yang masih dilestarikan.


Mendengar ide tersebut Chuan menyetujuinya. Disisi tepi hutan segera dilakukan penjarangan pohon. Tapi pengerjaannya jangan mengganggu pembuatan pagar batu yang mulai berjalan.


Sebelum melaksanakan hal tersebut. Tetua Gun dan lima tetua yang serius mendalami pembuatan pil diminta Chuan untuk melakukan perjalanan ke ibukota kekaisaran. Mereka harus meningkatkan token pembuat pil tingkat duanya.


Wakil Komandan Xiao langsung menawarkan diri untuk menemani perjalanan para tetua. Tetua Gun dengan senang hati menjadwalkan tiga hari lagi keberangkatan mereka.


Setelah dirasa cukup, Chuan lalu menyampaikan niatnya untuk melanjutkan perjalannannya dalam mencari pengalaman di benua yang lain. Setelah dia meninggalkan sekte, semua pengaturan diserahkan pada Tetua Tian.


Mendengar rencana kepergiaannya, semua yang hadir menunjukkan wajah muram. Semangat dan keceriaan sebelumnya seakan sirna.


Chuan lalu menjelaskan kalau tugas pertamanya membangun kembali sekte dari gurunya Tetua Tian sudah tercapai. Selanjutnya dia akan membantu kesembuhan pangeran mahkota.


Setelah itu dia juga berjanji untuk melakukan perjalanan dengan seseorang, yang tidak Chuan sebutkan identitasnya.


Mendengar ada kepentingan tertentu dalam perjalanan Chuan, semua yang hadir akhirnya memakluminya. Mereka mengucapkan doa untuk keselamatannya.


Saat siang tengah teriknya, mereka semua menyudahi pertemuan tersebut. Tetua Tian mengajak Komandan Xhuan dan wakilnya melihat suasana sekte. Sedang Chuan segera melesat pergi keluar.


Siang telah berganti malam. Chuan yang meninggalkan hutan suci telah tiba dipusat klan tian. Menyusuri gang kecil, dia menuju sebuah rumah diujung gang tersebut.


"Paman Rouyan" teriak Chuan pelan sambil mengetuk rumah tersebut.


"Chuan,,," ucap Ruoyan sambil membuka pintu. Dia terkejut akan kedatang Chuan yang tiba tiba.


Dengan senang hati dia mempersilahkan Chuan masuk.


"maaf, kami belum bisa berkunjung kesektemu" ucap Rouyan setelah mereka berdua duduk.


"tak apa paman, aku hanya menanyakan tentang perbincangan kita waktu itu" ucap Chuan.


Rouyan langsung termenung mendengar ucapan Chuan.


"ada apa paman" ucap Chuan bingung dengan perubahan itu.


"kehendak dewa tak seperti yang kita pikirkan" ucapnya lalu menjelaskan.


Cucunya hingga saat ini belum bisa berubah menjadi manusia. Dia masih menjadi rubah putih dengan garis emas dikepalanya. Meskipun tahapannya sudah ditahap suci, dia hanya bisa berbicara seperti manusia.


Rouyan menempatkan cucunya dicincin dimensi khusus yang dia pakai. Namun saat ini masih tertidur karena menyerap energi pil yang Chuan berikan. Dia juga berharap Chuan tidak keberatan kalau melakukan perjalanan dengannya.


"tak masalah kalau paman mau melakukan perjalanan denganku" jelas Chuan sambil tersenyum. Chuan menjelaskan permintaan sang pangeran yang sedang mengalami kecelakaan dalam kultivasinya.


Setelah mendengar penjelasan Chuan, Rouyan langsung permisi untuk berkemas. Tak lama dia keluar dari kamarnya dengan semangat yang baru.


"aku sudah siap" ucapnya


"baiklah, kita berangkat sekarang" ucap Chuan sambil tersenyum.