Pendekar Hitam

Pendekar Hitam
#Tahan Emosinya


Sembilan orang berpakaian hitam dengan hati hati menyembunyikan diri. Memang agak jauh dari tempat pertemuan yang dimaksud. Meskipun menggunakan ilmu bayangan naga, mereka semua tidak mau gegabah.


Diatas panggung yang telah disiapkan, seorang pendekar langit bersama putra kedua walikota berdiri berdampingan. Dengan lantang dia berkata, akan menguasai kota pada malam ini. Siapapun yang menghalangi lumpuhkan saja. Bahkan kalau melawan jangan segan untuk membunuhnya.


Ditempat persembunyian Chuan, dirasakan emosi yang hampir meledak pada Tetua Tian dan yang lain.


"tahan emosinya tetua" ucap Chuan pelan.


"itu patriak sekte pasir darah, dia yang telah membantai murid tabib dewa" ucap Tetua Tian,


"dan dia juga yang menghancurkan dentianku" lanjutnya.


"tapi tahan sebentar tetua" ucap Chuan.


"apakah kalian semua siap" terdengar suara diatas panggung memompa semangat anggotanya.


"siap" teriakan menggema, dan terlihat dibawah panggung semua anggota mengacungkan pedang masing masing. "baiklah, tunggu para tetua yang lain siap" ucapnya lagi.


"tetap mengeluarkan ilmu bayangan naga, lepaskan tahapan para tetua, sebelum mereka bergerak kita akan mendahului" ucap Chuan sambil mengeluarkan tongkat bintangnya. Selain Tetua Tian, yang lain mengeluarkan pedang tumpul. Chuan lalu menyerahkan tongkat hitam pada tetua Tian.


"guru" ucapnya saat menerima tongkat itu.


"kendalikan emosinya tetua" ucap Chuan. Semua tetua telah siap dengan ilmu pedang naga dan senjata mereka sudah teraliri qi masing masing. Saat mendengar mereka terus memompa semangat.


"sekarang" teriak Chuan sambil melesat diikuti para tetua. "hiatttt" teriak Chuan saat menerjang barisan para anggota. Sembilan orang itu terus merangsek menuju arah panggung. Puluhan anggota sekte pasir darah tergeletak tak bangun lagi. Terdapat juga seratus lebih yang patah tangan atau kakinya.


Tongkat dan pedang tumpul tidak membuat kepala mereka melayang. Namun kepala mereka yang retak sudah cukup mengantar pulang nyawanya.


"bangs** kalian" terdengar teriakan dari atas panggung. Enam pendekar bumi dan langit melepaskan tahapan mereka.


Chuan yang didepan tidak terpengaruh oleh tekanan mereka. Tanpa basa basi Chuan melesatkan serangannya ilmu membelah samudra dan pedang naga dikombinasikannya, menghadapi seorang pendekar langit. Yang lain telah mendapatkan lawan masing masing.


Tetua Gun menangkap anak kedua walikota dan menghancurkan dentiannya. Dibiarkan dia meringkuk ditepi panggung sambil menahan sakit yang hampir membuatnya pingsan. Sedang para anggota dibawah panggung bingung sendiri.


"segeralah diselesaikan, aku tinggal dulu tetua" teriak Chuan segera meninggalkan tempat tersebut. Tetua Tian hanya tersenyum mendengar teriakan Chuan. Dengan tetap santai dia mempermainkan lawannya. Sedang lima tetua lainnya masih serius karena lawan yang seimbang.


Teriakan Chuan juga memicu para tetua sekte utama menggerakkan murid muridnya, dan pasukan keamanan.


Keributan dibawah panggung tidak berlangsung lama. Para anggota sekte pasir darah kehilangan koordinasi mereka. Banyak diantara mereka yang menyerah, namun tak sedikit yang memilih bertarung sampai mati.


Chuan yang pergi lebih dahulu telah kembali kerumah. Yang sebelumnya dia menyempatkan diri mandi disungai. Teysan dan teman temannya bingung saat Chuan pulang sendiri.


"dimana para tetua" tanya Teysan.


"mereka masih bertarung lagian mereka bukan lawanku, jadi aku melarikan diri, hahaha" ucap Chuan santai.


"kau ini bagaimana" ucap teysan bingung.


"mereka dimana" lanjutnya.


"dibelakang rumah istri kedua walikota" ucap Chuan.


"kalau begitu biar kami yang kesana" lanjut Teysan.


"kalian mau kemana" ucap Tetua Tian yang tiba tiba datang.


"ka kata Chuan" ucap teysan terbata bata


"para tetua mandi dulu disungai" ucap Chuan.


"baiklah" balas mereka lalu melesat pergi.


"sudahlah, sesuatu hal jangan ditanggapi dengan tergesa gesa" ucap Chuan membuat mereka terdiam.